Kristus Raja Semesta Alam 24 Nov 13 (Luk 23:35-43)

Kristus Raja Semesta Alam 24 Nov 13 (Luk 23:35-43)

Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam 24 November 2013 (Luk 23:35-43)

Rekan-rekan peminat Injil!
Pada hari raya Kristus Raja Semesta Alam 4 November 2013 ini untuk penghabisan kalinya Injil Minggu diambil dari “Injil menurut Lukas”. Gus, itu Romo kalian kenal minta saya menerangkannya sendiri. Katanya ia sedang kekurangan gagasan. Aneh. Tapi bolehlah. Begini, ringkas saja, dalam Luk 23:35-43 itu tentang Yesus yang ketika bergantung di salib diolok-olok tiga macam orang, yakni para pemimpin (ayat 35), para serdadu (ayat 36), dan bahkan oleh salah seorang penjahat yang ikut disalibkan bersama dia (ayat 39). Cemoohan mereka intinya begini: kalau memang benar kau itu dipilih Allah jadi “Mesias”, “Raja”, dan “Kristus”, coba selamatkan diri sendiri dulu! Jadi mereka mau bertanya apa dasar bagi klaim Yesus sebagai Yang Terurapi – Mesias dan Kristus – yang juga Raja.

CEMOOH DAN GODAAN

Kalian masih ingat kan, peristiwa itu juga pernah disampaikan oleh Mark (Mrk 15:29-32) yang menjadi sumber Matt (Mat 27:39-44). Tapi dua rekan kita itu hanya menyebut hujatan dari dua kelompok orang, yakni mereka yang lewat di situ dan para imam kepala bersama ahli Taurat. Sumber khusus saya memuat cercaan yang diucapkan seorang dari dua penjahat yang disalibkan bersama Yesus. Juga saya temukan catatan berharga mengenai penjahat lain yang menegur kawannya yang menghina Yesus tadi. Katanya, apa tak takut kepada Yang Mahakuasa, kita ini memang pantas dihukum, tapi orang ini – maksudnya Yesus – tak bersalah (ayat 40-41). Kemudian ia malah minta Yesus mengingatnya apabila nanti datang sebagai Raja (ayat  42). Dan Yesus pun berjanji, hari itu juga orang itu akan ada bersama dia di dalam Firdaus (ayat 43).

Ketiga macam orang tadi sesungguhnya tidak mau percaya bahwa Yesus datang untuk menyelamatkan, melepaskan manusia dari marabahaya sehingga bisa terus hidup sampai akhir perjalanan. Dengan begitu mereka menyangkal semua upaya penyelamatan yang dilakukan Yesus sepanjang hidupnya: menyembuhkan, memberitakan Kerajaan Allah, mengusir setan, mengajar tentang Bapanya, memilih murid-murid untuk meneruskan kegiatannya. Tetapi Yesus tidak menuruti godaan untuk turun dari salib menyelamatkan diri. Sama seperti di padang gurun dulu, ia tidak membiarkan godaan menyeretnya ke tempat lain (Luk 4:1-13). Dari mana dia punya kekuatan bertahan ini? Saya kira karena ia sadar bahwa tujuan perjalanan hidupnya ialah mencarikan keselamatan bagi orang lain, bukan bagi diri sendiri. Juga sudah terlalu banyak orang yang mengikutinya, kan tidak fair bila tinggal gelanggang. Dan siapa yang akan menanggung orang yang disalibkan di sampingnya yang sedemikian mempercayakan diri kepadanya itu? Ah, tak satu domba pun akan ditinggalkan di jalan kehancuran, tak satu mata uang yang terselip pun akan dilupakan, setakpantas apapun anak yang kembali akan menggembirakan (Luk 15:1-32). Tapi siapa yang akan mengurus mereka kalau ia berhenti? Para pemangsa yang tak kelihatan sudah siap di sekitar, dan mereka semakin menjadi-jadi. Yesus itu lifeline dari atas sana bagi manusia yang terancam. Kalau putus bagaimana?

NOBLESSE OBLIGE

Harapan, kecemasan, dan penderitaan manusia,  itulah yang membuat Yesus maju terus. Penderitaan tidak hanya menyakitkan tapi bisa menebalkan integritas siapa saja yang menaruh diri menjadi sesama bagi yang menderita (bdk. Luk 10:25-37 tentang orang Samaria yang jadi sesama bagi orang yang malang). Jalan terus sampai akhir,  itulah mahkota menjadi sesama bagi manusia. Ia itu Raja yang tak membiarkan orang sendirian di tengah bahaya. Tindakan Yesus itu pernyataan teologis yang amat berani: Tuhan dimuliakan karena peduli dan berhasil jadi sesama bagi manusia! Inkarnasi bukanlah Yang Ilahi “nitis” dalam diri manusia pilihan, melainkan menjadi orang yang mengerti kelemahan manusia, yang peduli akan keadaan manusia.

Di antara orang-orang yang melihat kejadian di Golgota itu tentunya ada juga yang tadinya ikut mengelu-elukannya sebagai raja ketika datang memasuki Yerusalem (Luk 19:28-38 Mat 21:1-11 Mrk 11:1-10 Yoh 12:12). Matt bicara mengenai orang-orang bijak tahu bahwa seorang raja baru lahir dan mau menyatakan hormat kepadanya (Mat 2:2 dan 11). Itu kebahagiaan orang yang bijak. Namun kehadirannya langsung menjadi ancaman bagi orang yang lalim – Herodes. Kini di Golgota ia dikitari kelaliman yang sampai tiga kali menguaknya. Dan orang banyak melihat semua itu. Tetapi mereka belum siap mengambil sikap.

PENJAHAT YANG SADAR

Satu-satunya tokoh yang berbicara, baik dengan pencemooh maupun dengan Yesus, ialah penjahat yang sadar tadi. Begitulah ia bisa menjadi tuntunan suara hati orang. Tidak ikut-ikutan. Bahkan ia menegur kawannya. Ia mengakui patut dihukum. Kemudian ia minta kepada Yesus, agar mengingatnya nanti bila datang sebagai Raja. Orang itu sudah bisa berdamai dengan diri sendiri. Karena itu ia juga bisa melihat dan mengakui siapa sebenarnya Yesus itu. Para pemimpin tak bisa, juga para serdadu tak mampu. Mereka belum dapat berekonsiliasi dengan diri sendiri. Apalagi penjahat yang ikut-ikutan mengumpat tadi. Ia tak bisa menerima dirinya sendiri, maka tidak melihat siapa yang ada di sampingnya itu. Omong-omong, menurut Oom Hans, Pilatus mendengar dari Yesus sendiri penjelasan mengenai kedudukannya sebagai Raja, tetapi ia tidak menangkap (Yoh 18:33-38a). Mungkin itu cara Oom Hans menyampaikan bahwa untuk memahami Yesus sang Raja orang perlu bimbingan dari kebenaran sendiri. Tapi ah, Oom kita itu orang mistik. Saya menempuh jalan lain. Saya mau bilang, sejahat-jahatnya orang, kalau sudah bisa berdamai dengan diri sendiri, akan menemukan kebenaran. Karena itulah saya anggap penting memasukkan perkara itu dalam tulisan saya.

Jawaban Yesus (ayat 43) itu saya dapati dalam himpunan perkataannya yang beredar pada waktu saya mulai menulis. Dag-dig-dug hati saya, rasanya ia sedang berbicara kepada saya juga meskipun saya belum sepasrah orang yang disalibkan di samping Yesus itu. Kata pembimbing rohani, masih ada beban yang perlu dibenahi dulu. Tetapi kata-kata Yesus itu menyapa terus dan serasa ada daya luarbiasa yang mendorong menuliskan semuanya sampai plong. Berada kembali di Firdaus! Byaar! Seperti ketika manusia diciptakan dalam gambar dan rupa Pencipta sendiri (Kej 1:26-27). Pernah dengar cerita orang bijak mengenai Yang Mahakuasa ketika mengusir manusia dari Firdaus karena melanggar perintahnya (Kej 3:23)? Sebelum mengeluarkan mereka, ia membuatkan mereka pakaian dan mengenakannya sendiri pada mereka (Kej 3:21). Kiranya ini caraNya mengatakan bahwa Ia tidak membenci manusia walau mereka dikenaiNya hukuman. Ia menunggu mereka selesai menjalani hukuman dan kembali ke Firdaus. Diam-diam Ia tetap menyertai manusia dalam ujud suara hati yang bisa didengarkan dan yang menuntun di jalan setapak kembali ke Firdaus lewat jalan lain yang tidak dihadang penjaga berpedang api. Ini bukan hasil anganan. Lihat yang terjadi di Golgota! Apa yang dilakukan suara hati si terhukum yang berdamai dengan diri sendiri itu? Si terhukum itu menemukan jalan kembali ke Firdaus, dan bukan sendirian, melainkan bersama dengan Yang Punya Kuasa – dengan Raja itu! Yang Mahakuasa itu punya seribu satu cara menggapai manusia yang kehilangan arah. Dan taruh kata manusia putus asa, mblungker dan Tuhan sendiri sudah mau mutung kehabisan akal, masih ada “pengurus kebun” yang tak takut memintakan kelonggaran. Perumpamaan ini pernah saya sampaikan dalam Luk 13:1-9. Kalian yang mendampingi orang percaya akan mendapat kekuatan luar biasa bila belajar dari ketekunan serta keberanian pengurus kebun itu.

INRI

Mungkin ada yang ingin tahu tentang tulisan di kayu salib yang disuruh pasang oleh Pilatus. Memang dari kami berempat hanya Oom Hans sajalah yang pernah melihatnya sendiri. Tapi karena bukunya baru terbit lama sesudah kami bertiga selesai menulis, kesaksiannya tidak sempat kami kutip. Ia mencatat begini (Yoh 19:19) “Yesus orang Nazaret, raja orang Yahudi” yang katanya “…ditulis dalam bahasa Ibrani, Latin, dan Yunani” (ayat 20). Latinnya sering kalian lihat: “Iesus Nazarenus, Rex Iudaeorum”, disingkat jadi INRI. Sumber Mark hanya memuat “Raja orang Yahudi” (Mrk 15:26). Tapi Mark juga menegaskan, Yesus disalibkan karena ia Raja orang Yahudi. Matt mengikuti Mark dan membuat kalimatnya lebih terang dengan menyebut nama Yesus: “Inilah Yesus, raja orang Yahudi” (Mat 27:37). Semaksud dengan mereka, saya menyampaikannya sebagai “Inilah raja orang Yahudi” (Luk 23:38). Catatan kami bertiga pada dasarnya cocok dengan yang dilihat dan diingat oleh Oom Hans. Jadi kami berempat melaporkan bahwa tulisan yang disuruh pasang oleh Pilatus itu menandai siapa yang disalib di situ, yakni raja orang Yahudi, dan itulah alasannya ia disalibkan. Tulisan itu bukan dimaksud untuk menghina orang Yahudi, bukan pula untuk melecehkan Yesus seperti disangka beberapa penafsir. Pilatus tak butuh mengolok-olok. Ia mau menandaskan bahwa ia punya wewenang mensahkan hukuman bagi raja orang Yahudi, bukan orang yang diaku-akukan demikian. Pilatus tetap pada putusannya itu ketika imam-imam kepala Yahudi, seperti diingat Oom Hans, sia-sia mendesak agar rumusan tulisan itu diubah menjadi “Ia mengatakan: Akulah Raja orang Yahudi” (Yoh 19:21). Pilatus tegas,  ”Yang sudah kutulis tetap tertulis!”

SAMPAI LAIN KALI

Rekan-rekan yang baik, dengan ini saya juga mau minta diri. Setahun genap saya bertamu di ruang Alkitab walau pun tiap kali saya di antar Romo Gus. Tahun ini menyenangkan, antara lain karena sering diundang ke Roma. Terkenang kembali tahun-tahun menunggui Paul keluar masuk bui kena perkara politik, juga sampai saat-saat terakhir hidupnya. Apartemen saya dahulu bagian rumah Linus yang pernah dipakai Simon Petrus bersama asistennya, Mark, yang pindah ke Roma dari Yerusalem. Sepeninggal Simon Petrus, Mark membuat diktat ringkas yang beredar awal tahun 70-an di kalangan mereka yang penasaran ingin kenal siapa Yesus.  Dalam jangka 10 tahun setelah itu bermunculan beberapa bahan lain. Oleh karena itu saya membuat survei baru, menganalisisnya dengan teliti, lalu mengolahnya menjadi narasi supaya gampang ditangkap, sambil tetap memanfaatkan teks Mark yang cekak aos itu. Garis besarnya sudah saya singgung dalam surat perkenalan beberapa waktu yang lalu. Beberapa tahun sebelum saya, hal serupa dikerjakan pula oleh Matt. Tapi ia lebih banyak menyusun kembali catatan Mark serta meluaskannya, biasanya dengan  menyertakan bahan-bahan baru sambil menunjukkan hubungannya dengan Kitab Suci orang Yahudi. Gus akan menjelaskan selebihnya nanti. Hari-hari ini ia pergi rapat di Bologna, lalu katanya akan ikut pertemuan di Venezia sambil tengok Mark di sana dan pulangnya mau mampir Padua menziarahi ke relikui saya! Kata orang, ada juga saya di Praha. Malah tanpa mengajak bicara saya sendiri, satu tim ahli kedokteran, sejarah, dan teolog (!) memutuskan berdasarkan penelitian dari th. 1998 hingga awal th. 2004, bahwa kepala yang ada di Praha itu cocok bila dipasangkan di badan yang ada di Padua dan diperkirakan berasal individu yang sama, namanya “Loukas” seperti tertera di petinya, usia sekitar 84 tahun, jarang sakit kecuali encok tulang punggung di usia tua. Siapa itu ya? Jangan-jangan memang saya! Tapi mengapa mereka samasekali tidak bicara mengenai Luculius, kawan setia yang selalu digambar bersama saya?

Luculius itu lembu yang bertahun-tahun menarik gerobak saya. Dia pensiun ketika tidak kuat lagi naik tanjakan dan mesti didorong beramai-ramai bersama anak-anak di jalanan. Sehabis ngos-ngosan begitu, kami istirahat dan anak-anak itu minta upah diceritain tentang zaman dulu. Sebagian dari cerita-cerita itu kemudian jadi Kisah Para Rasul. Anak-anak itu senang dengar Paulus menang sihir-sihiran melawan Elimas (Kis 13:6-12), mereka menikmati cerita mengenai tujuh dukun yang dihajar babak belur, ditelanjangi oleh orang kerasukan setan tadi sampai lari lintang pukang (19:13-20), dan terharu oleh kisah tentang Eutikhus, remaja yang jatuh dari lantai ketiga karena tertidur sewaktu Paulus berkhotbah tapi syukur Paulus menghidupkannya kembali (20:7-12). Luculius tua ini kemudian lebih suka duduk seharian memamah biak dan menemani saya menulis. Ada yang tanya apa Luculius membisiki tentang orok yang terbungkus kain lampin dan dibaringkan di palungan (Luk 2:7) milik turun temurun keluarganya! Agak berlebihan juga fantasi beberapa pelukis bahwa Luculius punya sayap dan dulu suka menerbangkan saya pulang pergi Roma-Yerusalem riset buat jilid satu saya. Ah, Luculius, lembu tuaku itu! Selama saya bepergian, ia tinggal bersama anak cucunya di ranch milik benefaktor kami, Sir Theophilus, yang mengira di Roma sini saya naik kodok sampai Luculius terpingkal-pingkal.

Rekan saya Matt sudah berjanji menyertai kalian mulai Adven nanti. Ia itu kayak guru kalau menjelaskan kata-katanya serba teratur, terencana jauh-jauh. Pasti ia akan tuntas mengutarakan hal-hal yang belum sempat saya jelaskan. Mudah-mudahan pula Gus masih bisa membantu. Dan kalian akan tetap saya ingat dalam pembicaraan dengan Oom Hans, Oma Miryam, dan Mbak-mbak Martha dan Maria serta kawan-kawan lain. Mudah-mudahan bagi kalian kami juga bukan hanya serangkaian huruf yang tercetak dalam Alkitab.

Selamat tinggal,

Luc

InJ Mg Biasa XXXIII/C -17 Nov 2013 (Luk 21:5-19)

InJ Mg Biasa XXXIII/C -17 Nov 2013 (Luk 21:5-19)

Rekan-rekan yang baik!
Diceritakan dalam Luk 21:5-19 (Injil Minggu XXXIII C) bagaimana Yesus menegaskan kepada orang-orang yang sedang mengagumi keindahan Bait Allah bahwa satu ketika bangunan itu akan terbongkar seluruhnya dan diruntuhkan (ayat 5-6). Ketika mereka bertanya kapan saat itu tiba (ayat 7), Yesus menasihati mereka agar waspada terhadap orang yang mengatakan saatnya sudah tiba dengan memakai nama Yesus (ayat 8-9). Diajarkannya agar mencari pegangan yang sungguh dan tidak sibuk dengan spekulasi dan perhitungan belaka. Jangan pula cemas melihat kekacauan yang bisa jadi menandai datangnya saat itu, juga tak perlu gentar bila dituduh, karena akan memperoleh kata-kata hikmat darinya. Bila sanggup bertahan, mereka akan tetap hidup (ayat 10-19). Inilah warta bagi orang zaman itu. Dan juga bagi kita pada zaman ini? Marilah sekadar kita tengok dulu latar pemikiran orang banyak pada zaman itu.

ALAM PIKIRAN AKHIR ZAMAN

Sejak lebih dari tiga abad sebelum zaman Yesus, keadaan di negeri orang Yahudi semakin kacau sebagai akibat ketegangan dalam masyarakat Yahudi sendiri yang diperparah oleh datangnya kekuatan luar, mula-mula orang Yunani dan kemudian orang Romawi. Permusuhan timbul di antara pihak-pihak yang tadinya hidup berdampingan dengan damai. Masyarakat rasa-rasanya mengarah ke kehancurannya sendiri. Dalam keadaan itu berkembanglah anggapan bahwa Yang Mahakuasa telah menentukan akhir dari dunia yang makin tak menentu itu. Kapan terjadi menjadi pertanyaan besar. Kekacauan yang dialami tadi juga mulai dipahami sebagai tanda-tanda bakal segera datangnya akhir zaman tadi. Berbarengan dengan itu, berkembang kepercayaan akan tibanya seorang tokoh besar yang bakal memimpin orang keluar melewati zaman edan tadi. Dia akan membangun kembali kehidupan yang morat-marit itu. Mereka yang bertahan dalam zaman susah itu akan diselamatkan dan akan memasuki hidup baru.

Itulah secara garis besar alam pikiran yang kini lazim disebut eskatologi apokaliptik (“akhir zaman yang diberitahukan lewat tanda-tanda zaman edan”) dan mesianisme apokaliptik (“harapan akan datangnya tokoh terurapi pada akhir zaman tadi”). Alam pikiran ini terungkap dalam Perjanjian Lama dengan jelas dalam Kitab Daniel. Terdapat banyak tulisan lain yang bercorak sastra apokaliptik tetapi tidak termasuk Kitab Suci orang Yahudi. Ada yang berpikir zaman baru itu akan terjadi dalam kehidupan di dunia ini, ada pula yang mau menghayatinya sebagai kenyataan rohani.

Baik dalam pengertian politik maupun dalam pemahaman rohani, alam pikiran itu makin berkembang di tengah-tengah ketegangan yang makin memuncak. Akar-akarnya sudah ada sejak akhir abad 4 sebelum Masehi ketika para penerus Iskandar Agung, sang penakluk seluruh wilayah Timur Tengah itu, mulai meluaskan budaya Yunani di Siria-Palestina. Ada perlawanan keras dari beberapa golongan orang Yahudi. Tetapi haluan itu juga mengakibatkan munculnya tekanan pada mereka yang tidak berniat mengadakan perlawanan lewat kekerasan tapi mencari jalan lain. Orang-orang ini malah sering dimusuhi baik oleh sesama orang Yahudi yang mau melawan pengaruh Yunani maupun penguasa asing yang menyamaratakan semua orang Yahudi. Banyak di antara mereka mengungsi ke padang gurun dan tinggal di pelbagai “pertapaan”. Itulah asalmula pelbagai kelompok pertapa, seperti kaum Esseni, para rahib Qumran, dan tokoh-tokoh seperti Yohanes Pembaptis dan murid-murid mereka. Ketegangan tadi berlangsung terus pada zaman Romawi. Tidak semua orang Yahudi sepaham. Yesus dan murid-muridnya ada di dalam keadaan seperti itu tetapi mereka tetap berada di lapangan bersama orang-orang yang tetap mau bertahan, tidak mengungsi ke padang gurun.

IMAN YANG HIDUP, BUKAN TEOLOGI LAPUK

Penguasa Romawi menjalankan penumpasan keras terhadap tiap pergerakan yang mereka anggap mau melepaskan diri dari kuasa mereka. Tahun 63 seb. Masehi tentara Romawi dipimpin Pompei mengurung Yerusalem dan membawahkan negeri orang Yahudi pada pengaturan administrasi Romawi. Keadaan ini dirasakan orang sebagai tanda-tanda makin dekatnya akhir zaman.  Kemudian penghancuran kota itu bersama dengan Bait Allah pada tahun 70 oleh Titus membuat orang makin melihat bahwa akhir zaman itu sebuah kenyataan yang tak terelakkan. Murid-murid Yesus pun hidup dalam alam pikiran seperti itu. Tetapi bagi mereka, Yesus yang telah bangkit nanti akan kembali lagi dengan kemuliaannya mengawali zaman baru setelah zaman edan yang sedang mereka alami itu selesai.

Ada dua macam cara menghayati iman kepercayaan. Murid-murid Yesus tergolong mereka yang berusaha memahami bagaimana bisa hidup terus sebagai orang percaya dan menemukan maknanya dalam zaman yang berubah-ubah dan sering sukar. Iman mereka menjadi hidup. Tapi ada juga kelompok yang lebih suka memperlawankan iman kepercayaan secara frontal dengan pelbagai perubahan zaman. Meski kelihatan kukuh, pemahaman iman atau teologi seperti itu tidak banyak membantu. Tetapi itulah sikap umum Sanhedrin sebagai pemegang kendali hukum agama waktu itu. Mereka jelas tak mau menerima kehadiran orang Romawi. Tetapi karena menghitung kekuatan sendiri tidak cukup, mereka tidak mengadakan perlawanan. Bahkan mereka menekan siapa saja yang mereka anggap akan membuat orang Roma menyangka ada gerakan perlawanan Dalam pandangan mereka, Yesus dan para pengikutnya mau berontak dan waswas bila nanti pihak Roma akan pukul rata menumpas semua mereka dan kelembagaan agama mereka, yaitu Bait Allah dan kedudukan khas kota Yerusalem. Tetapi para pemimpin itu tetap tidak bisa meluputkan dua lembaga itu dari kehancuran. Bagi mereka yang memandang semua ini dengan alam pikiran mengenai datangnya akhir zaman tadi, kedua lembaga keagamaan tadi memang sudah lapuk dari dalam, tinggal tunggu runtuhnya. Penumpasan oleh pasukan Romawi itu memudahkan, bukan menjadi penyebabnya.

WARTA INJIL

Warta Injil bagi orang-orang yang hidup pada zaman itu sederhana tapi memberi ketenangan, yakni jangan mudah mempercayai orang yang mengaku diri Mesias (ayat 8), dan tabahlah dalam penderitaan (9-19). Penderitaan tidak membuat orang-orang putus harapan asal masih percaya akan datang seorang pembebas. Murid-murid dihimbau agar tidak mudah mempercayai orang-orang yang mengaku diri Mesias karena klaim seperti itu tidak berdasar, tidak meyakinkan. Kemesiasan bukan kedudukan melainkan apa yang nyata-nyata dijalankan. Batu ujinya ialah apakah membuat orang makin lega dan merdeka. Para murid diajak mengingat kembali semua ajaran Yesus dan menjadikannya bagian suara hati. Kemudian, mengapa mereka juga diminta agar tabah, agar bertahan? Bila orang tidak tabah dan mudah menyerah kepada keyakinan yang dipaksakan, maka keyakinan yang mereka ajarkan itu tak bisa dipersaksikan. Sulit mempercayai warta orang yang tak memiliki integritas. Tabah bukan berarti nekat atau biar asal menderita. Tabah berarti bijaksana, inilah maksud ayat 15 yang menyampaikan perkataan Yesus bahwa ia sendiri akan memberikan “kata-kata hikmat” kepada para pengikutnya.

MENUJU KE BAIT YANG BARU

Keagamaan yang berpusat pada Bait Allah itu macet dan tidak membuat orang merasakan kehadiran Yang Ilahi di situ. Bait seperti ini tidak akan bertahan. Memang petikan Injil hari ini ditulis Lukas setelah Bait Allah betul-betul sudah diruntuhkan pada tahun 70. Murid-murid ingat bahwa Yesus dulu pernah mengatakan bahwa akan terjadi. Bagi penguasa Roma, menghancurkan Bait Allah berarti menghilangkan lambang yang menyatukan perasaan religius orang Yahudi yang menjadi ancaman bagi kuasa Romawi. Namun, bagi orang-orang seperti Yesus dan murid-muridnya, kehancuran Bait Allah ini tak terelakkan karena lembaga ini telah terlalu jauh menyalahi perannya sendiri. Pernah ditunjukkan di dalam pembicaraan mengenai kesembuhan sepuluh orang kusta (Luk 17:11-19) bahwa mereka tak mungkin dinyatakan sembuh oleh imam di Bait Allah meski sudah sembuh sungguh. Juga dalam perumpamaan orang Farisi dan pemungut cukai (Luk 18:9-14) ditekankan bahwa orang yang dibenarkan ialah pemungut cukai yang “berdiri jauh-jauh” (ayat 13) dari Bait tempat berdoa orang yang merasa memiliki kebenaran, yakni orang Farisi yang akhirnya tidak dibenarkan itu. Dalam perumpamaan tentang orang yang hampir mati dirampok di perjalanan, diceritakan ada imam dan seorang Lewi lewat dan melihat orang tadi tanpa memberi pertolongan. Mereka itu termasuk lembaga Bait Allah! Dan masih ada beberapa contoh lain di mana Bait Allah tampil bukan sebagai tempat orang memperoleh kebaikan ilahi, tapi malah menghalang-halangi. Karena itu keberadaannya tak lagi berarti. Akan hancur. Namun, seperti disampaikan Injil Yohanes sehubungan dengan peristiwa pembersihan Bait Allah, (Yoh 2:19), Bait yang hancur itu akan dibangun Yesus kembali dalam tiga hari (Lihat juga tuduhan kepadanya di Sanhedrin Mat 26:61 Mrk 14:58.) Dan bangunan yang baru itu akan menjalankan peran dari Yang Terurapi yang sesungguhnya, yang tidak menyekap Yang Ilahi dan memagari ruang gerak-Nya, tapi bisa menghadirkan-Nya di tengah-tengah manusia.

Salam hangat,
A. Gianto

InjMgBiasa XXXII/C 10 Nov13 (Luk 20:27-38)

InjMgBiasa XXXII/C 10 Nov13 (Luk 20:27-38)

Rekan-rekan yang budiman!
Dalam Luk 20:27-38 (Injil Minggu Biasa XXIII/C) terungkap perbincangan antara orang-orang Saduki dan Yesus mengenai hidup setelah kehidupan di dunia ini. Apa arti permasalahan itu bagi orang pada zaman ini? Marilah kita tengok terlebih dahulu siapa itu orang-orang itu dan apa haluan pemikiran mereka.

ORANG SADUKI DAN ORANG FARISI

Di kalangan orang Yahudi waktu itu ada sekelompok orang yang dikenal sebagai kaum Saduki. Mereka hanya mengakui kitab-kitab Taurat, yakni Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Kepercayaan yang tidak berlandaskan Taurat tidak mereka terima. Karena itu mereka juga menyangkal adanya kebangkitan. Memang kebangkitan hanya disinggung dalam Dan 12:2 dan Yes 26:19 yang tidak termasuk Taurat. Dalam hal ini kaum Farisi jauh berbeda. Mereka menegaskan adanya kebangkitan setelah kehidupan di dunia ini. Menurut pandangan mereka, di akhirat ada kelanjutan dari kehidupan di dunia ini lengkap dengan semua lembaganya seperti yang dapat dialami di dunia ini. Persoalan mengenai perempuan yang bersuamikan tujuh bersaudara yang mati bergiliran (Luk 20:28-33) adalah cara orang Saduki melecehkan pendapat orang Farisi. Bila ada kehidupan kelak, maka seperti ditanyakan dalam ayat 33, siapa dari ketujuh bersaudara itu yang menjadi suami perempuan tadi? Dalam hukum Musa ada perkawinan Levirat yang menggariskan agar orang mengawini istri saudaranya yang meninggal demi menjaga kelanjutan keturunan saudaranya itu (Ul 25:5-6). Inilah hukum yang dirujuk orang Saduki dalam Luk 20:28.

Orang Saduki bukannya berpendapat bahwa setelah mati manusia hilang begitu saja. Masih ada kelanjutannya, namun bukan berujud kehidupan kembali dengan kebangkitan seperti dipikirkan orang Farisi. Bagi orang Saduki, setelah mati orang masuk ke Syeol, ke dalam kegelapan seperti pada masa sebelum Penciptaan. Keberadaan seperti itu berlanjut terus dan tak ada banyak harapan berubah. Pandangan seperti ini umum diterima dalam alam pikiran Perjanjian Lama dan dunia Timur Tengah pada masa itu.

PERKEMBANGAN KESADARAN

Orang-orang dulu terusik batinnya memikirkan keberadaan di Syeol yang tak terelakkan itu. Mereka mulai bertanya-tanya apakah perbuatan baik selama hidup di dunia ini tidak ada artinya kelak? Lalu bagaimana dengan orang yang menderita terus selama di dunia ini? Apa akan terus terhukum dalam keberadaan tanpa arti itu? Tak ada pelepasan? Di manakah keadilan ilahi? Pertanyaan ini mendasari seluruh Kitab Ayub.

Baru menjelang pembuangan berkembang gagasan bahwa di akhirat akan ada pelepasan dari penderitaan sekarang, akan ada pahala abadi bagi perilaku baik dan hukuman kekal bagi kejahatan. Lambat laun keberadaan setelah mati nanti semakin disadari sebagai kehidupan baru. Menurut kaum Farisi, kehidupan ini mulai dengan kebangkitan untuk dapat menikmati hal-hal yang membahagiakan secara badaniah juga. Gagasan inilah yang ditolak mentah-mentah orang Saduki.

Keberadaan sesudah hidup di dunia ini memang menjadi pemikiran banyak orang. Orang mau tahu jalan ke hidup kekal, tentunya hidup kekal yang membahagiakan. Ada orang kaya datang bertanya kepada Yesus mengenai jalan ke hidup kekal (Mat 19:16-26 Mrk 10:17-27 Luk 18:18-27). Yesus merujuk kembali kepada ajaran Taurat yang tentu diketahui dan dijalankan orang itu sejak masa mudanya. Itu cukup. Hidup di akhirat nanti bergantung dari upaya menjalankan kebaikan di dunia ini. Kekayaan rohani ini bisa menjadi pijakan bagi hidup di akhirat nanti. Yesus menambahkan, tapi kalau mau sempurna, hendaknya orang kaya itu berani merelakan semua miliknya bagi orang miskin dan mengikuti Yesus. Dengan melepaskan diri dari semua miliknya, orang dapat dipenuhi karunia ilahi. Begitulah orang akan hidup bahagia di hadirat Tuhan sendiri, bukan sebatas menikmati pahala atau menghindari hukuman. Tapi juga ditegaskan, tak ada orang yang bisa mencapai kesempurnaan ini dengan kekuatan sendiri. Hanya Tuhan-lah yang bisa menjadikannya nyata baginya.

TUHANNYA ORANG HIDUP

Orang-orang Saduki ingin tahu apakah Yesus berpihak kepada orang Farisi dalam hal kebangkitan. Jawabannya (ayat 34-38) dimaksud untuk menyadarkan lawan bicaranya mengenai apa yang sebenarnya mau dibicarakan: pikiran-pikiran kita sendiri tentang akhirat atau mau belajar mengenai Dia yang bakal kita pandangi dari dekat nanti?

Dalam menanggapi kasus perempuan yang bersuami tujuh bersaudara yang mati satu persatu itu, Yesus mengatakan bahwa perkawinan itu lembaga dari dunia sini dan ada bagi urusan di dunia ini. Maksudnya, perkara itu tidak bisa diterapkan bagi keadaan dunia sana (ayat 34-36). Lalu bagaimana kita bisa membayangkan perkara-perkara di akhirat nanti? Tentunya memakai hal-hal yang bisa membantu mengerti dunia sana itu. Dalam ayat 37-38 Yesus mengajak orang Saduki memperhatikan satu peristiwa yang ada dalam Taurat, kitab-kitab yang mereka terima. Dirujuknya Kel 3:6. Di situ Tuhan mewahyukan diri kepada Musa sebagai Tuhannya Abraham, Tuhannya Ishak, dan Tuhannya Yakub. Maksudnya, leluhur Musa sudah mengenalNya sebagai Tuhan yang menyelamatkan mereka dan tetap akan menyelamatkan keturunan mereka. Ia Tuhan Pencipta, tapi juga Tuhan yang menyelamatkan, ia Tuhan orang hidup, bukan Tuhan orang mati.

TENTANG ARWAH

Sekali-sekali kita dengar ada orang yang merasa bisa berkomunikasi dengan “dunia sana”, dengan arwah orang yang sudah meninggal yang datang dengan permintaan, keluhan, peringatan, atau petunjuk. Bagaimana pelayanan pastoral kita? Cara Yesus menanggapi hal seperti ini dapat membantu. Ia mengajak orang memusatkan perhatian kepada Tuhan yang menampakkan diri kepada Musa sebagai Penyelamat leluhur Musa sendiri. Ia itu Tuhan orang hidup, Tuhan kita-kita ini. Dan orang-orang yang telah mendahului? Beginilah penalaran Yesus. Karena Tuhan itu Tuhan yang menyelamatkan, maka orang-orang yang mendahului kita itu juga tetap hidup. Dalam ujud mana dan bagaimana tidak kita ketahui. Namun kita yakin mereka bahagia di hadiratNya. Mereka membantu melantarkan kita ke hadirat ilahi. Ya! Mereka itu kekuatan-kekuatan yang dapat membantu kita semakin dekat dengan Dia justru karena mereka sudah dekat denganNya. Tapi bila terasa mereka menarik perhatian kepada mereka sendiri, boleh kita ragukan apakah kekuatan-kekuatan ini sungguh dekat pada Tuhan – atau mereka itu kekuatan-kekuatan yang mau menjauhkan kita daripadaNya?

Ada seorang yang dapat membantu kita mengerti. Maria melantarkan kita kepada Tuhan seperti di Kana dulu ketika mendengar penyelenggara pesta gelisah karena kehabisan anggur. Memang Maria datang kepada Yesus mengatakan hal itu. Tapi ia meminta para pelayan supaya menjalankan apa saja yang dikatakan Yesus (Yoh 2:5). Maria mengajak orang semakin mendengarkan Yesus. Kisah itu bersangkutan dengan kehidupan di dunia, namun Maria kini hidup di hadirat Tuhan. Caranya melantarkan kita juga masih sama. Ia juga berdoa bagi “kami yang berdosa ini, sekarang dan pada waktu kami mati” (Salam Maria). Para orang kudus, seperti Oma Miryam kita itu, dapat membantu kita mendengarkan Tuhan.

Bagaimana bila ada orang datang dan bercerita merasa didatangi mendiang sanak saudara yang sambat-sambat belum punya tempat yang tetap….masih ke sana ke mari. Bagaimana tanggapan pastoral kita? Tak baik kita berlaku sebagai orang Saduki yang meremehkan hal ini. Tapi kalau kita meng-iya-kan saja, rasanya juga tidak memberi pelayanan yang baik Bagaimana bila kita katakan, jangan arwah yang datang itu “ditahan” dengan pikiran-pikiran kita sendiri mengenai mereka? Kita sekarang tahu bahwa energi rohani kita luar biasa besarnya. Bila kita belum bersedia “merelakan”, bisa jadi jejak-jejak mereka juga tak dapat sepenuhnya meninggalkan keterbatasan dunia ini. Perkara ini sering kurang kita sadari. Sekali lagi kita bisa belajar dari Maria – lewat ingatan Oom Hans. Di kayu salib Yesus menyerahkan Maria kepada Yohanes yang dimintanya menerima Maria sebagai ibunya (Yoh 19:25-26). Apa maksudnya? Maria dibesarkan hatinya agar saat itu juga merelakan. Sekarang Yohanes itu anakmu. Juga dicatat Luc, Yesus ini seperti waktu kecil dulu, ia sudah merasa perlu tinggal di rumah Bapanya (Luk 2:49). Sudah lama Oma Miryam menyimpan perkara ini dalam hatinya, bisik Luc. Kebesaran budi hati Maria yang merelakan Yesus itulah yang membuat kepergiannya kepada Bapa menjadi jalan bagi Yesus untuk dapat hadir kembali mempersaksikan kepada kita kebesaran BapaNya.

Salam hangat,
A. Gianto