InjMg XXVI C 29 September 2013 (Luk 16:19-31)

InjMg XXVI C 29 September 2013 (Luk 16:19-31)

Rekan-rekan yang budiman!
Ada baiknya perumpamaan orang kaya dan Lazarus (Luk 16:19-31; Injil Minggu Biasa XXVI tahun C) dipahami dalam konteks kehidupan Gereja Awal. Kini cukup diketahui bahwa generasi kedua para pengikut Yesus kebanyakan berasal dari kalangan menengah seperti para pengusaha, pedagang, sarjana, tabib, guru, seniman yang bekerja pada keluarga-keluarga bangsawan atau penguasa militer di kota-kota di wilayah kekuasaan Romawi. Perkembangan umat memang pertama-tama meluas ke lapis atas dalam masyarakat. Dari sana baru kemudian ke lapis-lapis lain di masyarakat luas.

Di kalangan itu tumbuh kesadaran bahwa warta mengenai Kerajaan Allah tidak hanya menjawab keinginan untuk selamat kelak di akhirat, tetapi juga menjadi dorongan untuk memperhatikan orang-orang yang tidak seberuntung mereka, yakni kaum miskin yang hidup di luar kalangan mereka. Karena itu komunitas kristiani awal juga meluas ke lapis bawah. Keadaan ini tercermin dalam gambar ideal mengenai jemaat pertama dalam Kis 2:44-45 dan 4:34-35. Disebutkan bahwa ada yang menjual kepunyaan mereka lalu mengumpulkan uangnya dan menyerahkan kepada para rasul untuk dibagi-bagikan kepada orang miskin menurut kebutuhan mereka. Bukan agar sama rata sama miskin, melainkan untuk memungkinkan yang kurang berkesempatan untuk ikut menikmati keberuntungan. Bagi mereka ini cara untuk memelihara integritas – kesungguh-sungguhan dan kejujuran – dalam hidup umat. Ada gambaran yang tajam mengenai mereka yang menyalahgunakan kegiatan ini. Diceritakan dalam Kis 5:1-11 bahwa Ananias dan istrinya, Safira, terkutuk mati karena menahan sebagian hasil penjualan tanah mereka dan tidak membagikan kepada orang miskin. Perumpamaan mengenai orang kaya dan Lazarus dalam Luk 16:19-31 ditampilkan dengan latar kesadaran seperti ini.

Hubungan antar anggota semakin didasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan yang tidak lagi mengikuti batas-batas kelompok sosial, bahkan mengatasi perasaan permusuhan turun-temurun. Perumpamaan orang Samaria yang baik hati mencerminkan kesadaran ini. Juga persyaratan radikal menjadi murid Yesus – meninggalkan orang tua, sanak saudara, milik dan warisan (bdk. Luk 14:25-33). Juga baru bisa dipahami bila gagasan itu dipandang dalam hubungan dengan kesadaran baru yang lebih kuat daripada ikatan-ikatan keluarga. Mereka juga mengikuti sikap Yesus dalam menaruh kemanusiaan di atas aturan-aturan kehidupan beragama seperti penyucian hari Sabat (bdk. 14:1-6), kecenderungan menjauhi pemungut cukai dan para pendosa (bdk. Luk 15:1-3). Bagi umat Gereja Awal, kehidupan ini rasanya belum utuh bila ada satu saja nilai kemanusiaan yang tidak diterima (bdk. tiga perumpamaan mengenai sesuatu yang hilang yang ditemukan kembali Luk 15:4-32).

ENGGAN BERBAGI KEUNTUNGAN?
Dalam perumpamaan ini orang kaya ditampilkan sebagai orang yang hidup tak kurang suatu apa. Di mata orang banyak ia dilimpahi berkat Allah. Lazarus kebalikannya. Ia duduk meminta-minta di gerbang rumah orang kaya itu. Lazarus seolah-olah sudah kehilangan martabat sebagai manusia. Ia akan merasa beruntung bila mendapat sisa-sisa makanan. Ia tidak termasuk kelompok orang yang beruntung menikmati kebahagiaan seperti orang kaya dan rekan-rekannya

Seperti disebut di muka, dalam Gereja Awal makin tumbuh kesadaran bahwa mereka yang mengalami keberuntungan wajib memperhatikan mereka yang berkekurangan. Akan celaka bila tidak mengindahkan kewajiban ini. Diceritakan, baik Lazarus maupun orang kaya itu meninggal dan keadaan mereka selanjutnya berbeda. Lazarus terbebas dari penderitaan dan memperoleh kebahagiaan bersama dengan nenek moyangnya. Orang kaya itu sebaliknya tersiksa di dunia orang mati. Dari sana ia berseru meminta Abraham agar menyuruh Lazarus memberinya setetes air saja yang dari ujung jarinya untuk mengurangi dahaganya.

Semasa hidupnya si kaya itu tidak punya perhatian samasekali kepada Lazarus. Kini ia meminta Abraham agar menyuruh Lazarus menolong dia. Baginya Lazarus hanya pantas jadi pesuruh. Ia bahkan tidak mau kenal padanya walau tahu siapa namanya. Meski nasibnya terbalik, si orang kaya itu tetap mau meninggikan diri. Tapi kenyataan di akhirat itu lain. Kini ia harus mendongak melihat Lazarus yang berada di atas, bersama Abraham – nama yang artinya “Bapa (= “ab”) Yang Luhur (“ram”, juga dieja sebagai “raham”, jangan dikacaukan dengan akar kata “rakham”, berbelaskasih).

SIAPA ORANG KAYA ITU?
Ketika masih hidup dan berkedudukan tinggi, orang kaya itu tak butuh apa-apa. Ia tak peduli ada orang yang kelaparan dan sakit di dekat pintu gerbang rumahnya. Sebetulnya ia bisa berbuat baik kepada Lazarus. Sedikit kebaikan saja takkan mengurangi miliknya. Malah ia akan beruntung karena kebaikannya nanti akan diingat di akhirat. Boleh jadi ia juga tak percaya ada kelanjutan hidup di akhirat. Ia baru merasakan kebenaran setelah betul-betul mati Meskipun demikian, seperti dikatakan dalam ayat 27 ia masih berani sekali lagi meminta kepada Abraham agar mengirim Lazarus memperingatkan kelima saudaranya supaya mereka tidak bernasib sama dengannya. Apakah permintaan ini menunjukkan ia masih memiliki rasa kemanusiaan, paling tidak bagi saudara-saudaranya? Tidak! Bukan kemanusiaan yang tulus. Ia hanya mau memperbudak Lazarus lewat Abraham. Juga kelima saudaranya hanya dipakai sebagai alasan agar Lazarus masih menjalankan apa yang diinginkannya. Di akhirat pun ia tidak memiliki kepekaan terhadap Lazarus, juga terhadap dirinya sendiri.

Kata Abraham, kelima saudara itu mestinya dapat menemukan bimbingan dari Musa dan para nabi, maksudnya dari wahyu ilahi dalam Kitab Suci. Tetapi orang kaya tadi ngotot. Saudara-saudaranya, katanya, takkan diyakinkan dengan cara ini. Mereka baru akan percaya bila didatangi dan diperingatkan orang yang kembali dari dunia orang mati. Jelas ia mau memaksakan agendanya sendiri kepada Abraham dan kepada Lazarus. Ia tidak percaya pada Kitab Suci dan wahyu ilahi. Lebih buruk lagi, ia beranggapan saudara-saudaranya juga tak percaya seperti dia. Ia tidak memberi peluang bagi perubahan yang bisa terjadi pada orang-orang seperti dia. Sampai mati pun si orang kaya itu tidak peka akan keadaannya sendiri.

MOTIF “LAZARUS” DALAM INJIL YOHANES
Dalam Injil Lukas, Lazarus hanya sekadar tokoh dalam perumpamaan. Tetapi dalam Injil Yohanes, Lazarus ialah tokoh dalam kehidupan. Tak ada hubungan antara kedua tokoh tadi. Namun masing-masing berpautan dengan motif kembalinya orang yang bernama “Lazarus” ke dunia orang hidup untuk membuat orang-orang menjadi percaya. Seperti diberitakan dalam Yoh 12:46 dst. beberapa orang yang melihat kejadian pembangkitan Lazarus datang melapor ke pada orang Farisi dan imam-imam kepala. Mereka kemudian membicarakannya dalam sidang Mahkamah Agama. Mereka bersepakat untuk tidak membiarkan orang banyak makin percaya kepada Yesus (Yoh 12:48). Dalam perhitungan mereka, penguasa Romawi akan menafsirkan bertambahnya pengikut Yesus ini sebagai awal pemberontakan orang Yahudi dan khawatir nanti tentara Romawi akan menumpas dan merampas tempat suci mereka. Meskipun pembangkitan Lazarus menjadi tanda besar kehadiran ilahi, orang-orang Farisi dan imam-imam kepala akhirnya tak mau mempercayainya karena mereka tak dapat membacanya sebagai tanda yang dipakai Yang Mahakuasa berkomunikasi dengan manusia. Ironis, mereka yang sebetulnya dekat dengan Kitab Suci itu ternyata tidak memiliki kepekaan. Kembalinya Lazarus ke dunia orang hidup tidak membuat mereka sadar. Demikian pula kata-kata Abraham kepada orang kaya dalam Luk 16:31, jika orang tidak dapat diyakinkan oleh Musa dan para nabi, maksudnya oleh wahyu ilahi dalam Kitab Suci, mustahil ia bisa diyakinkan oleh orang mati yang hidup kembali.

PEKA ISYARAT TUHAN, PEKA KEMANUSIAAN
Perumpamaan ini diceritakan kepada para murid agar disampaikan kepada orang banyak. Apa yang tak beres dalam kehidupan orang kaya tadi? Ia tidak mampu lagi berkomunikasi dengan orang yang membutuhkan pertolongan. Kenapa? Ia tidak membiarkan dirinya sendiri atau orang lain seperti dia belajar mendengarkan Tuhan. Ketumpulan batin orang kaya tadi telah mengikis nurani kemanusiaannya sendiri. Ia tidak bisa merasakan belas kasihan terhadap Lazarus yang tiap hari dilihatnya duduk di dekat pintu gerbang rumahnya. Ketumpulan batin itu akhirnya mengurungnya di neraka.

Bagaimana mewartakan perumpamaan ini? Bukan dengan tujuan agar orang kaya cepat-cepat sadar dan mulai berbagi harta dengan kaum miskin, bukan pula sebagai hiburan bagi para Lazarus yang hidup di kolong jalan layang di Jakarta atau orang yang keleleran di emperan ruko di malam hari. Perumpamaan ini disampaikan dengan maksud agar para murid tidak meninggalkan baik si kaya maupun Lazarus. Tugas para murid ialah mengurangi jarak antara Lazarus dan kebaikan nyata Tuhan di dunia dan jarak antara si kaya dengan kebahagiaan yang tak diperolehnya di akhirat.

Bila terjadi, maka si kaya akan menemukan jalan bagaimana berbagi keberuntungan dengan mereka yang berkekurangan dengan cara yang paling cocok. Dan bagi orang-orang seperti Lazarus, perasaan Tuhan berada jauh tidak akan membuatnya putus asa. Namun lebih-lebih bagi kita, perumpamaan itu mengungkapkan sosok Tuhan yang tidak meninggalkan orang yang sudah tanpa harapan lagi baik di dunia maupun di akhirat. Dan kita dihimbau untuk berani memperkenalkan wajah Tuhan yang seperti itu.
Salam hangat,
A. Gianto

InjMg XXV/C 22 Sep 2013 (Luk 16:1-13)

InjMg XXV/C 22 Sep 2013 (Luk 16:1-13)

Rekan-rekan yang baik!
Perumpamaan mengenai bendahara yang tidak jujur dalam Luk 16:1-8a dilanjutkan dengan pernyataan bahwa kepintaran anak-anak dunia ini melebihi anak-anak terang (ayat 8b-9) ditambah pepatah barangsiapa setia dalam perkara kecil bisa dipercaya pula dalam perkara besar (ayat 10-12). Petikan yang dibacakan pada hari Minggu Biasa XXV tahun C ini berakhir dengan penegasan bahwa tak mungkin mengabdi dua tuan (ayat 13). Ada ajakan untuk menemukan jalan lurus dalam liku-liku kehidupan di dunia ini. Dengan kata lain, orang beriman didorong agar berani belajar dari kenyataan dalam kehidupan yang acap kali terasa berlawanan dengan cara hidup “orang baik-baik”.

MENGABDI DUA TUAN?!
Marilah kita mulai dengan akhir petikan itu, yaitu ayat 13. Di situ ditegaskan bahwa tak mungkin mengabdi kepada dua tuan. Alasannya, cepat atau lambat akhirnya orang akan memihak kepada yang satu dan meninggalkan yang lain. Tak mungkin menyembah Allah dan pada saat yang sama mengabdi Mamon, maksudnya uang, harta, kedudukan…semua yang serba duniawi. Ini pernyataan atau peringatan? Bentuknya memang pernyataan. Tapi dapat pula dimengerti sebagai peringatan agar murid Yesus tidak berhati mendua. Memang dalam hal apapun sikap mendua tidak baik. Namun ini kan bukan barang baru. Sama dengan peringatan agar melepaskan “orang tua, sanak saudara, diri sendiri, milik” agar menjadi murid yang sejati seperti terungkap dalam Luk 14:25-33. Namun bukan barang baru pula bila dalam prakteknya komitmen utuh seperti itu tidak mudah. Arahnya memang jelas, tapi dalam pelaksanaannya kerap orang gagal mengabdikan diri dengan sepenuh hati. Lalu untuk apa mengutik-utik perkara yang tak bisa dielakkan ini? Kenyataan hidup sering menampilkan wajah yang berbeda daripada yang diidealkan begitu saja. Apakah Injil mau menyederhanakan kehidupan? Bila demikian, yang kita dengar bukan Warta Gembira melainkan serangkai omongan saleh tapi basi dan tidak banyak membantu orang semakin mengenali liku-liku kehidupan yang nyata. Begitukah? Untuk menjawabnya baiklah diperiksa perumpamaan mengenai bendahara yang tidak jujur. Petikan ini juga berguna untuk lebih memahami tuntutan menjadi murid sejati dalam Luk 14:25-33 tadi.

Di manakah ketidakjujuran bendahara dalam perumpamaan ini? Pada perbuatan memotong hutang yang diceritakan dalam ayat 6-7 atau karena telah “menghambur-hamburkan” milik tuannya seperti disebut dalam ayat 1? Dengan kata lain, karena kolusi, kongkalikong dengan langganan dan merugikan pemilik perusahaan atau pada perbuatan korupsi dan memboroskan uang perusahaan bagi keperluan sendiri? Lalu kenapa ia dipuji?

APA PERKARANYA?
Bendahara tadi kiranya pernah mengadakan jual beli minyak dan gandum dengan maksud kurang jujur. Jumlah yang disebut, 100 tempayan minyak dan 100 pikul gandum adalah jumlah yang besar, dan tetap besar setelah dipotong menjadi 50 tempayan dan 80 pikul. Jelas pula dari jumlah yang disebutkan itu ia tidak berurusan dengan konsumen, tetapi dengan pedagang lain. Transaksi besar seperti ini di mana-mana lazimnya tidak dibayar lunas seketika. Langganan memiliki rekening pada perusahaan dagang tempat bendahara itu bekerja. Dalam hal ini bendahara tadi telah berlaku tak jujur. Yang sebetulnya 50 tempayan dicatatnya sebagai 100 tempayan, yang 80 pikul didaftarnya sebagai 100 pikul. Ia tentu berpikir akan dapat mengantongi keuntungan pembayaran nanti.

Malang baginya, perbuatannya yang tak terpuji itu terendus dan rupa-rupanya ada keluhan yang sampai ke telinga pemilik perusahaan. Karena itu pemilik meminta pertanggungjawaban. Bendahara itu menyadari, kini ia tak bisa enak-enak saja. Ia akan diperkarakan. Memang ia tidak langsung dipecat. Ia baru diminta memberi laporan. Di sinilah titik balik dalam perumpamaan tadi. Bendahara tadi mencari upaya bagaimana melepaskan diri dari krisis ini. Terpikir olehnya, mumpung masih ada waktu, baiklah cepat-cepat memperbaiki keadaan. Caranya lihai. Ia membersihkan pembukuan palsu yang tadinya diperhitungkan akan menguntungkannya. Inilah sebetulnya yang terjadi dalam pemotongan utang yang diceritakan dalam ayat 6 dan 7.

Perlu kita pahami cerita ini bukan sebagai laporan peristiwa. Bukan nasihat agar para penjahat keuangan bertobat. Ini perumpamaan yang disampaikan untuk mengajak para murid berpikir bagaimana bisa menghadapi liku-liku kehidupan ini dengan sikap yang cocok. Pembaca zaman dulu juga sadar bahwa yang diceritakan ialah perumpamaan dan tidak akan berusaha mencek dengan kenyataan praktek dagang atau mempertanyakan rinciannya. Malah bisa kita andaikan para pembaca dulu tidak mengalami kesukaran di dalam menangkap tujuan perumpamaan itu. Mereka langsung melihat di mana ketidakjujuran si bendahara, yakni dalam hal memboroskan milik yang dipercayakan kepadanya agar dikelola dengan baik, tapi akhirnya mau dikantonginya sendiri. Ini jelas dari tuduhan yang dikenakan kepadanya pada ayat 1. Jelas pula mengapa pemilik meminta pertanggungjawaban dan segera akan memecatnya.

Oleh karena itu transaksi yang diceritakan dalam ayat 6-7, yakni mengurangi jumlah hutang itu, sebaiknya dimengerti sebagai usaha si bendahara membenahi tindakan korupsi yang dilakukannya sebelumnya. Dengan demikian juga tidak sukar mengerti mengapa ia dipuji. Kita tidak tahu bagaimana kelanjutan karier bendahara itu. Seluk beluk selanjutnya itu tidak relevan bagi sebuah perumpamaan. Lagipula perumpamaan ini bukan dimaksud untuk menceritakan transaksi dagang melainkan untuk menyoroti kemauan serta kecekatan orang untuk berubah dalam situasi krisis. Karena itulah ia dipuji.

SIAPA YANG MEMUJI SANG BENDAHARA?
Disebutkan dalam ayat 8: “Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang.” Dalam teks Yunaninya, ho kyrios, “tuan itu”, bisa merujuk pada tuannya sang bendahara, yakni pemilik perusahaan, tetapi juga bisa pada Tuhan Yesus. Bila yang dimaksud pemilik, maka ayat 8 termasuk perumpamaan sendiri. Tetapi bila merujuk pada Yesus, maka ayat itu tampil sebagai kata-kata Yesus mengenai perilaku bendahara dalam perumpamaan tadi. Lagipula jika Yesus-lah yang dimaksud, maka ayat 8b, yakni “Sebab anak-anak dunia ini…” dapat membantu mengerti mengapa ayat 9 memuat nasihat Yesus agar orang tahu mengikat persahabatan juga dengan memakai Mamon (= uang) yang diperoleh dengan tidak jujur. Persoalan siapa yang memuji ini sering membingungkan para penafsir. Namun, bila uraian mengenai di mana letak ketidakjujuran si bendahara di atas diterima, siapa yang memuji tidak jadi masalah lagi. Bisa saja sang pemilik, bisa pula Yesus. Memang bendahara itu pintar dan patut dipuji, baik oleh pemilik dalam perumpamaan itu maupun oleh Yesus sendiri.

Kehidupan memiliki banyak segi. Situasi yang kritis kerap bisa diatasi dengan mengubah diri. Bendahara yang sedang menghadapi kendala bakal dipecat itu berhasil mengatur siasat sehingga keadaannya tidak seburuk seperti bila diam menunggu konsekuensi kelakuannya sendiri dulu. Tentu saja ia harus berhati-hati sehingga tindakannya kali ini tidak memperburuk keadaan. Bahwasanya ia dipuji entah oleh tuannya entah oleh Yesus justru membuktikan bahwa ia berhasil membawakan diri dengan baik dalam situasi yang gawat. Bahkan amatan mengenai anak-anak dunia yang lebih pintar daripada anak-anak terang dalam ayat 8b bisa dianggap sebagai saran agar orang belajar dari kecerdikannya.

MAMON YANG TAK JUJUR
Bagaimana tafsiran ayat 9? Ayat ini memuat nasihat Yesus agar orang mengikat persahabatan dengan menggunakan “Mamon yang tak jujur” sehingga bila Mamon itu tak dapat menolong lagi, orang akan diterima ke dalam Kemah Abadi?” Maksud perkataan itu kiranya dapat diutarakan kembali sebagai berikut “Uang tak halal (uang hasil korupsi, keuntungan karena pengelolaan buruk yang disengaja – perkara yang disebut dalam ayat 1) memang untuk sementara dapat menjadi sandaran hidup – mengikat persahabatan. Namun satu ketika akan terbongkar (tuduhan, ayat 2). Oleh karena itu berusahalah memegang yang bisa memberimu rasa aman sejati (“diterima dalam Kemah Abadi”)!” Pembaca yang peka akan teringat Mazmur 15 yang memberi rincian lebih jauh mengenai siapa yang akan diterima tinggal bersama Tuhan di kemahNya yakni orang yang kelakuannya tak bercela, yang bertindak adil, yang hidup sesuai dengan kebenaran, tidak memfitnah, tidak berbuat jahat, tidak mendatangkan aib bagi sesama, tidak mengecilkan kaum terpojok, menghormati orang yang bertakwa, yang memiliki integritas, yang tidak memeras dan tidak mau dibayar untuk merudapaksa orang yang tak bersalah.

BERPIJAK PADA KENYATAAN
Sang bendahara ternyata berani dan berhasil membenahi diri dalam urusan “uang yang diperoleh dengan tidak jujur” dan dalam hal ini ia bisa disebut “setia mengenai harta orang lain”, baik harta sang pemilik perusahaan maupun para langganan. Seandainya ia tidak berbuat demikian, ia akan mengalami celaka. Ayat 10-12 sebetulnya merumuskan kembali perkara itu dalam bentuk pepatah. Pandai-pandailah membawa diri dalam urusan duniawi, dalam “urusan kecil” yang bakal memberi kredibilitas dalam perkara yang lebih luhur, dalam urusan yang menyangkut hal-hal kerohanian pula.

Pada awal uraian ini disebutkan bahwa ayat 13 tidak dimaksud semata-mata sebagai peringatan bahwa orang tak bisa mengabdi Allah secara setengah-setengah. Itu sudah jelas. Dan pendengar Injil tentunya bukan orang yang mau terus setengah-setengah. Perkaranya bukan niatan, tapi kenyataan sering membuat orang tidak sampai menjalani komitmen iman secara utuh. Lalu bagaimana? Perumpamaan bendahara yang tak jujur tapi cerdik tadi membuat kita melihat bahwa Injil mengajarkan sikap mau dan berani berubah demi mencari jalan yang bakal menyelamatkan. Juga diajarkan sikap mau belajar dari cara-cara duniawi – dari “urusan kecil” yang disebut ayat 11. Namun seperti dinasihatkan dalam ayat 9, diperlukan kejelian melihat mana yang sungguh menjamin bagi kebahagiaan. Dengan menggemakan inti ajaran Mazmur 15, Injil menghubungkan urusan duniawi ini dengan tanggung jawab dan kesadaran moral yang bakal menuntun orang ke kebahagiaan kekal bersama Allah. Injil mendorong orang memikirkan bagaimana kemanusiaan yang penuh liku-liku itu dapat menjadi jalan bagi anak-anak terang pula. Dalam arti itulah Injil membuka jalan ke Kemah Abadi.

Salam dari Refter Kanisius,
A. Gianto

InjMg XXIV C 15 Sep 13 (Luk 15:1-10)

InjMg XXIV C 15 Sep 13 (Luk 15:1-10)

Rekan-rekan yang budiman!

Kali ini bacaan dari Injil Lukas memuat dua perumpamaan, yang pertama mengenai domba yang tersesat (Luk 15:1-7), disusul dengan perumpamaan mata uang yang terselip (ayat 8-10). Bacaan yang panjang menyertakan perumpamaan anak yang hilang (ayat 11-32). Perumpamaan ini sudah diulas bagi http://www.mirifica.net/artDetail.php?aid=7946  (Injil Minggu Prapaskah IVC).

PEMUNGUT CUKAI DAN PENDOSA
Ketiga perumpamaan di atas ditampilkan sebagai tanggapan terhadap kaum Farisi dan ahli Taurat yang kurang senang melihat Yesus membiarkan para pemungut cukai serta para pendosa datang ikut “mendengarkan dia” seperti disebutkan dalam ayat 1-3. Maksudnya, membiarkan mereka mengikuti uraiannya mengenai ajaran Kitab Suci dan mulai menjadi muridnya. Memang, mendengarkan uraian Taurat bagi orang Yahudi bukanlah kegiatan yang bisa sebarangan diikuti. Mereka yang dianggap bukan termasuk orang baik-baik tidak diizinkan. Pemungut cukai dianggap tak pantas duduk mendengarkan ajaran Taurat. Pemungut cukai dicap sebagai orang yang menjual bangsa sendiri dengan bekerja memungut pajak dari sesama orang Yahudi bagi penguasa Romawi. Dosa mereka jauh lebih besar dari pada pelanggaran lain karena mereka terang-terangan ikut menindas umat Tuhan sendiri. Mereka dianggap berlaku seperti para penindas di Mesir dulu. Mereka tak layak mendapat pengampunan, apalagi mendengarkan uraian Taurat. Itulah sebabnya dalam ayat 1 “para pemungut cukai” disebut secara khusus sebelum “orang-orang berdosa”. Tetapi Yesus membiarkan mereka datang mendengarkan pengajarannya! Orang-orang yang merasa diri saleh tak habis mengerti, bahkan tersinggung dan menggerutu – “bersungut-sungut” – melihat kelakuan Yesus. Kelonggarannya mengotori kegiatan suci ini, menyalahi adat kebiasaan. Para tokoh agama nanti akan bersetuju untuk menyingkirkan Yesus yang menjadi duri dalam daging bagi mereka. Kita tahu cerita selanjutnya. Namun, bagaimana ingatan murid-murid generasi pertama mengenai cara Yesus menanggapi penilaian orang Farisi dan para ahli Taurat tadi? Apa yang disampaikan dalam ketiga perumpamaan itu?

BERSUNGUT-SUNGUT ATAU BERGEMBIRA?
Tanggapan Yesus membuat orang berpikir. Ia mengajak orang yang tersinggung perasaannya tadi agar tidak terlalu bersikap kaku dan hanya melihat yang buruk-buruk saja. Mari kita pakai akal sehat…. begini lho duduk perkaranya! Mari kita lihat sisi lain. Untuk itu ia mengajukan pertanyaan retorik pada awal kedua perumpamaan yang pertama, yakni, “Siapa di antara kamu yang [kehilangan milik yang berharga] dan tidak [berusaha menemukannya kembali] dan [setelah menemukan] bersukaria dan mengajak orang lain bergembira?” Tentu saja tak ada yang tidak akan bertindak demikian. Kedua perumpamaan itu jelas-jelas ditujukan kepada orang-orang yang menggerutu tadi. Mereka dihimbau agar memakai akal sehat dan tidak membiarkan diri dikuasai perasaan kesalehan belaka. Perumpamaan yang ketiga lebih dalam lagi. Semua orang yang mempunyai anak dan saudara yang malang tapi mau berusaha kembali didorong agar bersedia meninjau kembali penilaian yang mereka pegang.

Ketiga perumpamaan tadi menampilkan satu unsur yang sama, yakni kegembiraan mendapatkan kembali yang hilang, entah itu domba, mata uang, atau anak yang hilang. Kegembiraan ini kemudian dikabarkan kepada banyak orang. Pemilik domba memanggil para sahabat dan tetangganya dan mengajak mereka ikut bersukacita. Begitu juga perempuan yang menemukan kembali mata uangnya yang hilang. Secara tak langsung hendak dikatakan, mereka yang diajak ikut bergembira ialah kaum Farisi dan para ahli Taurat yang “bersungut-sungut” melihat Yesus membiarkan pemungut cukai dan pendosa mendengarkannya. Ayah anak yang kembali itu mengajak seisi rumah tangganya berpesta. Secara khusus ia mengajak anak sulung untuk ikut bergembira. Kita tidak tahu apa anak sulung dalam perumpamaan ketiga akan mau masuk rumah dan ikut berpesta. Kita tidak tahu persis apa orang-orang Farisi dan ahli Taurat mau mendengarkan Yesus. Tidak diceritakan lebih jauh. Hanya disodorkan sebagai bahan pertimbangan agar orang berkaca. Boleh jadi mereka malah makin mendongkol tapi tidak bisa menjawab karena mereka juga paham kekuatan warta ketiga perumpamaan tadi. Mereka yang dicap buruk, pendosa dan tak pantas itu bisa berubah dan sudah mulai berada pada jalan yang benar. Di lain pihak, orang-orang yang menganggap mereka tak patut diajak bergaul itu malah semakin mengeraskan hati sendiri. Orang-orang itu seperti si anak sulung yang tidak dapat melihat alasan kegembiraan ayahnya. Ia menutup diri. Menjauhi kegembiraan. Terus-terusan murung. Menyedihkan!

DARI ZAMAN GEREJA AWAL
Ketiga perumpamaan dalam Luk 15:1-32 mencerminkan dinamika dalam gereja awal. Para pengikut Yesus sering dipandang oleh orang Yahudi sebagai orang yang kurang taat pada ajaran agama turun-temurun. Maklum generasi pertama dan kedua umat kristen belum amat membedakan diri dengan umat Yahudi. Banyak orang dari kalangan ini merasa dijauhi orang-orang yang tadinya tidak memusuhi mereka. Sanak saudara, teman sekerja, lingkungan kini agak mengasingkan mereka. Keadaan ini mulai dirasakan di kalangan orang Yahudi yang kemudian menjadi pengikut para murid Yesus. Mereka tentu saja merasa terintimidasi dan bertanya-tanya apa sepadan menanggungnya. Mereka bertanya apa mereka itu sungguh “sesat” seperti anggapan sanak saudara dan kawan-kawan mereka. Injil Matius menjawab persoalan ini dengan perumpamaan domba yang hilang dalam Mat 18:12-14. Di situ ditegaskan bahwa Bapa tetap menyayangi mereka. Taruh kata mereka tersesat, mereka akan dicari sampai ketemu. Dalam Injil Matius perumpamaan itu ditujukan bagi orang Yahudi yang menjadi pengikut Yesus.

Perumpamaan yang sama diolah Lukas bagi kelompok yang berbeda. Komunitas Lukas terdiri dari orang asal Yahudi dan bukan Yahudi. Golongan kedua ini makin bertambah besar dan melebihi yang pertama. Namun, kebiasaan-kebiasaan kerap kali masih digariskan oleh orang dari kalangan Yahudi. Bahkan mereka sering memandang orang lain dengan sikap curiga dan merendahkan. Mereka menganggap orang baru seperti murid yang tidak utuh komitmennya. Orang-orang baru ini dianggap “pemungut cukai” dan pendosa yang sebenarnya tak patut mendekat ke ajaran yang benar. Ditolerir, tapi tidak sungguh diterima. Tentu murid-murid asal luar itu merasa dianggap orang kelas dua, dicap tidak sepenuhnya mau menjadi murid dan masih tetap “kapir”. Ketiga perumpamaan dalam Luk 15 itu disampaikan untuk menghibur mereka. Tuhan tidak menutup mata pada kenyataan bahwa mereka terpojok dan dipojokkan oleh saudara-saudara mereka sendiri. Penilaian seperti itu bahkan sudah dikenakan kepada Yesus sendiri. Ia dianggap mengotori diri bergaul dengan pendosa dan dengan para pemungut cukai sekalipun. Dalam konteks seperti inilah orang-orang yang memandang rendah saudara-saudara seiman itu digambarkan sebagai “kaum Farisi dan para ahli Taurat” dalam Luk 15:1-3. Sekalipun demikian mereka tidak dikecam, melainkan diajak agar melihat persoalannya, diajak bernalar.

SERATUS EKOR DOMBA, SEPULUH DIRHAM MINUS SATU?
Apa tak berlebihan dikatakan dalam perumpamaan ini pemilik domba meninggalkan kesembilan puluh sembilan ekor domba untuk mencari seekor saja yang tersesat? Untuk memahami gaya bicara ini baik diingat bahwa perumpamaan ini mulai dengan menyebutkan pemilik domba yang memiliki “seratus” ekor domba. Seratus itu kelipatan sepuluh, angka yang melambangkan keutuhan. Keutuhan dalam arti ukuran yang penuh, tak mungkin bertambah lagi. Memiliki “seratus” ekor domba berarti mempunyai kekayaan yang serba melimpah dan tak perlu ditambah lagi. Juga dalam perumpamaan kedua, “sepuluh” dirham berarti juga jumlah yang utuh, milik yang sebesar-besarnya yang dapat dipunyai. Tetapi kalau kurang satu saja maka tidak utuh lagi. Juga kehilangan satu dari seratus domba berati kekayaannya menjadi tak utuh lagi. Ada kekurangan yang mengusik. Maka jelas mengapa pemilik domba dan perempuan yang kehilangan satu saja dari miliknya itu berusaha keras untuk menemukan yang bakal membuat milik mereka utuh. Dan bila terjadi, pemilik domba atau perempuan itu bisa bergembira dan mengajak orang lain ikut bersukacita. Mana unsur yang menonjol?

Bila dipandang secara menyeluruh, yang paling menonjol bukan perihal kehilangan, bukan pula kegembiraannya, melainkan usaha mencari yang bakal membuat milik utuh kembali. Baru bila berhasil, kegembiraan dapat dinikmati. Jadi usaha menemukan itulah yang hendak disampaikan dalam perumpamaan tentang domba yang hilang dan dirham yang terselip itu. Hendak digambarkan betapa besar perhatian Tuhan. Ia belum puas bila masih ada sebagian kecil umat manusia yang belum mengenal-Nya, serasa masih ada satu ekor domba yang sesat, masih ada dirham yang terselip, dan dalam perumpamaan ketiga, sang anak bungsu masih menderita hidup serba kekurangan di luar.

Tidak mengherankan bila dikatakan pemilik domba itu “meninggalkan yang sembilan puluh sembilan” untuk mencari seekor yang hilang. Tak perlu ditafsirkan sebagai melalaikan jumlah yang besar tadi atau kurang beperhatian kepada anak sulung. Justru maksudnya untuk membuat jumlah yang besar tadi menjadi utuh, membuat anak sulung ikut menikmati keutuhan milik ayahnya. Baru bila berhasil, kegembiraan bisa diperoleh.

SPIRITUALITAS KERASULAN?
Bila ketiga perumpamaan itu menggambarkan perhatian terhadap kemanusiaan, bisakah dikatakan bahwa Dia yang Yang Mahakuasa belum merasa lega dan dapat bersukacita sebelum miliknya utuh? Belum bisa betul-betul masuk dalam hari ketujuh dan memberkati seluruh ciptaan (bdk. Kej 2:1-2)? Bagaimana ikut memungkinkan Dia memperoleh ketenangan-Nya? Tentu saja jawaban bisa bermacam-macam. Kita yang terlibat dalam pewartaan di bidang pastoral akan merasa terdorong berusaha makin memperkenalkan kerahiman Tuhan. Bagi yang bergerak di bidang pendidikan tentu akan melihat dalam perspektif kerasulan mereka. Yang bergiat dalam kerasulan sosial, perumpamaan-perumpamaan ini akan memberi dorongan lebih lanjut bagi pemihakan pada kaum miskin. Bagi siapa saja dalam kerasulan apa saja, ketiga perumpamaan itu akan membantu menjernihkan motivasi dan tujuan kerasulan sendiri. Bagaimana penalarannya? Singkat saja. Bila dilacak lewat perumpamaan ini, tujuan kegiatan pastoral, kerasulan pendidikan, kerasulan sosial bukanlah terutama domba yang hilang, bukan dirham yang terselip, bukan anak yang hilang, melainkan kebahagiaan Tuhan sendiri. Dia-lah yang menjadi motivasi utama. Jadi bukan sekian banyak pertobatan yang bisa dipersembahkan kepadanya, bukan sekian dana yang bisa ditambahkan, bukan pula jumlah orang yang bisa dientas dari kemiskinan dan dibela hak-haknya, melainkan apakah Dia makin dimuliakan. Apa Dia itu kini betul-betul bisa dikatakan sebagai Tuhan yang bisa melihat ciptaan-Nya dengan lega karena merasa telah menyelesaikan – mengutuhkan karya ciptaan-Nya? Atau Ia masih gundah kendati kita bawa ke hadapannya barang-barang persembahan yang besar-besar tapi tidak membuat-Nya betul-betul merasa milik-Nya makin utuh?

Salam hangat,
A. Gianto