InjMg 12 Jan 2014 (Pembaptisan Tuhan – Matius 3:13-17)

InjMg 12 Jan 2014 (Pembaptisan Tuhan – Matius 3:13-17)

Rekan-rekan!
Pada perayaan Pembaptisan Yesus hari Minggu 12 Jan 2014 ini dibacakan Mat 3:13-17; Yes 42:1-4.6-7. Kejadian ini dikisahkan oleh Matius, Markus, Lukas (Mat 3:13-17 Mrk 1:9-11 Luk 3:21-22) dan secara tak langsung juga oleh Yohanes (Yoh 1:32-34). Meskipun masing-masing Injil menyampaikannya dengan penekanan dan kekhususan masing-masing, ada unsur yang sama. Seperti orang banyak, Yesus datang mengikuti seruan Pembaptis untuk dibaptis sebagai tanda bertobat – menyatakan diri mau menjauhi hal-hal yang bisa menghalangi kehadiran Yang Ilahi sendiri. Inilah yang disampaikan Injil.

YESUS DATANG IKUT DIBAPTIS
Markus memberi laporan yang paling awal dan paling ringkas (Mrk 1:9-11). Di situ terdapat tiga hal (i) Yesus dibaptis oleh Yohanes di Yordan, (ii) sewaktu keluar dari air ia melihat langit terbelah dan Roh turun kepadanya seperti burung merpati, artinya, kekuatan surga yang dahsyat itu kini tampil dalam ujud yang lembut, (iii) saat itu juga ada suara dari langit yang mengatakan, “Engkau anakKu yang terkasih, kepadamulah Aku berkenan”. Dalam peristiwa ini diperkenalkan siapa Yesus itu kepada umat manusia. Injil Matius dan Lukas menyampaikan kembali bahan Markus ini dan menerapkannya bagi pendengar mereka masing-masing.

Di samping mengutarakan kembali ketiga hal yang dilaporkan Markus tadi, Matius (Mat 3:13-17) menambahkan percakapan antara Yohanes Pembaptis dan Yesus (ay. 14-15). Yohanes mengatakan bahwa dirinyalah yang semestinya dibaptis oleh Yesus. Namun Yesus menjawab semua ini terjadi untuk menggenapkan kehendak Allah. Percakapan ini ditampilkan Matius untuk menjernihkan pertanyaan apakah Yohanes lebih besar daripada Yesus. Hal ini sebetulnya sudah terungkap oleh Yohanes dalam Mat 3:11-12 (Mrk 1:7-8 Luk 3:15-17 bdk. Yoh 1:29-34), yakni bahwa yang akan datang itu lebih besar dari pada Yohanes sendiri. Selain hal itu, kata-kata yang terdengar dari langit yang menurut Markus (dan Lukas) diucapkan langsung kepada Yesus, dalam Matius tampil sebagai yang berupa pernyataan tentang Yesus. Hal ini akan dibicarakan lebih jauh di bawah.

Lukas (Luk 3:21-22) menceritakan kembali ketiga hal yang disampaikan Markus, tetapi ia menambahkan bahwa Yesus dibaptis setelah semua orang lain menerima baptisan. Dengan cara ini kiranya Lukas hendak menanggapi pertanyaan apakah yang terjadi pada Yesus itu sama seperti yang terjadi pada diri orang-orang lain. Dengan menyebutkan bahwa peristiwa itu terjadi setelah mereka dibaptis, Lukas hendak menyarankan bahwa ada yang khas pada baptisan Yesus. Kedatangan Roh dan terdengarnya sabda ilahi membuat peristiwa ini berbeda. Selain itu, Lukas juga menyebutkan bahwa Yesus sedang berdoa ketika langit terbuka.

Bagi generasi selanjutnya, permasalahan yang dihadapi Matius dan Lukas itu tidak lagi hangat dan orang mulai melihat baptisan Yesus sebagai ungkapan rasa sepenanggungan dengan orang-orang yang hati nuraninya tersentuh oleh ajakan Yohanes Pembaptis.

Konteks kisah Yesus dibaptis ini ialah ajakan Yohanes Pembaptis kepada orang banyak untuk bertobat, untuk berganti haluan hidup, sehingga mendapat penghapusan dosa. Penghapusan dosa di sini berarti memperoleh kembali kemerdekaan batin yang bakal membuat orang bisa berbesar hati. Banyak orang yang mengikuti seruan Yohanes itu. Suatu saat datang pula Yesus dan ikut dibaptis. Dalam peristiwa itu langit terbelah, Roh Kudus turun, dan terdengar sabda ilahi mengatakan Yesus itu putra terkasih, ia mendapat perkenan dari atas. Bila dibaca dalam konteks peristiwa pembaptisan orang banyak, peristiwa pembaptisan Yesus ini memperlihatkan datangnya kekuatan ilahi bersama “anak yang terkasih” ini untuk menyertai perjalanan orang-orang yang telah menyatakan kesediaan untuk berganti haluan tadi. Inilah yang dimaksud dengan “agar kehendak Allah digenapkan” (Mat 3:15). Yesus ini orang yang sedemikian dekat dengan kehadiran ilahi sendiri sehingga menurut kata-kata Markus, “Ia melihat” langit terbuka dan Roh Allah turun.

HIDUP BARU DALAM ROH
Pada zaman Yesus baptisan yang lazim dikenal ialah baptisan Yohanes Pembaptis. Namun, yang dilakukan Yohanes sebetulnya bukan barang baru pada waktu itu. Praktek membaptis sudah dikenal para rahib di Qumran. Juga kelompok-kelompok orang saleh waktu itu menyatakan niat pembaharuan hidup mereka dengan baptisan. Seperti dapat disimpulkan dari Yoh 3:22-23, nanti Yesus membaptis orang seperti Yohanes juga. Dan sewaktu masih ada bersama Yesus, murid-muridnya pun memberikan baptisan (lihat Yoh 4:2), tentunya menurut baptisan Yohanes juga. Baru setelah peristiwa kebangkitan, baptisan di kalangan pengikut Yesus menjadi lebih khas. Ini tercermin dalam ajakan agar murid-murid membaptis dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus (Mat 28:19). Dalam tradisi Kisah Para Rasul, baptisan dijalankan dalam nama Yesus (Kis 8:16; 10:48; 19:5) dalam arti orang menggabungkan diri dengan pengikut-pengikut Yesus. Karena Yesus tidak lagi ada bersama mereka secara badaniah, maka baptisan ini disebut baptisan dalam Rohnya, yakni Roh Kudus (Kis 1:5; 11:16) yang membawakan hidup baru, sama seperti yang diperoleh Yesus sendiri (Kis 10:37-38).

Yohanes Pembaptis menegaskan bahwa ia membaptis dengan air, sedangkan yang akan datang nanti akan membaptis dengan Roh dan api (Mat 3:11 Mrk 1:8 Luk 3:16 . bdk. Yoh 1:33). Air membersihkan. Tetapi air hanya membersihkan bagian luar. Api memurnikan luar dalam. Api dapat mengubah secara utuh. Ini bahasa kiasan. Cara penyampaian seperti itu menolong kita mengerti bahwa baptisan dengan Roh artinya diberi kemungkinan menempuh hidup baru dengan bimbingan dan kekuatan dari Tuhan sendiri.

“INILAH ANAKKU YANG TERKASIH….”
Markus dan Lukas (Mrk 1:11 Luk 3:22) menyampaikan kembali kata-kata yang terdengar dari langit sebagai, “Engkaulah anak-Ku yang terkasih, kepadamulah Aku berkenan.” Jadi yang disapa dengan kata-kata itu ialah Yesus sendiri. Markus mencatat dalam Mrk 1:10, ketika keluar dari air, setelah dibaptis, Yesus langsung “melihat langit terkoyak …” Lukas menyampaikan kata-kata dari langit tadi setelah menyebut bahwa Yesus juga dibaptis dan “sedang berdoa ….” Kedua Injil ini memang hendak menekankan pengalaman batin Yesus ketika menerima baptisan itu. Pengalaman batin mendapati diri sebagai orang yang disapa sebagai “anak terkasih” oleh Dia yang ada di langit itu dimungkinkan oleh Roh Kudus yang turun ke atas Yesus. Ungkapan “anak terkasih” di situ berarti orang yang amat dekat, yang terpilih untuk menjalankan urusan-urusan Allah. Itulah maksud “kepadamu Aku berkenan”. Pengalaman batin ini kemudian menjadi kekuatan Yesus. Bagaimana dengan pemberitaan Matius?

Dalam Mat 3:17 didapati “Inilah anak-Ku yang terkasih, kepadanya Aku berkenan.” Jadi bukan sapaan ilahi kepada Yesus sebagaimana tercatat dalam Markus dan Lukas, melainkan sebuah pernyataan tentang dia. Matius kiranya bermaksud membuat yang dialami Yesus secara batin tadi akhirnya juga menjadi pengalaman semua yang hadir di situ, termasuk siapa saja yang menjadi pembaca Injilnya. Jadi ada pewartaan mengenai siapa Yesus itu kepada orang banyak. Dia itu orang yang amat dekat (“anak-Ku yang terkasih”) dengan Yang Ilahi dan mendapat perkenan dari-Nya untuk melakukan tindakan-tindakan di antara manusia atas nama-Nya.

Matius juga mendekatkan pengalaman batin Yesus kepada semua orang. Orang banyak dapat ikut serta di dalam pengalaman yang paling batin sekalipun. Bagaimana? Tentu saja bila ikut memperoleh Roh seperti Yesus sendiri. Dikatakan dalam Mat 3:17 (juga dalam Mrk 1:10 Luk 3:22), “Roh Allah seperti burung merpati turun ke atasnya.” Roh yang bisa tampil sebagai api yang membakar itu kini tampil sebagai yang lemah lembut. Tetapi daya-Nya tetap sama. Dan kekuatan yang turun ke atas Yesus dalam ujud yang lembut itu akan menjadi juga baptisan bagi orang banyak. Yohanes Pembaptis sendiri telah pernah mengatakan hal ini ketika menegaskan bahwa dia yang akan datang itu akan membaptis dengan Roh dan api (lihat Mat 3:11 Mrk 1:8 Luk 3:16 Yoh 1:33).

TENTANG BACAAN PERTAMA (Yes 42:1-4.6-7)
Bagian pertama, yakni ay. 1-4, dikenal sebagai kidung pertama mengenai Hamba Tuhan. (Ada tiga kidung serupa dalam kitab Yesaya, yakni 49:1-6, 50:4-11; 52:13-53:12). Digambarkan siapa seorang tokoh yang dipilih Yang Mahakuasa sendiri untuk “menyatakan/menegakkan hukum” di bumi (ay. 1). Maklum, “hukum” yang dimaksud di sini memang belum nyata ada dan belum dikenal baik. Justru kehidupan serta tindakan hamba terpilih inilah yang memungkinkan orang mengenalinya. Demi tujuan itulah tokoh tadi mendapat perkenan dari atas –  dicurahi Roh-Nya. Dalam dunia Perjanjian Lama, biasanya “dicurahi Roh Tuhan” terjadi pada seorang tokoh yang ditugasi membela umat terhadap bangsa-bangsa penindas, seperti para pemimpin perang dalam kitab Hakim-Hakim. Namun dalam teks kali ini justru ditekankan sisi lain kehidupan tokoh hamba Tuhan ini. Ia tidak akan menggembar-gemborkan penugasannya (ay. 2: Ia tidak akan berteriak atau mengeraskan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan). Ia tidak akan memakai kekerasan (ay. 3: Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya). Begitulah cara bertindak sang hamba pilihan Tuhan ini. Dan lebih lagi ia akan tahan uji, tidak membiarkan diri patah atau pudar hingga terlaksana tugasnya: membuat umat manusia sungguh mengenali hukum yang datang dari atas, membuat orang mengenal gerak-gerik kekuatan ilahi di dunia ini. Inilah yang ditandaskan kembali dalam ay. 6-7. Sang hamba akan menjadi “perjanjian” bagi umat manusia, maksudnya, menjadi jalan bertemu Yang Ilahi dan yang manusiawi. Dan bila terjadi maka kehidupan hamba itu menjadi terang yang menuntun semua orang ke sana. Para pengikut Yesus sudah sejak awal menerapkan gagasan ini kepadanya sebagaimana dapat dilacak kembali dari kisah peristiwa pembaptisan dalam Injil yang diulas di muka.

WARTA BAGI ZAMAN INI?
Apa yang bisa dipetik dari Injil mengenai pembaptisan Yesus tadi? Di muka dikatakan bahwa Yesus datang seperti orang banyak untuk menerima baptisan tobat, tetapi dalam kesempatan itu bukan hanya kesediaan memberi ruang gerak bagi Roh Allah yang menjadi nyata, melainkan juga kehadiran kekuatan ilahi sendiri. Kesediaannya berbagi kehidupan dengan orang banyak, dengan ikut merasakan kegelisahan, siap mengambil bagian dalam kerisauan orang banyak dalam menantikan kedatangan yang dijanjikan – itulah yang membuatnya dipenuhi Roh, menjadikannya orang yang amat dekat dengan Yang Ilahi sendiri dan diserahi tugas menghadirkan-Nya kepada siapa saja. Kesediaannya berbagi keprihatinan dengan orang banyak itu menjadi jalan bagi Yang Ilahi untuk hadir di tengah-tengah manusia. Yang Mahakuasa tidak meninggalkan kemanusiaan yang gelisah, yang menderita, yang mengalami kesusahan. Dan sekarang ini juga Yang Ilahi masih bisa hadir menghibur dan menolong yang menderita lewat kesediaan orang-orang yang mempedulikan keadaan mereka.

Salam hangat,
A. Gianto

InjMgAdven 14/A 22 Des 2013 (Mat 1:18-24)

InjMgAdven 14/A 22 Des 2013 (Mat 1:18-24)

TUHAN SUNGGUH MENYERTAI KITA!

Bacaan Injil Minggu terakhir pada Masa Adven tahun ini (Mat 1:18-24) menyampaikan sebuah tradisi mengenai kelahiran Yesus dari sudut pandang Yusuf, yang di dalam silsilah sebelum bacaan ini disebut sebagai “suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus” (Mat 1:16).

Disebutkan dalam Mat 1:18 dan 20 bahwa Maria mengandung dari Roh Kudus sebelum hidup sebagai suami istri dengan Yusuf. Dalam adat-istiadat Yahudi, sejak usia remaja seorang gadis sudah dipertunangkan dengan calon suaminya jauh-jauh sebelum pernikahan, yang baru terjadi setelah kedua-duanya siap membangun rumah tangga yang mandiri. Ikatan ini dapat dibatalkan karena macam-macam alasan. Salah satunya ialah bila calon istri didapati mengandung sebelum pernikahan. Menurut hukum, bakal suami wajib membatalkan ikatan pertunangan tadi. Demikian pihak perempuan akan merdeka dan dapat diperistri orang lain secara sah. Kerap terjadi, perempuan yang bersangkutan tidak dimaui siapapun dan akan mendapat aib. Yusuf tidak hendak menyusahkan Maria, tapi tetap mau menaati hukum tadi. Maka ia bermaksud membatalkan pertunangannya dengan Maria secara “diam-diam”, artinya, di hadapan dua saksi tetapi tanpa mengumumkannya. Dengan demikian pembatalan itu akan sah menurut hukum tetapi tidak mendatangkan aib bagi Maria. Sebelum niatan ini dijalankan, terjadilah sesuatu yang luar biasa. Dalam sebuah mimpi (ay. 20-21) malaikat Tuhan datang dan mengatakan kepada Yusuf agar jangan takut mengambil Maria sebagai istrinya. Malaikat itu menjelaskan bahwa anak yang dikandung Maria itu berasal dari Roh Kudus. Jadi kandungan itu bukan dari manusia dan Yusuf tak usah merasa terikat pada kewajiban mengikuti hukum adat. Selanjutnya diberitahukan bahwa anak tadi hendaknya diberi nama Yesus, artinya “Tuhan itu keselamatan”. Yusuf pun melakukan yang diperintahkan kepadanya oleh sang malaikat.

PENJELASAN MATIUS

Bagi umat Matius dan umat awal, kelahiran Yesus itu jelas bukan kejadian lumrah. Yesus dikandung dari Roh Kudus tetapi dilahirkan secara manusiawi oleh Maria dan dibesarkan oleh Yusuf. Matius memberikan penjelasan kejadian yang tidak biasa ini lewat kata-kata malaikat dalam mimpi Yusuf tadi. Dalam ay. 22 ditambahkan, semua yang dikatakan malaikat tadi menggenapkan nubuat nabi Yesaya 7:14 yang menyebutkan bahwa seorang anak dara akan melahirkan anak lelaki yang dikenal dengan nama Imanuel, yang artinya “Tuhan menyertai kita”.

Teks Ibrani Yes 7:14 memakai kata yang maknanya ialah anak perempuan yang sudah dewasa, tapi belum menikah. Dalam teks Yunani, yakni teks yang dipakai Matius, kata itu diterjemahkan sebagai dengan sebuah kata yang artinya “perawan”. Perbedaan dalam terjemahan ini memang bahan menarik bagi telaah teks Kitab Suci, tapi tak usah dijadikan dasar perbincangan mengenai keperawanan Maria. Matius menulis Injilnya bagi mereka yang percaya bahwa Maria itu perawan yang mengandung dari Roh Kudus. Sebaiknya lebih dipahami bahwa yang ditekankan dalam kutipan dari Yes 7:14 itu ialah kelahiran sang “Imanuel”, yang artinya “Allah menyertai kita”. Ia tidak lagi membiarkan manusia sendirian. Dan mulai saat itu kehadiran “Imanuel” memang menyertai manusia sepanjang zaman. Nanti dalam penutupan Injil Matius (28:20) diperdengarkan kata-kata Yesus, “…ketahuilah, aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.”

Kisah kelahiran Yesus yang bukan kejadian biasa ini diceritakan juga oleh Lukas, tapi dengan penekanan yang berbeda. Bila Matius mencerminkan ingatan dari kalangan Yusuf, Lukas menceritakan kelahiran Yesus dari sudut pandang Maria. Namun intinya sama: anak itu dikandung dari Roh Kudus (Mat 1:20, Luk 1:35), Maria dan Yusuf bertunangan ( Mat 1:18, Luk 1:27), perintah agar anak yang lahir nanti dinamai Yesus (Mat 1:21 kepada Yusuf, Luk 1:31 kepada Maria), kelahiran Yesus di Betlehem (Mat 2:5, Luk 2:4), Yesus besar di Nazaret (Mat 2:23, Luk 1:51-52). Matius menampilkan perasaan Yusuf, pergulatan rohaninya, rasa hormatnya yang besar terhadap Yang Keramat yang mendatanginya. Juga ditonjolkan perhatian Yusuf terhadap Maria dan Yesus. Ia betul-betul menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai bapa keluarga ini.

Pembaca dari kalangan Yahudi yang menjadi pengikut Yesus dari generasi pertama menangkap maksud penekanan pada Yusuf tadi. Dalam adat keluarga Yahudi, pendidikan seorang anak sejak tidak lagi menyusu ibunya hingga akil balig pada usia 12-13 tahun menjadi tanggung jawab bapa keluarga. Begitulah kebesaran hati Yusuf, kepekaannya, kematangan imannya ikut membentuk pribadi Yesus. Pembaca Injil Matius mengerti apa artinya menjadi anak yang dibesarkan oleh orang seperti Yusuf itu. Juga menjadi jelas bahwa karya “Tuhan menyelamatkan umatNya” itu menjadi tepercaya justru karena memakai jalan manusiawi. Karya Roh Kudus, daya luar alam itu baru betul-betul bisa membawakan keselamatan bila tumbuh dan menjadi besar dalam lingkungan yang sungguh manusiawi. Inilah kiranya keyakinan iman orang-orang yang terungkap dalam kisah Matius tadi.

SIAPA TUJUAN WARTA INI

Sebetulnya kisah kelahiran dan masa kecil Yesus tidaklah mutlak perlu untuk menjelaskan karya, penderitaan, kebangkitan Yesus nanti. Injil yang paling awal, yakni Injil Markus, tidak memuat kisah itu. Begitu pula dalam Injil Yohanes tidak didapati kisah yang mirip. Bagi Yohanes jelas Firman yang mengawali segala sesuatu itu “telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita” (Yoh 1:14). Dan ini cukup guna mengungkapkan kehadiran Yang Ilahi dalam ujud manusia. Maklumlah, Injil Yohanes ditulis bagi orang-orang yang sudah paham akan karya penebusan yang dijalankan Yesus dan sudah maju jauh dalam pengetahuan hidup batin dan berhasrat maju terus. Injil Markus sebaliknya disiapkan sebagai pegangan ringkas bagi mereka yang baru mulai tertarik untuk mengenal siapa Yesus itu. Lalu, setelah tahap awal ini dilalui, apa yang terjadi? Orang tentu butuh pendalaman. Kepada mereka inilah Injil Matius dan Lukas ditulis. Penjelasannya begini. Orang yang sudah mulai kenal Yesus dan hidup menurut wartanya (“setelah mendengar Markus”), tentu ingin mengenal asal usul Yesus. Karena itulah Matius dan Lukas menuliskan tradisi mengenai kelahirannya.

Nanti mereka yang maju lebih jauh tidak butuh bertanya-tanya mengenai asal-usul badaniah dan peristiwa-peristiwa di seputar kelahiran dan masa kecil Yesus. Kepada mereka itulah Injil Yohanes berbicara. Ditekankan hubungan dengan Bapa. Diungkapkan pula keinginan Yesus untuk berbagi “sangkan paran”, berbagi kehidupan rohani yang sejati dengan orang-orang yang dikasihinya dan setia kepadanya. Tentu saja pengetahuan ini hanya dapat dicapai bukan dengan usaha sendiri, bukan pula oleh orang yang belum masuk dan mendalami sampai utuh. Kisah kelahiran Yesus dalam Matius mengarahkan orang ke sana.

MENYONGSONG HARI NATAL

Suasana menyongsong pesta Natal sudah terasa lama. Hiasan Natal terlihat di mana-mana. Kita saling berkirim kartu dan pesan Natal. Apakah orang-orang sekarang ini seperti umatnya Matius atau Lukas dulu, umat yang menjadi dewasa dan maju terus dan mau mendalami makna kehadiran Kristus di tengah-tengah umat manusia? Bila warta kisah kelahiran Yesus dimaksud untuk memajukan hidup rohani, apa masih ada relevansinya bagi kebanyakan orang pada zaman kita ini? Khususnya di bumi Indonesia?

Tetap berlaku ajakan untuk mulai mengenal lebih jauh siapa Yesus yang diikuti orang banyak, siapa dia yang diimani sepanjang zaman sebagai Penyelamat itu. Orang beriman bisa pula menjadi seperti Matius dan Lukas. Mereka mulai mencari tahu asal usul Yesus sehingga pengenalan mereka semakin dalam. Baik Lukas maupun Matius menekankan hadirnya daya ilahi (“Maria mengandung dari Roh Kudus”) dan penerimaan utuh dari pihak Maria dan Yusuf. Yang dilakukan Yusuf diungkapkan Matius dalam bacaan hari ini. Menerima karya ilahi dalam ujud yang amat mengguncang tadi menjadi ungkapan iman yang paling nyata. Yusuf itu orang yang bisa menerima kehadiran ilahi yang tidak lumrah sekalipun dan tetap menghormatinya. Bahkan ia memeliharanya dengan penuh perhatian. Ia memikirkan kepentingan Maria, tidak hanya mau meninggalkannya begitu saja. Kemudian ia juga berani mendengarkan Yang Keramat yang mengubah rencananya sama sekali. Ia bersedia menjadi orang yang bertanggung jawab membesarkan Yesus. Ringkasnya, Yusuf itu pribadi yang dapat dipercaya karena juga bisa mempercayai. Mendalami peristiwa kelahiran Yesus dalam terang Injil Matius itu merayakan kebesaran hati seorang manusia yang bukan saja memungkinkan karya Allah dapat mulai terjadi, tetapi juga yang memelihara dan membesarkannya. Dan semuanya ini terjadi dengan tak banyak kata. Orang beriman yang ingin maju menjadi pemerhati gerak-gerik Yang Ilahi tentu dapat belajar banyak dari Yusuf si pendiam itu.

Salam hangat,
A. Gianto

Injil Minggu Adven III/A 15 Desember 2013 (Mat 11:2-11)

Injil Minggu Adven III/A 15 Desember 2013 (Mat 11:2-11)

Rekan-rekan yang budiman!
Dalam Mat 11:2-11 diceritakan bagaimana Yohanes Pembaptis mengutus murid-muridnya kepada Yesus untuk memastikan apakah ia itu betul dia yang diwartakan bakal datang (ay. 2-3) dan jawaban Yesus (ay. 4-6). Selanjutnya, ketika murid-murid Yohanes telah pergi, Yesus berbicara kepada orang banyak mengenai Yohanes Pembaptis (ay. 7 dst.).

MENCARI TAHU – MEMASTIKAN – MENERIMA
Beberapa waktu sebelumnya, Yohanes Pembaptis ditangkap oleh Herodes Antipas (Mat 4:12). Ini perkara politik. Warta kenabian dan seruan pertobatannya Yohanes membuat guncangan di masyarakat dan dikhawatirkan akan membahayakan kedudukan Herodes di hadapan penguasa Romawi. Ada alasan lain. Yohanes pernah mengecam keras perkawinan Herodes dengan Herodias yang waktu itu masih bersuamikan saudara tiri Herodes sendiri (Mat 14:4; terlarang menurut Im 18:6). Di penjara Yohanes masih bisa menerima kunjungan murid-muridnya. Dari merekalah Yohanes mendengar tentang Yesus yang mulai dikenal di masyarakat.

Menurut Mat 3:11, Yohanes memaklumkan kedatangan dia yang lebih berkuasa daripadanya yang akan membaptis dengan Roh dan api sehingga orang dapat memasuki Kerajaan Surga setelah menerima baptisan tobat yang diserukannya. Tetapi belum jelas baginya siapa orangnya. Dalam pemaklumannya nama Yesus memang tidak disebut. Ketika Yesus datang kepadanya minta ikut dibaptis (ay. 13-15), Yohanes tentunya menduga bahwa dia inilah orangnya. Ada pengalaman rohani. Injil menggambarkannya dengan terdengarnya kata-kata dari langit bahwa Yesus itu anak terkasih dan mendapat perkenan ilahi (ay. 17.) Tetapi diakah orang yang dinanti-nantikan? Keragu-raguan ini tidak perlu ditafsirkan sebagai kekurangpercayaan. Dibutuhkan berita lebih lanjut yang bakal memastikan bahwa dia itulah orangnya. Iman yang hidup tetap butuh informasi yang aktual, bukan sekadar mengamini rumus-rumus kepercayaan saja.

PERCAYA  -  TINDAKAN APA ITU?
Pertanyaan Yohanes apakah Yesus itu betul-betul dia yang bakal datang, atau masih akan ada orang lain, menunjukkan bahwa Yohanes ingin mendengar berita yang tepercaya. Ia juga mau mengajar murid-muridnya agar berani mengenal siapa tokoh Yesus itu sesungguhnya dengan menemuinya sendiri.

Termasuk tindakan beriman usaha mengerti mana tanda-tanda yang bisa membuat orang percaya. Percaya dan beriman itu seperti semua tindakan manusia, bisa dan butuh dipertanggungjawabkan. Iman bukan hanya perasaan mantap sehidup semati saja. Malah rasa mantap seperti itu bakal kurang berdaya menghadapi pelbagai tantangan baru.

Yohanes sebetulnya menghadapi masalah “teologi dasar” seperti itu. Di hati dan dalam niatan ia percaya bahwa ada yang bakal datang mengutuhkan warta Kerajaan Surga. Tapi siapakah dia itu dalam kenyataannya? Orang yang dikabarkan di mana-mana mengerjakan perkara-perkara ajaib itukah? Bila betul, bagaimana penjelasannya? Apa ada kelanjutan dengan cara-cara Yang Ilahi mewahyukan kehendakNya dan memperkenalkan diri dulu? Apa betul-betul dapat diterima manusia. Atau tokoh yang sekarang populer itu cuma mau memanfaatkan gairah orang banyak melihat hal-hal yang mengguncang batin tapi tidak membawa ke pengalaman yang lebih utuh? Apa ia membantu orang menjadi makin mandiri batinnya atau malah membuat mereka menjadi permainan dorongan-dorongan rohani yang tak berujung pangkal?

Kebutuhan mempertanggungjawabkan terasa mendesak karena pada waktu itu warta yang dibawakan Yohanes dan pengajaran yang diberikan Yesus sering dipertanyakan dan bahkan ditolak. Dalam Mat 11:16-19, yang menjadi konteks bacaan hari ini, disebutkan, ada orang-orang yang menganggap Yohanes kerasukan setan karena menjalankan laku tapa keras, malah ada yang tidak menggubris Yesus walaupun ia tidak seperti pertapa hidupnya. Bahkan kebaikannya kepada para pemungut pajak dan pendosa dijadikan bahan cibiran. Memang sepanjang Mat 11-12 digambarkan sikap orang-orang yang tidak mau menerima warta Yohanes dan kehadiran Yesus sendiri.

TANDA-TANDA KEDATANGANNYA
Yesus meminta agar murid-murid Yohanes melaporkan kepada guru mereka apa yang mereka lihat dan dengar, yakni orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin dibawakan berita gembira. Kesembuhan ajaib itu diceritakan dalam Mat 8-9: tentang orang buta, lihat 9:27 dst.; orang lumpuh 8:5 dst. dan 9:1 dst.; orang kusta 8:1 dst.; orang tuli 9:32 dst.; orang mati 9:18 dst. Peristiwa-peristiwa ini memenuhi warta Yes 35:5-6: “Pada waktu itu mata orang-orang buta akan bisa melihat dan telinga orang-orang tuli akan bisa mendengar. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai….” Pewartaan kabar gembira kepada kaum miskin membuat Yesus serasa memenuhi yang sudah dikatakan dalam Yes 61:1, “Roh Tuhan ada padaku, oleh karena Tuhan telah mengurapi aku. Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan….” Pendengar diminta menyimak kembali pewahyuan ilahi yang sudah sering didengar dan mencoba melihat kenyataannya sekarang. Penyembuhan dan kabar gembira kepada orang-orang yang sengsara tadi membuat kedatangan Yesus semakin dapat dipertanggungjawabkan, semakin “accountable”.

Pada akhir jawabannya, Yesus menyebut berbahagia orang “yang tidak menolaknya”, ungkapan aslinya, “yang tidak tersandung karena aku”. Orang yang bisa menerima warta Yesus tanpa merasa tersinggung dan menyambutnya dengan merdeka boleh merasa bahagia. Mereka ini menerima Kerajaan Surga (bdk. Mat 5:3 dst. – Sabda Bahagia). Begitulah kebahagiaan tercapai dengan mencari tahu bagaimana dan dengan cara apa kedatangannya menjadi semakin bermakna dan semakin bisa dinikmati orang zaman ini. Menayangkan Yesus sebagai tokoh yang ekslusivist rasanya sudah bukan zamannya lagi, di mana saja. Tetapi memperkenalkannya sebagai sosok yang bisa menghadirkan keilahian yang penuh pengertian membuat pewarta iman makin bisa disebut berbahagia.

TENTANG YOHANES PEMBAPTIS LAGI
Setelah murid-murid Yohanes pergi, Yesus mulai berbicara mengenai Yohanes. Dikatakannya bahwa orang-orang datang kepada tokoh itu karena ia tidak seperti “buluh digoyang angin” (ay. 7), sebuah ibarat yang mirip ungkapan Indonesia “seperti air di daun talas”. Mereka datang untuk berguru kepada orang yang wataknya kuat, kepada orang yang berprinsip, berkepribadian. Itulah Yohanes Pembaptis.

Ditambahkan bahwa mereka tentunya tidak ke tempat sepi untuk menemui orang yang “berpakaian halus” (ay. 8-9). Mereka datang mendengarkan seorang nabi yang menyampaikan sabda Tuhan. Yohanes digambarkan memakai pakaian kasar dari bulu unta dan berikat pinggang kulit (Mat 3:4) seperti nabi zaman dulu (bdk. pakaian nabi Elia dalam 2 Raj 1:8)! Juga di zaman sekarang orang masih suka mendengar tokoh yang berintegritas kenabian tetapi yang tidak memaksa-maksakan penghayatan sendiri.

Siapakah yang dimaksud dengan “yang terkecil dalam Kerajaan Surga” yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis, yang hingga kini tak ada yang melebihinya? Bila diingat kata-kata Yohanes Pembaptis sendiri, maka jelas yang dimaksud ialah Yesus. Dalam Mat 3:11 Yohanes menegaskan, akan datang yang lebih berkuasa daripadanya dan dia ini akan membaptis dengan Roh dan api. Tapi kemudian bagaimana bisa dijelaskan bahwa menurut Mat 11:11 Yesus itu “terkecil” dalam Kerajaan Surga? Gagasan paling kecil bisa dikenakan kepada orang yang ditugasi melayani orang lain. Dan dalam Mat 20:28 Yesus menerapkan gagasan melayani tadi kepada dirinya sendiri. Ia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. Untuk membuat Yang Ilahi mendekat kepada manusia. Itulah kebesarannya.

Seandainya hari ini kita bertanya kepada Yesus, “Engkaukah dia yang bakal datang?”, jawabannya akan sama. Ia akan mengajak kita memahami karya ilahi yang masih tetap berlangsung di antara kita di dunia ini kendati sering masih terselubung. Itulah jalan mengenalinya. Lalu, apa kita bisa mengharapkan diri kita juga akan dibicarakan oleh Yesus dengan para penghuni surga – seperti dulu ketika ia berbicara tentang Yohanes kepada orang banyak? Matt mengangguk penuh pengertian. Kita boleh merasa beruntung disertai Matt dalam Masa Adven ini.

Salam hangat,
A. Gianto