InjMgAdven 14/A 22 Des 2013 (Mat 1:18-24)

InjMgAdven 14/A 22 Des 2013 (Mat 1:18-24)

TUHAN SUNGGUH MENYERTAI KITA!

Bacaan Injil Minggu terakhir pada Masa Adven tahun ini (Mat 1:18-24) menyampaikan sebuah tradisi mengenai kelahiran Yesus dari sudut pandang Yusuf, yang di dalam silsilah sebelum bacaan ini disebut sebagai “suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus” (Mat 1:16).

Disebutkan dalam Mat 1:18 dan 20 bahwa Maria mengandung dari Roh Kudus sebelum hidup sebagai suami istri dengan Yusuf. Dalam adat-istiadat Yahudi, sejak usia remaja seorang gadis sudah dipertunangkan dengan calon suaminya jauh-jauh sebelum pernikahan, yang baru terjadi setelah kedua-duanya siap membangun rumah tangga yang mandiri. Ikatan ini dapat dibatalkan karena macam-macam alasan. Salah satunya ialah bila calon istri didapati mengandung sebelum pernikahan. Menurut hukum, bakal suami wajib membatalkan ikatan pertunangan tadi. Demikian pihak perempuan akan merdeka dan dapat diperistri orang lain secara sah. Kerap terjadi, perempuan yang bersangkutan tidak dimaui siapapun dan akan mendapat aib. Yusuf tidak hendak menyusahkan Maria, tapi tetap mau menaati hukum tadi. Maka ia bermaksud membatalkan pertunangannya dengan Maria secara “diam-diam”, artinya, di hadapan dua saksi tetapi tanpa mengumumkannya. Dengan demikian pembatalan itu akan sah menurut hukum tetapi tidak mendatangkan aib bagi Maria. Sebelum niatan ini dijalankan, terjadilah sesuatu yang luar biasa. Dalam sebuah mimpi (ay. 20-21) malaikat Tuhan datang dan mengatakan kepada Yusuf agar jangan takut mengambil Maria sebagai istrinya. Malaikat itu menjelaskan bahwa anak yang dikandung Maria itu berasal dari Roh Kudus. Jadi kandungan itu bukan dari manusia dan Yusuf tak usah merasa terikat pada kewajiban mengikuti hukum adat. Selanjutnya diberitahukan bahwa anak tadi hendaknya diberi nama Yesus, artinya “Tuhan itu keselamatan”. Yusuf pun melakukan yang diperintahkan kepadanya oleh sang malaikat.

PENJELASAN MATIUS

Bagi umat Matius dan umat awal, kelahiran Yesus itu jelas bukan kejadian lumrah. Yesus dikandung dari Roh Kudus tetapi dilahirkan secara manusiawi oleh Maria dan dibesarkan oleh Yusuf. Matius memberikan penjelasan kejadian yang tidak biasa ini lewat kata-kata malaikat dalam mimpi Yusuf tadi. Dalam ay. 22 ditambahkan, semua yang dikatakan malaikat tadi menggenapkan nubuat nabi Yesaya 7:14 yang menyebutkan bahwa seorang anak dara akan melahirkan anak lelaki yang dikenal dengan nama Imanuel, yang artinya “Tuhan menyertai kita”.

Teks Ibrani Yes 7:14 memakai kata yang maknanya ialah anak perempuan yang sudah dewasa, tapi belum menikah. Dalam teks Yunani, yakni teks yang dipakai Matius, kata itu diterjemahkan sebagai dengan sebuah kata yang artinya “perawan”. Perbedaan dalam terjemahan ini memang bahan menarik bagi telaah teks Kitab Suci, tapi tak usah dijadikan dasar perbincangan mengenai keperawanan Maria. Matius menulis Injilnya bagi mereka yang percaya bahwa Maria itu perawan yang mengandung dari Roh Kudus. Sebaiknya lebih dipahami bahwa yang ditekankan dalam kutipan dari Yes 7:14 itu ialah kelahiran sang “Imanuel”, yang artinya “Allah menyertai kita”. Ia tidak lagi membiarkan manusia sendirian. Dan mulai saat itu kehadiran “Imanuel” memang menyertai manusia sepanjang zaman. Nanti dalam penutupan Injil Matius (28:20) diperdengarkan kata-kata Yesus, “…ketahuilah, aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.”

Kisah kelahiran Yesus yang bukan kejadian biasa ini diceritakan juga oleh Lukas, tapi dengan penekanan yang berbeda. Bila Matius mencerminkan ingatan dari kalangan Yusuf, Lukas menceritakan kelahiran Yesus dari sudut pandang Maria. Namun intinya sama: anak itu dikandung dari Roh Kudus (Mat 1:20, Luk 1:35), Maria dan Yusuf bertunangan ( Mat 1:18, Luk 1:27), perintah agar anak yang lahir nanti dinamai Yesus (Mat 1:21 kepada Yusuf, Luk 1:31 kepada Maria), kelahiran Yesus di Betlehem (Mat 2:5, Luk 2:4), Yesus besar di Nazaret (Mat 2:23, Luk 1:51-52). Matius menampilkan perasaan Yusuf, pergulatan rohaninya, rasa hormatnya yang besar terhadap Yang Keramat yang mendatanginya. Juga ditonjolkan perhatian Yusuf terhadap Maria dan Yesus. Ia betul-betul menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai bapa keluarga ini.

Pembaca dari kalangan Yahudi yang menjadi pengikut Yesus dari generasi pertama menangkap maksud penekanan pada Yusuf tadi. Dalam adat keluarga Yahudi, pendidikan seorang anak sejak tidak lagi menyusu ibunya hingga akil balig pada usia 12-13 tahun menjadi tanggung jawab bapa keluarga. Begitulah kebesaran hati Yusuf, kepekaannya, kematangan imannya ikut membentuk pribadi Yesus. Pembaca Injil Matius mengerti apa artinya menjadi anak yang dibesarkan oleh orang seperti Yusuf itu. Juga menjadi jelas bahwa karya “Tuhan menyelamatkan umatNya” itu menjadi tepercaya justru karena memakai jalan manusiawi. Karya Roh Kudus, daya luar alam itu baru betul-betul bisa membawakan keselamatan bila tumbuh dan menjadi besar dalam lingkungan yang sungguh manusiawi. Inilah kiranya keyakinan iman orang-orang yang terungkap dalam kisah Matius tadi.

SIAPA TUJUAN WARTA INI

Sebetulnya kisah kelahiran dan masa kecil Yesus tidaklah mutlak perlu untuk menjelaskan karya, penderitaan, kebangkitan Yesus nanti. Injil yang paling awal, yakni Injil Markus, tidak memuat kisah itu. Begitu pula dalam Injil Yohanes tidak didapati kisah yang mirip. Bagi Yohanes jelas Firman yang mengawali segala sesuatu itu “telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita” (Yoh 1:14). Dan ini cukup guna mengungkapkan kehadiran Yang Ilahi dalam ujud manusia. Maklumlah, Injil Yohanes ditulis bagi orang-orang yang sudah paham akan karya penebusan yang dijalankan Yesus dan sudah maju jauh dalam pengetahuan hidup batin dan berhasrat maju terus. Injil Markus sebaliknya disiapkan sebagai pegangan ringkas bagi mereka yang baru mulai tertarik untuk mengenal siapa Yesus itu. Lalu, setelah tahap awal ini dilalui, apa yang terjadi? Orang tentu butuh pendalaman. Kepada mereka inilah Injil Matius dan Lukas ditulis. Penjelasannya begini. Orang yang sudah mulai kenal Yesus dan hidup menurut wartanya (“setelah mendengar Markus”), tentu ingin mengenal asal usul Yesus. Karena itulah Matius dan Lukas menuliskan tradisi mengenai kelahirannya.

Nanti mereka yang maju lebih jauh tidak butuh bertanya-tanya mengenai asal-usul badaniah dan peristiwa-peristiwa di seputar kelahiran dan masa kecil Yesus. Kepada mereka itulah Injil Yohanes berbicara. Ditekankan hubungan dengan Bapa. Diungkapkan pula keinginan Yesus untuk berbagi “sangkan paran”, berbagi kehidupan rohani yang sejati dengan orang-orang yang dikasihinya dan setia kepadanya. Tentu saja pengetahuan ini hanya dapat dicapai bukan dengan usaha sendiri, bukan pula oleh orang yang belum masuk dan mendalami sampai utuh. Kisah kelahiran Yesus dalam Matius mengarahkan orang ke sana.

MENYONGSONG HARI NATAL

Suasana menyongsong pesta Natal sudah terasa lama. Hiasan Natal terlihat di mana-mana. Kita saling berkirim kartu dan pesan Natal. Apakah orang-orang sekarang ini seperti umatnya Matius atau Lukas dulu, umat yang menjadi dewasa dan maju terus dan mau mendalami makna kehadiran Kristus di tengah-tengah umat manusia? Bila warta kisah kelahiran Yesus dimaksud untuk memajukan hidup rohani, apa masih ada relevansinya bagi kebanyakan orang pada zaman kita ini? Khususnya di bumi Indonesia?

Tetap berlaku ajakan untuk mulai mengenal lebih jauh siapa Yesus yang diikuti orang banyak, siapa dia yang diimani sepanjang zaman sebagai Penyelamat itu. Orang beriman bisa pula menjadi seperti Matius dan Lukas. Mereka mulai mencari tahu asal usul Yesus sehingga pengenalan mereka semakin dalam. Baik Lukas maupun Matius menekankan hadirnya daya ilahi (“Maria mengandung dari Roh Kudus”) dan penerimaan utuh dari pihak Maria dan Yusuf. Yang dilakukan Yusuf diungkapkan Matius dalam bacaan hari ini. Menerima karya ilahi dalam ujud yang amat mengguncang tadi menjadi ungkapan iman yang paling nyata. Yusuf itu orang yang bisa menerima kehadiran ilahi yang tidak lumrah sekalipun dan tetap menghormatinya. Bahkan ia memeliharanya dengan penuh perhatian. Ia memikirkan kepentingan Maria, tidak hanya mau meninggalkannya begitu saja. Kemudian ia juga berani mendengarkan Yang Keramat yang mengubah rencananya sama sekali. Ia bersedia menjadi orang yang bertanggung jawab membesarkan Yesus. Ringkasnya, Yusuf itu pribadi yang dapat dipercaya karena juga bisa mempercayai. Mendalami peristiwa kelahiran Yesus dalam terang Injil Matius itu merayakan kebesaran hati seorang manusia yang bukan saja memungkinkan karya Allah dapat mulai terjadi, tetapi juga yang memelihara dan membesarkannya. Dan semuanya ini terjadi dengan tak banyak kata. Orang beriman yang ingin maju menjadi pemerhati gerak-gerik Yang Ilahi tentu dapat belajar banyak dari Yusuf si pendiam itu.

Salam hangat,
A. Gianto

Injil Minggu Adven III/A 15 Desember 2013 (Mat 11:2-11)

Injil Minggu Adven III/A 15 Desember 2013 (Mat 11:2-11)

Rekan-rekan yang budiman!
Dalam Mat 11:2-11 diceritakan bagaimana Yohanes Pembaptis mengutus murid-muridnya kepada Yesus untuk memastikan apakah ia itu betul dia yang diwartakan bakal datang (ay. 2-3) dan jawaban Yesus (ay. 4-6). Selanjutnya, ketika murid-murid Yohanes telah pergi, Yesus berbicara kepada orang banyak mengenai Yohanes Pembaptis (ay. 7 dst.).

MENCARI TAHU – MEMASTIKAN – MENERIMA
Beberapa waktu sebelumnya, Yohanes Pembaptis ditangkap oleh Herodes Antipas (Mat 4:12). Ini perkara politik. Warta kenabian dan seruan pertobatannya Yohanes membuat guncangan di masyarakat dan dikhawatirkan akan membahayakan kedudukan Herodes di hadapan penguasa Romawi. Ada alasan lain. Yohanes pernah mengecam keras perkawinan Herodes dengan Herodias yang waktu itu masih bersuamikan saudara tiri Herodes sendiri (Mat 14:4; terlarang menurut Im 18:6). Di penjara Yohanes masih bisa menerima kunjungan murid-muridnya. Dari merekalah Yohanes mendengar tentang Yesus yang mulai dikenal di masyarakat.

Menurut Mat 3:11, Yohanes memaklumkan kedatangan dia yang lebih berkuasa daripadanya yang akan membaptis dengan Roh dan api sehingga orang dapat memasuki Kerajaan Surga setelah menerima baptisan tobat yang diserukannya. Tetapi belum jelas baginya siapa orangnya. Dalam pemaklumannya nama Yesus memang tidak disebut. Ketika Yesus datang kepadanya minta ikut dibaptis (ay. 13-15), Yohanes tentunya menduga bahwa dia inilah orangnya. Ada pengalaman rohani. Injil menggambarkannya dengan terdengarnya kata-kata dari langit bahwa Yesus itu anak terkasih dan mendapat perkenan ilahi (ay. 17.) Tetapi diakah orang yang dinanti-nantikan? Keragu-raguan ini tidak perlu ditafsirkan sebagai kekurangpercayaan. Dibutuhkan berita lebih lanjut yang bakal memastikan bahwa dia itulah orangnya. Iman yang hidup tetap butuh informasi yang aktual, bukan sekadar mengamini rumus-rumus kepercayaan saja.

PERCAYA  -  TINDAKAN APA ITU?
Pertanyaan Yohanes apakah Yesus itu betul-betul dia yang bakal datang, atau masih akan ada orang lain, menunjukkan bahwa Yohanes ingin mendengar berita yang tepercaya. Ia juga mau mengajar murid-muridnya agar berani mengenal siapa tokoh Yesus itu sesungguhnya dengan menemuinya sendiri.

Termasuk tindakan beriman usaha mengerti mana tanda-tanda yang bisa membuat orang percaya. Percaya dan beriman itu seperti semua tindakan manusia, bisa dan butuh dipertanggungjawabkan. Iman bukan hanya perasaan mantap sehidup semati saja. Malah rasa mantap seperti itu bakal kurang berdaya menghadapi pelbagai tantangan baru.

Yohanes sebetulnya menghadapi masalah “teologi dasar” seperti itu. Di hati dan dalam niatan ia percaya bahwa ada yang bakal datang mengutuhkan warta Kerajaan Surga. Tapi siapakah dia itu dalam kenyataannya? Orang yang dikabarkan di mana-mana mengerjakan perkara-perkara ajaib itukah? Bila betul, bagaimana penjelasannya? Apa ada kelanjutan dengan cara-cara Yang Ilahi mewahyukan kehendakNya dan memperkenalkan diri dulu? Apa betul-betul dapat diterima manusia. Atau tokoh yang sekarang populer itu cuma mau memanfaatkan gairah orang banyak melihat hal-hal yang mengguncang batin tapi tidak membawa ke pengalaman yang lebih utuh? Apa ia membantu orang menjadi makin mandiri batinnya atau malah membuat mereka menjadi permainan dorongan-dorongan rohani yang tak berujung pangkal?

Kebutuhan mempertanggungjawabkan terasa mendesak karena pada waktu itu warta yang dibawakan Yohanes dan pengajaran yang diberikan Yesus sering dipertanyakan dan bahkan ditolak. Dalam Mat 11:16-19, yang menjadi konteks bacaan hari ini, disebutkan, ada orang-orang yang menganggap Yohanes kerasukan setan karena menjalankan laku tapa keras, malah ada yang tidak menggubris Yesus walaupun ia tidak seperti pertapa hidupnya. Bahkan kebaikannya kepada para pemungut pajak dan pendosa dijadikan bahan cibiran. Memang sepanjang Mat 11-12 digambarkan sikap orang-orang yang tidak mau menerima warta Yohanes dan kehadiran Yesus sendiri.

TANDA-TANDA KEDATANGANNYA
Yesus meminta agar murid-murid Yohanes melaporkan kepada guru mereka apa yang mereka lihat dan dengar, yakni orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin dibawakan berita gembira. Kesembuhan ajaib itu diceritakan dalam Mat 8-9: tentang orang buta, lihat 9:27 dst.; orang lumpuh 8:5 dst. dan 9:1 dst.; orang kusta 8:1 dst.; orang tuli 9:32 dst.; orang mati 9:18 dst. Peristiwa-peristiwa ini memenuhi warta Yes 35:5-6: “Pada waktu itu mata orang-orang buta akan bisa melihat dan telinga orang-orang tuli akan bisa mendengar. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai….” Pewartaan kabar gembira kepada kaum miskin membuat Yesus serasa memenuhi yang sudah dikatakan dalam Yes 61:1, “Roh Tuhan ada padaku, oleh karena Tuhan telah mengurapi aku. Ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar gembira kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan….” Pendengar diminta menyimak kembali pewahyuan ilahi yang sudah sering didengar dan mencoba melihat kenyataannya sekarang. Penyembuhan dan kabar gembira kepada orang-orang yang sengsara tadi membuat kedatangan Yesus semakin dapat dipertanggungjawabkan, semakin “accountable”.

Pada akhir jawabannya, Yesus menyebut berbahagia orang “yang tidak menolaknya”, ungkapan aslinya, “yang tidak tersandung karena aku”. Orang yang bisa menerima warta Yesus tanpa merasa tersinggung dan menyambutnya dengan merdeka boleh merasa bahagia. Mereka ini menerima Kerajaan Surga (bdk. Mat 5:3 dst. – Sabda Bahagia). Begitulah kebahagiaan tercapai dengan mencari tahu bagaimana dan dengan cara apa kedatangannya menjadi semakin bermakna dan semakin bisa dinikmati orang zaman ini. Menayangkan Yesus sebagai tokoh yang ekslusivist rasanya sudah bukan zamannya lagi, di mana saja. Tetapi memperkenalkannya sebagai sosok yang bisa menghadirkan keilahian yang penuh pengertian membuat pewarta iman makin bisa disebut berbahagia.

TENTANG YOHANES PEMBAPTIS LAGI
Setelah murid-murid Yohanes pergi, Yesus mulai berbicara mengenai Yohanes. Dikatakannya bahwa orang-orang datang kepada tokoh itu karena ia tidak seperti “buluh digoyang angin” (ay. 7), sebuah ibarat yang mirip ungkapan Indonesia “seperti air di daun talas”. Mereka datang untuk berguru kepada orang yang wataknya kuat, kepada orang yang berprinsip, berkepribadian. Itulah Yohanes Pembaptis.

Ditambahkan bahwa mereka tentunya tidak ke tempat sepi untuk menemui orang yang “berpakaian halus” (ay. 8-9). Mereka datang mendengarkan seorang nabi yang menyampaikan sabda Tuhan. Yohanes digambarkan memakai pakaian kasar dari bulu unta dan berikat pinggang kulit (Mat 3:4) seperti nabi zaman dulu (bdk. pakaian nabi Elia dalam 2 Raj 1:8)! Juga di zaman sekarang orang masih suka mendengar tokoh yang berintegritas kenabian tetapi yang tidak memaksa-maksakan penghayatan sendiri.

Siapakah yang dimaksud dengan “yang terkecil dalam Kerajaan Surga” yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis, yang hingga kini tak ada yang melebihinya? Bila diingat kata-kata Yohanes Pembaptis sendiri, maka jelas yang dimaksud ialah Yesus. Dalam Mat 3:11 Yohanes menegaskan, akan datang yang lebih berkuasa daripadanya dan dia ini akan membaptis dengan Roh dan api. Tapi kemudian bagaimana bisa dijelaskan bahwa menurut Mat 11:11 Yesus itu “terkecil” dalam Kerajaan Surga? Gagasan paling kecil bisa dikenakan kepada orang yang ditugasi melayani orang lain. Dan dalam Mat 20:28 Yesus menerapkan gagasan melayani tadi kepada dirinya sendiri. Ia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani. Untuk membuat Yang Ilahi mendekat kepada manusia. Itulah kebesarannya.

Seandainya hari ini kita bertanya kepada Yesus, “Engkaukah dia yang bakal datang?”, jawabannya akan sama. Ia akan mengajak kita memahami karya ilahi yang masih tetap berlangsung di antara kita di dunia ini kendati sering masih terselubung. Itulah jalan mengenalinya. Lalu, apa kita bisa mengharapkan diri kita juga akan dibicarakan oleh Yesus dengan para penghuni surga – seperti dulu ketika ia berbicara tentang Yohanes kepada orang banyak? Matt mengangguk penuh pengertian. Kita boleh merasa beruntung disertai Matt dalam Masa Adven ini.

Salam hangat,
A. Gianto

Minggu Adven II/A 8 Des 13 (Mat 3:1-12)

Minggu Adven II/A 8 Des 13 (Mat 3:1-12)

MENYELARASKAN LANGKAH (Mat 3:1-12)

Rekan-rekan!
Dalam Mat 3:1-12 (Injil Minggu Adven II  tahun A) dikisahkan  bagaimanaYohanes Pembaptis tampil mengumumkan kedatangan Kerajaan Surga dan menyerukan agar orang bertobat. Dalam bahasa sekarang, seruan ini sama ajakan untuk memahami apa yang sedang terjadi dalam diri kita dan dunia sekitar.

TELAH DIUMUMKAN JAUH-JAUH HARI

GUS: Matt, selamat datang! Langsung tanya, dari mana kauperoleh bahan mengenai Yohanes Pembaptis itu?
MATT: Dari diktat Mark – eh, bagi kalian Injil Santo Markus. Tapi kuolah kembali. Kuperjelas dengan bahan tambahan dari sumber lain, misalnya kata-kata Yohanes Pembaptis sendiri dalam ay. 2: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” yang tak dituliskan Mark. Ia mengatakan Yohanes memberitakan baptisan tobat untuk pengampuan dosa (Mrk 1:4) tanpa menyebut Kerajaan Surga sudah dekat, yang dikatakan oleh Yesus sendiri (Mrk 1:15, “Kerajaan Allah”; dibicarakan di bawah).
GUS: Ajakan Yohanes Pembaptis kok sama dengan yang diucapkan Yesus yang juga kautulis dalam Mat 4:17, sejajar dengan Mrk 1:15 tadi.
MATT: Kontinuitas, kawan, kontinuitas itu wajar! Orang hidup bukan asal ganti panutan. Warta Yesus itu melanjutkan dan melaksanakan hal-hal yang sudah disampaikan pendahulunya. Akan kita lihat nanti Yesus mengajar orang zamannya agar sampai pada inti Taurat, yakni ajaran-ajaran sudah jadi menjadi pegangan hidup turun-temurun. Ia mengajak orang merasukinya dan tidak tinggal di luar-luarnya.
GUS: Eh, kita kan bicara mengenai Yohanes Pembaptis dan belum tentang Yesus.
MATT: Yohanes Pembaptis kutampilkan sebagai sebagai suara yang berseru di padang gurun agar disiapkan jalan yang rata bagi dia yang akan datang itu (Yes 40:3). Yang sedang dinanti-nantikan itu akan datang dan memimpin kembali orang-orang ke dalam Kerajaan Surga lewat jalan yang rata tadi. Malah Mark menyisipkan nubuat yang sebenarnya berasal dari Maleakhi 3:1 “Lihatlah, aku menyuruh utusan-Ku mendahuluimu….” Utusan itu ialah Yohanes.
GUS: Banyak ahli mengatakan, kau tidak ikut mengutip ayat itu dengan alasan mau merapikan tulisan Mark yang menggabungkan ayat Maleakhi tadi bersama dengan kutipan dari Yesaya.
MATT: Coba tanya Luc saja deh, dia kan juga tidak mengutip Maleakhi (Luk 3:4-6).
GUS: Tapi Luc mengutip lebih, yakni Yes 40:3-5, bukan hanya ay. 3 seperti kamu.
MATT: Ia menulis bagi orang-orang yang tidak amat mengenal tulisan para nabi. Jadi kutipan itu diperluasnya supaya konteksnya jelas. Tetapi pembacaku dulu sudah cukup tahu Kitab Suci dan tak butuh diberi banyak-banyak. Yang penting mereka mengerti bahwa Yohanes datang dengan wibawa dari atas sana. Kalau ditengok kembali, memang sosok besar tidak tampil begitu saja, kata orang zaman sekarang, ada kredensialnya. Kedatangan Yesus dimaklumkan Yohanes Pembaptis. Dia sendiri diwartakan oleh Yesaya sang Nabi besar itu.

DISERTAI KEKUATAN-KEKUATAN DARI ATAS

GUS: Matt, mau tahu nih, sebetulnya, seruan dalam ayat-ayat Yesaya itu ditujukan kepada siapa?
MATT: Apa belum tahu?
GUS: Soalnya, dalam Yes 40:1-2 yang tidak ikut kaukutip, ada seruan Yang Mahakuasa kepada makhluk-makhluk ilahi agar mereka menghibur umatNya dan menyadarkan mereka bahwa hukuman mereka telah selesai. Apa bagimu ayat yang kauambil alih itu (Yes 40:3) masih juga menghimbau kekuatan-kekuatan itu agar menyiapkan jalan dan meluruskannya – bukan kepada manusia?
MATT: Tentu saja! Yohanes malah menggemakan seruan Yang Mahakuasa sendiri kepada kekuatan-kekuatan surgawi tadi. Yohanes akrab dengan mereka. Orang datang kepadanya minta dibaptis sebagai tanda bertobat dan agar disertai kekuatan-kekuatan tadi menemukan kembali jalan yang lurus.
GUS: Dalam kesempatan itu Yohanes juga mengatakan, akan datang orang “yang lebih berkuasa” dan yang akan membaptis dengan Roh Kudus dan api, tidak seperti dia yang membaptis dengan air. Penjelasannya?
MATT: Air membersihkan yang menempel di luar. Baptisan Yohanes melepaskan beban-beban rohani. Baptisan yang diberikan Yesus membuat orang bisa melangkah ringan, seperti dibawa Roh Kudus, dan membersihkannya sampai sedalam-dalamnya, seperti api memurnikan barang campuran. Ini arti baptisan dengan Roh Kudus dan api. Yohanes menambahkan, dia yang akan datang itu akan menyendirikan yang berisi Roh dari yang kosong, seperti orang menampi gandum dan memisahkannya dari sekam (ay. 12).
GUS: Ketika berkata bahwa ia tak layak “membawa kasutnya”, apakah Yohanes mau merendah?
MATT: Gini, bagi orang Yahudi, “membawa kasut” atau tindakan yang sehubungan dengan itu, “membuka tali kasut” yang muncul dalam tulisan Mark, Luc dan Oom Hans (Mrk 1:7 Luk 3:16 Yoh 1:27) itu kiasan yang berasal dari praktik hukum adat bertindak sebagai orang “yang diberi kuasa” bila orang yang berwenang terhalang. Yohanes hendak mengatakan, dirinya tak layak menerima kuasa mewakili Yesus!
GUS: Bisa kuteruskan penjelasan ini ke umat? Membantu.
MATT: Kami dulu berusaha mengartikan perkara-perkara yang mereka alami serta merumuskannya dalam cara bicara orang yang kami layani. Memang penting mengartikan pengalaman dan merumuskannya kembali dengan bahasa yang bisa dimengerti. Jangan buat umat terombang-ambing pembicaraan ini atau itu.

KERAJAAN SURGA

Kata Yunani “basileia”, yang biasa diterjemahkan sebagai “Kerajaan”, dipakai untuk membicarakan wibawa seorang raja, termasuk juga orang-orang yang mengakui kuasanya, bukan hanya terbatas pada gagasan wilayah seperti bila kita berbicara mengenai “kerajaan Majapahit” misalnya. Istilah Inggris “kingdom” sebenarnya tidak amat tepat, banyak yang lebih suka memakai pengertian “reign”. Tapi agar tidak memperumit perkaranya, kita pakai saja “Kerajaan Surga” dengan sekadar penjelasan.

GUS: Kembali ke pokok yang tadi sudah sedikit kita bicarakan. Yohanes berseru bahwa “Kerajaan Surga” sudah dekat (Mat 3:2). Injil lain lebih memakai “Kerajaan Allah”. Kau menyebutnya Kerajaan Surga, untuk menghormat, begitukah?
MATT: Kalau mau dibilang menghormat boleh saja. Tapi ada yang lebih penting. Dengan mengatakan Kerajaan Surga, jadi lebih jelas bahwa kenyataan yang dimaksud itu bukan dari dunia sini. Orang tidak perlu mengimpikan bahwa sebentar lagi akan terwujud pemerintahan di bumi dengan Mesias dari Allah sebagai pucuk pimpinannya. Ini masalah kami dulu. Ada sementara pihak yang mengira Yesus akan mendirikan pemerintah baru lengkap dengan pasukannya segala. Apa di zaman kalian tak ada kecenderungan seperti itu?
GUS: Apa dampaknya bagi kehidupan yang di sini sekarang?
MATT: Ah, diskusikan soal itu dengan dosen teologi sosial, mereka lebih tahu daripada penulis Injil. Tapi kalau boleh kukatakan, justru karena tidak masuk dalam sistem dunia ini maka kehadiran Kerajaan tadi dapat menjadi arahan batin orang yang mau bekerja sama meluruskan bumi ini. Eh, tergoda aku oleh gagasan menyelaraskan langkah dengan yang di atas sana itu, mengarah sama dengan yang di arah yang di atas sana itu, gitu dah ibaratnya.
GUS: Lewat baptisan roh dan api dalam pengertian yang kaujelaskan di atas?
MATT: Tentu saja, asal tidak begitu saja diartikan menjadi membaptis orang! Tapi ah tak usah kucampuri urusan pengaturan agama. Injil kan sumber inspirasi.

TUMBUH DAN BERBUAH

Masih sempat kami diskusikan kata-kata keras Yohanes Pembaptis terhadap orang Farisi dan orang Saduki yang datang minta ikut dibaptis (Mat 3:7-10). Kepala mereka seolah-olah diguyur air dingin supaya tidak mimpi bakal bisa lepas dari murka Tuhan kelak. Status keturunan Abraham bukan jaminan agar selamat. Yang perlu diusahakan, seperti ditegaskan sang Pembaptis (ay. 8) yakni, “…hasilkan buah-buah yang sesuai dengan pertobatan!” Kiasan menghasilkan buah itu amat dalam maknanya. Pertobatan saja belum cukup, meniatkan yang baik masih perlu tumbuh terus menjadi pohon, berbunga, mekar dan berbuah, tidak mandek, mandul, kopong dan mengering. Bila tak menghasilkan buah, pohonnya hanya akan dikapak sampai ke akar-akarnya dan dimusnahkan (ay. 10). Ini peringatan bagi mereka yang picik batinnya, yang tak punya kepedulian yang sungguh akan hadirnya Yang Ilahi. Mereka itu orang-orang yang tidak mau membiarkan-Nya datang merasuki batin serta menumbuhkan niat untuk berbuah.

Salam hangat,
A.Gianto

NB: Berikut ini ditambahkan ulasan bacaan pertama Minggu Adven II/A: (Yes 11:1-10)

Nada berharap amat terasa di dalam bacaan pertama Minggu Adven II/A, Yes 11:1-10. Di situ dinubuatkan kedatangan Raja Damai keturunan Isai (ayah raja Daud; leluhur Yesus juga; lihat Mat 1:5-6 Luk 3:32). Raja ini akan memperoleh kebijaksanaan (Yes 11:1-2) guna menegakkan keadilan (ay. 3-5) dan merukunkan mereka yang tadinya saling bermusuhan (ay. 6-9) dan dengan demikian ia menjadi pangkal harapan orang banyak (ay. 10).

LATAR SEJARAH

Pada abad 8 sebelum Masehi pengaruh militer adikuasa Asiria amat dirasakan di utara. Asiria berebut pengaruh dengan negeri adikuasa lain, yakni Mesir, di wilayah yang terjepit di antara keduanya yakni negeri Israel di utara dan Yehuda di selatan. Tentu saja di utara kehadiran militer Asiria lebih terasa. Penguasa kerjaan utara (pusatnya di Samaria) berupaya tidak terlalu berada di bawah pengaruh militer Asiria antara lain dengan bersekutu degan kerajaan selatan (Yehuda, pusatnya di Yerusalem), dan juga negeri adikuasa Mesir. Gerakan ini malah membuat Asiria semakin memperkuat pengaruhnya di utara dan akhirnya menganeksi seluruh wilayah itu setelah merebut Samaria pada tahun 722 dan mendeportasikan penduduknya ke wilayah-wilayah lain yang sudah dikuasai. Demikian punahlah kerajaan utara. Keadaan ini mengkhawatirkan orang di selatan. Yehuda memang segera menjadi semacam negeri satelit Asiria meski masih memiliki pemerintahan dan pertahanan sendiri. Keadaan seperti telur di ujung tanduk ini menimbulkan kekhawatiran jangan-jangan nanti mereka mengalami nasib seperti kerajaan utara. Di dalam negeri sendiri ada pendapat macam-macam dan bahkan pertentangan. Dalam keadaan ini tampillah di Yesaya bin Amos, seorang intelektual yang dekat kalangan raja di Yerusalem. Ia berusaha membesarkan hati dan tidak membiarkan orang hidup dalam kekhawatiran melulu dan tubruk sana tubruk sini, kendati ia sendiri tentu sadar ancaman dari Asiria itu amat nyata. Dihidupkannya harapan akan seorang pemimpin yang bijaksana dari kalangan istana yang dapat memberi rasa aman kepada penduduk. Dan bagian yang dibacakan kali ini, Yes 11:1-11, ialah salah satu hasil karyanya yang paling memberi semangat dan harapan.

TEMPAT KEPEMIMPINAN

Dalam keadaan tak menentu dan terancam, beberapa pihak malah mengail di air keruh. Mereka mengeruk untung sebesarnya-besarnya bagi diri dan pihak sendiri mumpung ada kesempatan. Telah terjadi di utara sebelum direbut seluruhnya oleh Asiria. Dan kini keadaan serupa ada di Yerusalem dan wilayah Yehuda umumnya. Akibatnya terjadi ketimpangan sosial, perlakuan tak adil, pemerasan. Seolah-olah permusuhan sudah jadi andaian yang tak terelakkan dalam hidup bersama. Tak ada lagi kesetujuan bersama untuk menumbuhkan keadaban. Masyarakat tak bisa melepaskan diri dari keadaan ini tanpa pemimpin yang terampil dan bisa mengarahkan kembali kekuatan-kekuatan dalam masyarakat. Dalam etos Perjanjian Lama, keadaan seperti itu hanyalah bisa diatasi oleh pemimpin yang memiliki kebijaksanaan. Hanya dialah yang bakal mampu membuat yang sungsang menjadi yang lurus ke depan. Ia dapat menyatukan kekuatan-kekuatan yang saling berlawanan. Ia juga membuat orang merasa aman, lepas dari ketakmenentuan. Inilah pemimpin yang diharapkan datang.

Dalam bahasa puitis digambarkan dalam Yes 11:6-8 bagaimana pihak-pihak yang tadinya tak bisa ada bersama akan dapat hidup rukun satu dengan yang lain: serigala dan domba, macan tutul dan kambing akan tinggal bersama, lembu dan beruang anak lembu dan anak singa, bayi dan ular tedung, kanak-kanak bermain dengan ular berbisa. Ada yang lebih daripada sekadar kebersamaan belaka. Bila dikatakan beruang akan makan rumput dan singa makan jerami, artinya kaum pemangsa akan menanggalkan kebiasaan memangsa dan akan hidup dengan cara sama seperti mereka yang tadinya jadi korban. Pertobatan? Ya. Dan bila demikian akan sama dengan yang dicanangkan Yohanes Pembaptis dalam bacaan Injil nanti.

Itulah yang bakal terjadi di tempat  hadirnya Yang Maha Kuasa. Di tempat suci itu kekerasan yang menghancurkan berubah menjadi kekuatan yang melanggengkan kehidupan. Ini daya dan kebesaran Tuhan yang diperkenalkan Yesaya (ayat 9). Dan Dia Yang Berkuasa itu akan berkenan kepada seorang dari antara keturunan raja dan membuatnya menjadi pemimpin yang mereka dambakan itu. Dia itu tunas dari tunggal Isai (ayat 1), ia itu taruk yang tumbuh dari pokok yang sama (ayat 10).

Akan bermanfaat mendalami sepasang kiasan “tunas dan taruk” didalami. Tunas tumbuh ke atas, bersemi menjadi dahan kuat dan akan menjadi pohon rindang dan berbuah. Taruk tumbuh ke bawah menjadi akar yang menunjang pohon. Dengan demikian pohon akan kekar. Itu kiasan bagi pemimpin yang diharap-harapkan. Kiasan ini juga memungkinkan gambaran pemimpin yang kukuh berakar di tanah, di kalangan masyarakat tapi juga yang menjadi tempat bernaung Dan dalam khazanah sastra Perjanjian Lama pohon yang rindang dan yang berakar kuat menjadi gambaran akan berkat dan perkenan ilahi. Sekaligus diharapkan agar pemegang kekuatan ini sadar akan asal serta tanggung jawab yang menyertai anugerah itu.

BERNALAR GUNA MENGATASI KETAKUTAN

Bagi orang yang percaya, kehadiran ilahi cukup untuk menyingkirkan kekuatan jahat. Di mana Yang Ilahi berada, di situ yang jahat akan tersingkir. Namun ada satu hal yang mesti juga ada. Mesti ada orang yang bertindak dalam kepercayaan dan keyakinan ini. Mesti ada orang yang mengujudkannya bagi kebutuhan saat itu. Ini arti kehadiran Yang Ilahi di tengah manusia. Bukan utopi. Tapi nyata dan memberikan ruang gerak dan keikutsertaan bagi manusia. Mengenali kehadirannya yang demikian ini membuat orang makin bijaksana. Dan kepemimpinan orang ini akan membawa keluar orang banyak dari kendala dan krisis serta ketidakpastian serta ketakutan. Pemimpin seperti ini dekat pada Yang Ilahi dan berpikir dalam ukuran-ukuran Dia, ia itu bisa diharapkan. Ia punya kredibilitas.

Nabi seperti Yesaya melihat keadaan zaman dan gelagatnya dan mulai berpikir dalam ukuran-ukuran orang yang percaya akan kebesaran ilahi. Ia tidak tubruk sana tabrak sini. Ia mengajak orang tenang dan melihat pelbagai alternatif. Inilah kepemimpinan kaum intelektual yang bisa dikembangkan. Ini juga cara bertindak yang memberi arti kongkrit pada apa itu percaya dan apa itu beriman. Nanti Yohanes Pembaptis juga ke sana, ia mengajak orang melihat keadaan kini untuk memahami keadaan zaman.

KARUNIA ROH BAGI PEMIMPIN

Petikan kali ini tidak mengajarkan agar tiap orang berharap memiliki semangat kepemimpinan. Bubrah bila semua orang memimpin. Juga tidak pada tempatnya semua orang mengharapkan diri jadi orang bijak. Ini tidak bisa terjadi dan malah membuat orang berebut kebijaksanaan Yang diajarkan dalam teks Yesaya ialah mencermati apakah orang yang diharapkan memimpin mengembangkan karunia itu. Orang banyak bisa mengatakan ini lho pemimpin yang kita maui. Kembangkan keterampilan ke sana.

Dalam teks Yesaya asli disebut tiga pasang karunia. Pertama yakni “hikmat” (yang bisa membuat yang bersangkutan membawa diri di muka orang banyak dan terampil memecahkan perkara-perkara) dan “pengertian” (pemahaman seluk beluk perkara-perkara kehidupan, bukan hanya yang kelihatan belaka).  Kedua, “nasihat” (yang membuat orang yang bersangkutan mahir merencanakan tindakan ke sebuah tujuan) dan “keperkasaan” (yang memungkinkan tercapainya tujuan tadi). Ketiga yakni “pengetahuan” (yakni kemampuan bernalar) dan “takut akan Tuhan” (yakni sikap beriman, takwa kepadaNya). Itulah gambaran ideal seorang yang bakal memimpin. Berarti diharapkan agar siapa saja yang memegang tugas kepemimpinan mengembangkan karunia itu. Niscaya akan disukai dan didukung rakyat, dan dapat mencapai  program politik dengan integritas orang yang percaya.

Catatan. Dalam teks Yunani dan Latin petikan ini, ada tambahan karunia “kesalehan”. Demikian ada tujuh karunia yang lazim diajarkan dalam pelajaran agama/katekismus dalam Gereja Katolik. Ini ajaran untuk mengusahakan sikap kepemimpinan di masyarakat menjadi kekuatan pribadi masing-masing orang untuk mengarahkan diri mengenali kehadiran Yang Ilahi dalam kehidupan.

Salam hangat,
A. Gianto