InjMg XVII C 28 Jul 13 (Luk 11:1-13)

InjMg XVII C 28 Jul 13 (Luk 11:1-13)

Rekan-rekan yang budiman!
Didapat tiga pokok dalam Luk 11:1-13 yang dibacakan pada hari Minggu Biasa XVII tahun C ini. Pertama tama Yesus mengajar murid-muridnya berdoa (ayat 1-4), disusul dengan perumpamaan mengenai orang yang tak sungkan-sungkan minta tolong seorang kawannya di tengah malam (ayat 5-8), dan diakhiri dengan sebuah pengajaran mengenai kekuatan doa (ayat 9-13).

MELIHAT YESUS BERDOA
Murid-murid meminta Yesus mengajar mereka berdoa sama seperti Yohanes Pembaptis mengajar murid-muridnya berdoa. Latar belakangnya ialah kebiasaan orang pergi menyepi ke padang gurun, menemui orang suci untuk mohon berkat dan doa yang dapat dibawa pulang sebagai bekal dan kekuatan. Praktek keagamaan rakyat seperti ini masih dijumpai di banyak tempat.

Pada awal petikan yang dibacakan hari ini disebutkan bahwa Yesus sendiri sedang berdoa. Tema ini kerap muncul dalam Injil Lukas. Yesus di mata Lukas ialah pribadi yang dekat dengan kekuatan-kekuatan ilahi. Di saat-saat puncak dalam kehidupannya Yesus ditampilkannya sebagai orang yang sedang berdoa. Dapat dicatat peristiwa-peristiwa berikut. Ketika Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis (Luk 3:21), Yesus berdoa dan membiarkan diri dikuatkan oleh kehadiran ilahi. Ia berdoa semalam suntuk di sebuah bukit sebelum menetapkan ke-12 muridnya sebagai rasul (Luk 6:12). Pilihan yang penting ini terjadi dengan mengikutsertakan kekuatan ilahi. Yesus berdoa sebelum menanyai murid-murid mengenai pendapat orang mengenai dirinya dan mendengarkan pendapat murid-murid sendiri (Luk 9:18). Kemudian Ia mengajak Petrus, Yakobus dan Yohanes ke gunung untuk berdoa dan dalam keadaan itu kemuliaannya tampak (Luk 9:28). Dan dalam bacaan hari ini, sebelum mengajar murid-muridnya berdoa, Yesus sendiri berdoa di sebuah tempat (Luk 11:1). Nanti di Getsemani sewaktu bergulat dengan dirinya sendiri apakah akan menerima kenyataan salib dalam hidupnya (Luk 22:41) Yesus berdoa. Akhirnya, di Golgota, di kayu salib, ia masih berdoa dua kali (Luk 23:34 dan 46). Itulah kesempatan-kesempatan yang secara khusus disebut Lukas. Ada saat-saat lain ketika ia juga berdoa, misalnya pada perjamuan terakhir dengan para murid (Luk 22:19) atau ketika Yesus mensyukuri karya ilahi dalam dirinya (Luk 10:21). Bagi Yesus berdoa ialah menaruh diri di hadapan Yang Ilahi yang dipercayanya sebagai Bapa. Ia membiarkan kekuatan ilahi menghidupinya. Dalam mengikuti perjalanannya ke Yerusalem, murid-muridnya makin menyadari hal itu. Lambat laun mulai jelas bagi mereka dari mana kekuatan dan keteguhan pribadi yang mereka ikuti itu. Maka mereka datang kepadanya minta diajar berdoa, minta diberi rumusan doa yang dapat mereka pegang untuk bekal hidup.

DUA VERSI
Rumusan doa yang disampaikan dalam Luk 11:2-4 lebih pendek daripada doa Bapa Kami yang biasa kita doakan yang didasarkan pada Mat 6:9-13. Baik Matius maupun Lukas sama-sama menggarap tradisi mengenai kata-kata Yesus tetapi dengan cara yang berbeda-beda. Bahan dari tradisi yang biasa disebut para ahli sebagai “Q” (Quelle = sumber) belum terkumpul ketika Markus menulis Injilnya. Memang Markus tidak memuat doa Bapa Kami. Lukas lebih mengikuti bentuk ringkas dalam sumber tadi, tetapi ia menyesuaikan beberapa rumusan agar terasa lebih cocok bagi orang-orang yang dilayaninya. Matius lebih mempertahankan rumusan asli tetapi menambah penjelasan di sana-sini dan hasilnya ialah doa Bapa Kami yang kita kenal sehari-hari.

Dalam Injil Lukas bagian yang memuat doa “Bapa Kami” memiliki peran yang berbeda dengan yang ada dalam Injil Matius. Ringkasnya begini, Matius menaruh doa tadi dalam konteks Khotbah di Bukit (Mat 5-7) yang menggariskan dasar-dasar kehidupan mereka yang ingin masuk menjadi umat Kerajaan Surga. Tetapi Lukas lebih menampilkan doa tadi sebagai cara Yesus membiarkan dirinya makin dipahami sebagai “sesama” oleh orang-orang yang dijumpainya dan yang menerimanya. Dapat dilihat kembali ulasan mengenai orang Samaria yang baik hati (Luk 10:25-37) dan kisah Marta dan Maria (Luk 10:38-42).

LIMA PERMOHONAN KEPADA BAPA
Doa yang diajarkan Yesus menurut Lukas itu memuat lima permohonan yang diawali dengan sapaan “Bapa”. Di sini terungkap keakraban Yesus dengan Tuhan Yang Mahakuasa. Sebutan “Bapa” (kata Aramnya “Abba”) itu sebutan akrab tapi hormat yang biasa dipakai seorang anak kepada ayahnya, jadi agak berbeda dengan “Pak” yang bisa dipakai kepada siapa saja yang dihormati atau dituakan. Dengan mengajak murid-murid berani memanggil Tuhan dengan sebutan ini Yesus mau menaruh diri sebagai sesama dengan siapa saja yang bakal memakai doa ini. (Matius mengungkapkan hal ini dengan “Bapa kami yang ada di surga”, untuk juga mengingatkan bahwa doa ini memang diserukan kepada Tuhan yang Mahakuasa yang ada di surga.) Bekal yang diperoleh ialah sesama yang tak lain tak bukan Yesus sendiri. Adakah yang lebih memberi rasa aman?

Yesus juga memakai seruan “Bapa” di Getsemani ketika memilih mengikuti kehendakNya (Luk 22:42), dan kemudian dua kali lagi ketika di salib, yang pertama untuk memintakan ampun dari Bapanya bagi orang-orang yang menyalibkannya (Luk 23:34), dan kedua kalinya pada saat ia menyerahkan nyawanya kepada BapaNya (Luk 23:46). Inilah cara Lukas menunjukkan bagaimana Yesus mau menjadi sesama manusia sekalipun berarti ia harus menempuh perjalanannya ke salib hingga akhir.

Dengan latar tadi lima permohonan yang tercantum dalam doa itu akan terasa makin dalam artinya:
1. “Bapa, dikuduskanlah namaMu” (ayat 2a). Diminta agar kehadiran yang Mahakuasa itu tetap dapat dialami sebagai kehadiran yang keramat sekalipun Ia membiarkan diriNya disapa sebagai Bapa. Dengan cara ini barulah jagat ini akan makin memuliakanNya.

2. “Datanglah KerajaanMu”. Mulai dari Luk 4:14 Yesus mewartakan dunia baru yang dilindungi oleh kekuatan Roh Ilahi sendiri, dan oleh karenanya dunia itu disebut KerajaanNya. Amat ditekankan dalam Injil Lukas, dalam dunia yang baru ini batas-batas antara orang kaya dan kaum miskin dibuka. Bukan pertama-tama untuk mencampurbaurkan mereka begitu saja, melainkan untuk membuat masing-masing sadar bahwa bisa menjadi sesama bagi orang dari lapisan sosial yang lain, tak peduli yang mana. Matius menaruh gagasan dunia baru dalam ukuran-ukuran alam semesta dengan menambahkan ungkapan “jadilah kehendakmu di atas bumi seperti di dalam surga”.

3. “Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya”. Didoakan agar Bapa tetap memberi apa saja yang dibutuhkan, tidak lebih tidak kurang, untuk hidup dari hari ke hari, tentu saja agar orang makin dapat hidup di dalam KerajaanNya. Semangat membiarkan diri diperhatikan Bapa dengan tidak “menimbun makanan” itu sebenarnya jalan yang paling nyata untuk merasakan kehadiran Bapa di dalam kehidupan ini. Begitu juga dalam diri orang yang membiarkan diri menjadi sesama bagi yang lain dengan memberi perhatian secukupnya, tidak berlebih-lebihan dengan akibat mengecilkan orang yang menerimanya.

4. “Dan ampunilah kami dari dosa-dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami”. Permohonan ini diajarkan Yesus untuk membuat murid-muridnya belajar mengambil sikap pengampun, sikap batin yang memberi kemerdekaan bagi diri sendiri dan bagi orang yang pernah berlaku salah. Tidak disangkal pengampunan ini tidak mudah dan acap kali juga disertai rasa pedih. Yesus yang disalib yang memintakan ampun kepada Bapanya bagi orang-orang yang menyalahinya itu mengalami kesakitan badan dan kepedihan batin. Sering sikap mengampuni yang disertai penderitaan di dalam ini tidak terlihat. Tak berlebihan juga bila kita gambarkan Tuhan sendiri tidak melihatnya. Ia bukan Tuhan yang selalu mau mengawasi apa yang terjadi dalam batin manusia. Ia menghormati kemerdekaan manusia. Dan itulah kebesaran Tuhan juga. Namun, kepedihan yang tersimpan dalam itu satu saat dapat dibukakan kepadaNya sebagai keikutsertaan dalam sikap hidup pengampun dari orang yang ditegaskanNya sendiri sebagai Anaknya yang terkasih (pada peristiwa baptisan Yesus dan penampakan kemuliaannya di gunung) dan yang dimintaNya sendiri agar didengarkan (di dalam peristiwa penampakan kemuliaan di gunung). Dengan ini semua, mustahillah pada saat akhir nanti Tuhan bakal memperhitungkan kesalahan kita yang seberat apapun. Tak ternalarkan Ia tega membiarkan kita tanpa pengampunan.

5. “Dan janganlah membawa masuk kami ke dalam percobaan.” Dalam Injil Lukas, percobaan ialah wilayah kekuatan-kekuatan yang jahat, yang gelap, yang pasti akan menelan manusia bagaimanapun juga kekuatan pribadinya. Menakutkan. Terjemahan “janganlah membawa masuk kami” dapat memberi kesan menuntun masuk ke suatu ujian agar orang makin tabah, makin terlatih, makin kuat. Yang lebih cocok ialah “janganlah membiarkan kami masuk” ke dalam wilayah daya-daya maut tadi. Tak ada heroisme apapun hendak diajarkan dalam perkara ini. Oleh karenanya Matius, dalam versinya, menyertakan kalimat tambahan yang menjelaskan maksud permohonan ini: “tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat”. Satu-satunya orang yang pernah masuk dalam kuasa yang jahat dan dapat keluar lagi ialah Yesus sendiri. Tetapi juga semua Injil Sinoptik mengatakan ia disertai Roh (Mrk 1:12; Mat 4:1; Luk 4:1). Ia memang memasuki wilayah yang gelap, tetapi ia tetap berada dalam bimbingan Roh Tuhan sendiri. Iblis tidak bisa berbuat banyak, walaupun tetap menunggu saat yang baik. Saat ini tiba ketika Yudas masuk dalam percobaan dan tidak keluar lagi.

TANPA SUNGKAN-SUNGKAN
Perumpamaan yang disampaikan dalam Luk 11:5-8 mengenai orang yang datang membangunkan kawannya untuk minta tolong itu mengajarkan agar orang tak sungkan-sungkan mengajukan permohonan kepada Tuhan. Bahkan dalam perumpamaan itu orang tadi disebutkan “sikapnya yang tidak malu itu” (ayat 8). Terasa kembali kekuatan sapaan kepada Tuhan sebagai “Bapa” yang diajarkan Yesus. Ditandaskan dalam ayat 9-13, tak terpikir ada seorang bapa yang bakal tak menggubris permintaan anaknya, atau memberi barang yang buruk dan yang bisa mencelakakan. Penalaran dari hidup sehari-hari ini dipakai untuk menegaskan bahwa Yang Mahakuasa pasti akan memberikan yang terbaik. Dan dalam rumusan Lukas, Ia akan memberikan Roh Kudus – kekuatan ilahi yang akan terus membimbing di dunia ini.

Salam hangat,
A.Gianto

InjMg Biasa XV – C 14 Jul 13 (Luk 10:25-37)

InjMg Biasa XV – C 14 Jul 13 (Luk 10:25-37)

Rekan-rekan!
Meskipun tidak jelas-jelas disebutkan, kisah orang Samaria yang baik hati dalam Luk 10:25-37 (Injil Minggu Biasa XV tahun C) adalah sebuah perumpamaan. Yesus menampilkannya dalam pembicaraan dengan seorang ahli Taurat.

HIDUP KEKAL = DASAR DIALOG IMAN?
Apa yang mesti dilakukan untuk memperoleh kehidupan kekal? Masalah yang diungkapkan ahli Taurat kepada Yesus ini menyuarakan pertanyaan dalam diri banyak orang. Orang merasa adanya kaitan antara kehidupan sekarang dan nanti. Bila orang dapat membiasakan diri menerima kehadiran Yang Mahakuasa, tentunya nanti dalam kehidupan selanjutnya ia akan diingat olehNya. Bila orang berusaha berbuat baik kepada orang lain, rasa-rasanya juga tidak akan terlantar bila sudah pindah ke dunia sana nanti. Meski tidak ada jaminan yang pasti, keyakinan seperti ini menjadi dasar iman dalam arti yang paling umum yang diajarkan tiap agama. Bila begitu, mengapa dialog antar iman yang kerap dilakukan di banyak tempat di negeri kita ini jarang menyentuh dasar yang paling umum dari iman sendiri? Sedemikian lumrah sehingga terabaikan? Pokok ini bisa juga menjadi dasar dialog iman tanpa segera mengarah pada perbedaan agama seperti bacaan hari ini.

Baik Yesus maupun ahli Taurat mempunyai jawaban yang sama bagi pertanyaan bagaimana memperoleh kehidupan kekal tadi. Memang disebutkan bahwa sang ahli Taurat bermaksud “mencobai” Yesus. Maksudnya untuk menguji apa guru dari kalangan bukan resmi ini juga paham apa masalahnya. Yesus menggulirkan pertanyaannya kembali kepadanya. Tentu ahli Taurat itu senang mendapat kesempatan mengutarakan tesis baru mengenai soal iman tadi. Begitulah dalam ayat 27 (“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hati, dengan segenap jiwamu, dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akalbudimu”), ia merumuskan kembali Ul 6:5 (“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu”) dan menggabungkannya dengan Im 19:8 (“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”). Kedua perintah itu diketahui dan dipercaya orang, tetapi gabungan antara keduanya sebagai jalan emas untuk mencapai kehidupan kekal belum biasa terdengar di antara orang Yahudi. Lagipula apa hubungan antara keduanya, yang satu mewujudkan yang lain, atau dua hal terpisah dijalankan bersama?

DARI PERSPEKTIF PERJANJIAN LAMA
Perintah mengasihi Tuhan itu bagian dari ungkapan “Syema’ Israel” (“Dengarkanlah hai Israel!”) yakni ungkapan kepercayaan atau syahadat mereka, “Dengarkanlah hai Israel, Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa!” (Ul 6:4) dan dalam ayat selanjutnya (Ul 6:5) dilanjutkan dengan kata-kata yang dikutip ahli Taurat tadi, yakni “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Teks ini menyebut tiga unsur yang dijelaskan dengan kata “segenap”. Ahli Taurat tadi menambahkan hal keempat, yakni “segenap akalbudi” (Luk 10:27; Yesus juga menyebutkannya dalam Mrk 12:30 juga dalam Mat 22:37, walaupun Matius tidak menyebutkan “dan dengan segenap kekuatanmu”). Masalah teks ini tidak sukar dijelaskan. Dalam alam pikiran Ibrani, “hati” aslinya ialah tempat bernalar, jadi sama dengan akalbudi. Namun kemudian “hati” juga dimengerti sebagai tempat afeksi, termasuk iba hati, yang dulu-dulunya dibayangkan bertempat di perut. Beriba hati diungkapkan dengan “rahimnya tergetar”, “isi perutnya terpilin-pilin”, tergerak hatinya, seperti orang Samaria dalam Luk 10:33. Karena perkembangan itu maka dalam penerusan ayat tadi sering ditambahkan penjelasan mengenai yang sesungguhnya dimaksud dengan “segenap hati” tadi, yakni “seluruh akalbudi”. Penjelasan ini ditaruh pada akhir ayat sehingga tidak memecah rumusan asli.

Mengasihi Tuhan dengan segenap hati maksudnya ialah memikirkannya dengan sungguh, mencari tahu sampai ke dasar-dasarnya, mempelajari siapa Dia itu, mencoba mengerti kebesaranNya, juga dengan filsafat. Dengan “segenap jiwa” artinya tidak berpura-pura, di luar tampaknya penuh perhatian tapi di dalamnya tak peduli, atau ada udang di balik batu, ada agenda tersembunyi. Orang sekarang akan merumuskannya dengan gagasan “integritas”. Akhirnya, “segenap kekuatan” berarti kekayaan, harta, kedudukan, kepandaian, ketrampilan, apa saja yang dimiliki yang dapat membuat orang jadi terpandang. Semua hal yang ada pada manusia itu, hati/budi, integritas, kemampuan dapat diamalkan sehingga ungkapan “mengasihi Tuhan” makin berarti. Jadi mengasihi Tuhan itu sama dengan menjadi manusia yang makin utuh.

Bagian kedua dari kutipan ahli Taurat tadi merujuk kepada Im 19:18, yakni mengasihi sesama “seperti dirimu sendiri”. Apa artinya? Mengasihi orang lain dengan cara seperti layaknya kita memperhatikan diri kita sendiri, seperti yang ada dalam petuah emas “lakukan kepada orang lain seperti apa yang kauinginkan terjadi padamu”? Memang sering ditafsirkan demikian. Namun kalimat itu sebenarnya lebih sederhana: kasihilah sesamamu mengingat sesama itu ya seperti kamu-kamu juga. Sama-sama butuh keselamatan, sama-sama mau mendapat kebahagiaan dalam hidup kekal nanti. Jadi di sini ada ajakan menumbuhkan solidaritas di antara orang-orang yang berkemauan baik.

MENGINTIP INJIL MARKUS
Apa arti penggabungan perintah mengasihi sesama dalam Im 19:18 dengan perintah mengasihi Tuhan dalam Ul 6:5 tadi? Inilah pokok masalah yang sebenarnya ingin diajukan ahli Taurat tadi. Ia ingin tahu apa Yesus paham perkaranya. Apa bagi Yesus perintah yang pertama belum cukup dan harus digabung dengan yang kedua? Atau yang pertama itu mengharuskan yang kedua? Atau yang pertama itu bisa dilaksanakan dengan yang kedua, jadi yang kedua itu bentuk nyata dari yang pertama? Ahli Taurat itu mau tahu apa Yesus memiliki kemampuan berteologi atau hanya tahu abece katekismus saja.

Hal ini sudah pernah muncul dalam Mrk 12:28-34 (lihat juga Mat 22:34-40). Seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus manakah perintah yang utama. Jawab Yesus dalam Mrk 12:29-31 sama dengan kata-kata ahli Taurat dalam Luk 10:27 tadi. Dalam Mrk 12:32-33 sang ahli Taurat membenarkan Yesus dengan mengulang kedua perintah itu sambil menambahkan “[mengasihi Tuhan] dan mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya.” Pernyataan “lebih utama” itu jelas terlihat dalam teks aslinya dimaksud sebagai predikat “mengasihi sesama…” Ini pernyataan yang amat berani. Ahli Taurat dalam Mrk 12:33 tadi menandaskan bahwa beragama itu intinya mengasihi sesama manusia – ini lebih utama dari pada semua praktek yang langsung meluhurkan dan mengasihi Tuhan, yakni segala macam kurban, segala macam upacara. Markus mencatat bahwa Yesus melihat ahli Taurat itu menjawab dengan bijaksana dan menyatakan bahwa ia tidak jauh dari Kerajaan Allah (Mrk 12:34).

Di kalangan orang Yahudi menjelang zaman Yesus ada pelbagai aliran kebatinan yang menekankan kesatuan antara kedua perintah tadi sambil menegaskan bahwa mengasihi sesama adalah jalan yang paling membuat orang sungguh mengasihi Tuhan. Pengajaran Yesus sendiri juga ada dalam arah itu. Nanti dalam ajaran mistik Yahudi dalam Abad Pertengahan, manusia kerap digambarkan sebagai percikan api yang asalnya dari Tuhan. Artinya dalam diri manusia ada secercah terang yang membawanya kembali kepadaNya, tanpa susah-susah, asal diterima. Jadi terimalah sesama karena ia juga mempunyai recikan keilahian yang sama, karena ia itu sesama itu gambar dan rupa ilahi. Sering ada ketegangan dengan mereka yang lebih melihat kedua perintah itu sebagai dua hal, bukan satu hal. Yesus mengatakan dalam Mrk 12:34 bahwa ahli Taurat yang bijaksana itu tidak jauh dari Kerajaan Allah, maksudnya, pemikiran ahli Taurat tadi amat dekat dengan warta Yesus sendiri. Pembicaraan dalam Luk 10:25-28 yang mendahului perumpamaan orang Samaria yang baik hati itu cerminan Mrk 12:28-34. Lukas mengolahnya dengan kisah orang Samaria yang baik hati.

ORANG SAMARIA
Ahli Taurat dalam Luk 10:25-37 itu sebetulnya mau tahu apakah Yesus paham di sini ada perkara teologis yang hanya bisa dipecahkan dengan kebijaksanaan seperti dalam Markus tadi. Apa Yesus itu orang yang hanya asal percaya huruf atau bisa dianggap kolega yang pintar berusaha mengerti ayat-ayat? Jawaban Yesus yang mengiakan itu memberi kesan seakan-akan ia tidak melihat apa yang diarah ahli Taurat tadi. Aha! Makin jelas perkaranya nih, begitu pikir sang ahli Taurat girang. Makin empuk mendekat ke pemecahan. Lalu kata Lukas yang sebenarnya memoderatori seminar antar pakar agama itu, ahli Taurat tadi bertanya lagi “untuk membenarkan dirinya” (ayat 28), dan mengungkapkan pokok masalah kedua: “Siapakah sesamaku manusia itu?”

Dengan bercerita mengenai orang Samaria yang baik hati itu Yesus menuntun ahli Taurat tadi sampai pada kebenaran. Tapi caranya khas. Ia dibawa ke arah yang berlawanan dan baru pada akhir orang dihadapkan pada jawaban sesungguhnya. Ahli Taurat itu mau tahu siapa sesama manusia dan perumpamaan itu pasti membuatnya mengira bahwa Yesus mau mengatakan bahwa sesama manusia ialah orang yang malang yang tak ditolong oleh kaumnya sendiri itu. Seolah-olah mau diajarkan bahwa pemuka Yahudi mestinya sadar bahwa mengasihi sesama itu mengasihi orang yang kena malang. Namun mereka sudah tahu. Pada akhir cerita itu (ayat 36) Yesus bertanya dan membuat orang sadar akan arah yang semestinya dipikirkan. Siapakah dari antara ketiga orang itu adalah sesama bagi orang malang itu? Tak bisa lagi dielakkan, sesama manusia bagi orang malang itu ialah orang Samaria tadi.

Pembaca dituntun beralih dari bertanya “Siapakah sesamaku?” menuju ke pemeriksaan diri “Aku ini sesama bagi siapa?” Kejujuran, kebaikan hati, kemauan menolong tidak menjadi pusat perhatian. Semua ini diandaikan ada. Yang mesti ditanyakan, semua ini kupunyai untuk siapa? Dengan semua ini aku bisa menjadi sesama bagi siapa? Lebih maju lagi, dengan menjadi “sesama” ini, bisakah aku makin menjadi jalan bagi sesama itu untuk tahu apa itu “mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap kekuatan dan segenap akalbudi”? Bila orang sampai ke situ, boleh dibayangkan Yesus juga akan menyapanya dengan penuh pengertian, “Sana, jalankanlah!

Salam hangat,
A. Gianto

InjMgBiasa XIV/C 7 Jul 2013 (Luk 10:1-9)

InjMgBiasa XIV/C 7 Jul 2013 (Luk 10:1-9)

Rekan-rekan!
Bagaimanakah penjelasan kisah pengutusan 70 murid dalam Luk 10:1-12 dan 17-20 yang dibacakan pada hari Minggu Biasa XIV tahun C ini? Hanya Injil Lukas sajalah yang menceritakannya. Kisah ini jelas didasarkan pada tradisi yang lebih awal mengenai pengutusan Yang Duabelas seperti masih terlihat dalam Luk 9:1-6 dan 22:35-38 yang berisi pesan-pesan yang mirip. Tradisi ini juga muncul dalam Mat 9:37-38; 10:7-16.

SEMUA YANG MENJADI MURID IKUT DIUTUS
TANYA: Jika kisah Yesus mengutus 70 orang murid itu berdasarkan kisah pengutusan Yang Duabelas, lalu apa maksud Lukas?
JAWAB: Angka “70″ itu ada arti simboliknya, yaitu kelipatan terbesar (“10″) dari kelompok yang utuh (“7″). Maksudnya, “semua orang, siapa saja yang menjadi murid Yesus”. Jadi bukan hanya Yang Duabelas yang berasal dari kalangan Yahudi. Pemikiran yang mencakup orang bukan Yahudi ini khas Lukas.
TANYA: Tetapi angka “70″ juga mengingatkan pembaca akan 70 tetua yang ditetapkan Musa untuk membantunya memimpin umat (Bil 11:16.17.24.25)? Ada gagasan bahwa para murid diikutsertakan menjalankan tugas Yesus seperti para tetua yang membantu Musa tadi?
JAWAB: Benar. Mari kita tengok kembali Luk 9:51-62. Terpikir tokoh Elia yang diutus Tuhan ke Samaria, tapi ditolak dan malah akan ditangkap. Karena itu ia mengutuk pasukan dengan api dari langit (2 Raj 1:10.12). Injil memakainya untuk mengajarkan bahwa Yesus tidak mengancamkan kutukan kepada yang menolak. Dalam Injil hari ini 70 tetua yang membantu Musa itu diterapkan kepada siapa saja yang merasa menjadi murid Yesus.
TANYA: Kaitan dengan Elia dan Musa itu sudah ada dalam peristiwa penampakan kemuliaan Yesus di gunung (Luk 9:28-36). Di situ Musa dan Elia berbicara mengenai tujuan perjalanan Yesus, “exodos”-nya ke Yerusalem (Luk 9:31). Jadi dalam Injil Lukas kedua tokoh ini bahkan mengiringi perjalanan Yesus?
JAWAB: Makin mekar nih wartanya! Memang wibawa tokoh-tokoh tadi menyertai perjalanan Yesus! Dan para murid yang merasa diutus mengabarkan Yesus boleh juga merasa disertai Elia dan Musa yang menyatu dengan Yesus. Bila dibaca begini Injil tidak terasa alot kan!

KEROHANIAN UTUSAN
Kesaksian yang diberikan dua orang lebih berbobot. Maka lumrah murid diutus dua-berdua. Begitulah pengutusan dalam Gereja Perdana, seperti terjadi pada Barnabas dan Saulus (Kis 13:2); Judas dan Silas (Kis 15:27); Barnabas dan Markus (Kis 15:39); Paulus dan Silas (Kis 15:40); Timoteus dan Silas (Kis 17:14); Timoteus dan Erastus (Kis 19:22).

Dalam Injil hari ini para murid diibaratkan seperti anak domba yang datang ke tengah-tengah serigala. Gambaran ini juga dipakai dalam Mat 10:16. Bayang-bayang “Ierousalem” – kota Yerusalem yang memusuhi Yesus memang mengancam. Namun ibarat tadi tidak hanya berbicara tentang keterancaman. Domba biasanya tidak dibiarkan sendirian berada di tengah-tengah serigala. Ada gembala yang siap melindungi. Dua sisi ibarat ini patut diperhatikan. Bahaya memang disebut, tetapi ditegaskan pula ada perlindungan meskipun tidak selalu tampak. Oleh karena itu, tak mengherankan bila mereka dinasihati agar tidak membawa kelengkapan pribadi, uang, bekal, alas kaki, jangan menyalami orang di jalan, maksudnya, tak usah mengharapkan diantar. Itu semua tak perlu. Sudah ada yang menyertai. Murid-murid yang 70 tadi, yakni siapa saja yang menjadi murid Yesus, boleh percaya akan disertai wibawa dan kekuatan Elia dan Musa juga. Lebih dari pada itu, dalam menunaikan perutusan mereka, Yang Maha Kuasa sendiri akan memperdengarkan diriNya seperti terjadi dalam peristiwa penampakan kemuliaan Yesus di gunung Luk 9:35 “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia!” Siapa yang berani mendiamkan firman ini? Inilah kiranya penalaran teologis pengutusan yang hendak disampaikan Lukas.

Maka pergi ke medan kerasulan tanpa bekal dst. sebaiknya dilihat sebagai upaya untuk membuat agar kekuatan-kekuatan tadi makin tampil dengan lebih jelas. Bila murid-murid tidak menyandarkan diri pada kelengkapan sendiri, maka wibawa kekuatan tadi akan makin nyata. Sebetulnya yang diwartakan ialah kekuatan-kekuatan yang dari atas sana itu. Jadi bukanlah semata-mata orang diperintah terjun ke medan kerasulan tanpa bekal. Ini juga tidak riil. Mana pernah ada utusan yang dianggap bisa membawa diri dengan pantas dengan cara itu? Pada zaman ini orang-orang yang dituju, baik yang intelektual, enterpreneur, maupun kaum terpojok dan orang miskin, semuanya sama-sama mau tahu apa pewarta-pewarta Kerajaan Allah bisa membawakan diri dengan pantas dan meyakinkan. Bukan hanya terdorong gairah merasul yang bisa gembos jauh sebelum sampai ke tujuan perjalanan. Kisah ini dikemas Lukas untuk membuat pembaca berpikir mengenai apa itu “pengutusan” (perihal menugasi) dan “perutusan” (keseluruhan tugas) siapa saja yang mengaku murid Yesus. Dalam prakata Injilnya, Lukas berkata, ia menyusun kisah-kisahnya dengan teratur atas dasar penelitian yang seksama sehingga pembacanya yang mencintai Tuhan itu – sang Teofilus – mengerti bahwa yang diajarkan kepadanya itu sungguh benar (Luk 1:3-4). Ancar-ancar hermeneutik yang diberikan Lukas sendiri itu berguna untuk memahami Injilnya, juga bagi pembaca zaman ini.

MEMBAWAKAN “DAMAI SEJAHTERA”
Murid-murid diminta menyampaikan “damai sejahtera” bagi rumah yang mereka datangi. Bila diterima, damai sejahtera itu akan tinggal di sana. Bila tidak, akan kembali kepada mereka. Apa artinya? “Menyampaikan damai sejahtera” itu ungkapan yang diangkat dari tatacara mengirim surat dan menyampaikan pesan lewat seorang utusan. Lazimnya surat mulai dengan rumusan “damai sejahtera” dari pengirim bagi penerima. Masih bisa dilihat pada awal surat-surat Paulus, Yakobus, Petrus, Yudas dan surat kedua Yohanes. Pesan seperti ini perlu dilisankan oleh utusan di hadapan penerima agar isinya menjadi resmi. Bandingkan dengan surat wasiat yang mulai berlaku setelah dibacakan utuh oleh pelaksana di hadapan ahli waris. Warta datangnya dia yang dinanti-nantikan itu baru menjadi resmi bila dilisankan, diperdengarkan, dipersaksikan oleh utusan di hadapan yang dituju. Oleh karena itu peran utusan pembawa berita amat penting. .

Menurut tatacara, setelah berita diterima, utusan akan dijamu. Gemanya ada dalam Luk 10:8. Orang hanya perlu melapor bahwa sudah dijamu. Itu tandanya pesannya diterima baik-baik. Bagaimana bila pesan tidak digubris dan bahkan utusan dipermalukan? Dalam petikan hari ini dipakai ungkapan “salam yang kembali” kepada utusan, disimpan untuk lain waktu. Di sini ada pengajaran yang baru. Murid disuruh mengebaskan debu yang menempel pada kaki (ayat 11). Ini bukan ritual mengutuk atau tindakan simbolik memutuskan hubungan. Yang dimaksud ialah agar utusan tadi tak usah menjelaskan pernah datang di situ tetapi ditolak, tidak dijamu. Kota itu masih diberi kesempatan lain dan tidak langsung dicoret. Jadi salam yang kembali itu nanti bisa disampaikan kembali. Sekarang orang-orang diingatkan saja bahwa Kerajaan Allah sudah dekat dan biar mereka berpikir. Orang dulu memandang kehidupan ini pada dasarnya terancam kekuatan-kekuatan gelap yang siap menerkam. Bila Yang Mahakuasa membiarkan, daya-daya perusak itu akan datang menghunjam. Berpegang pada Kerajaan Allah membuat orang terlindung dari pengaruh jahat tadi. Menolaknya sama saja dengan tidak mencari perlindungan terhadap kekuatan-kekuatan jahat. Kota Sodom yang hancur itu bahkan lebih ringan bebannya. Paling tidak Lot dan keluarganya diselamatkan kecuali istrinya yang menengok ke belakang belum rela melepaskannya (Kej 19:24-28).

Dari bagian kedua petikan hari ini, yakni Luk 10:17-20, dapat disimpulkan bahwa tak sedikit yang menerima baik berita yang disampaikan para murid. Tidak dikatakan mereka berhasil “mempertobatkan” orang. Bukan itu yang penting. Yang mereka ungkapkan ialah kegembiraan mendapati roh-roh takluk kepada mereka. Dan bila ditengok ayat 9, Kerajaan Allah yang sudah dekat itu disampaikan dalam ujud penyembuhan, dalam rupa tindakan membebaskan orang dari pengaruh yang jahat.

Yesus memberi tahu murid-murid bahwa ini semua ini terjadi karena nama mereka terdaftar di surga (ayat 20). Sebagai warga Kerajaan Allah mereka unggul terhadap kekuatan-kekuatan gelap. Dalam kata-kata Yesus, “Iblis jatuh seperti kilat dari langit” (ayat 18), terbanting tanpa bisa bangun lagi. Siapakah “-mu” dalam “nama-mu ada terdaftar di surga” dalam ayat 20 itu? Tentu saja dalam kisah itu rujukannya ialah ke-70 murid tadi. Tapi seperti dijelaskan di muka, yang dimaksud tentunya siapa saya yang merasa menjadi murid Yesus. Jadi siapa saya yang menjadi murid Yesus “namanya ada terdaftar di surga” dan kekuatan-kekuatan gelap takluk. Ini Berita Gembira yang patut dirayakan hari Minggu ini!

PENGUTUSAN DAN PERUTUSAN GEREJA
Di dalam pembicaraan di atas dipakai istilah “pengutusan” di samping “perutusan”. Mana yang benar dan sesuai dengan kaidah bahasa kita? Kedua-duanya bentukan yang sahih, tapi maknanya tidak sama. “Pengutusan” ada kaitannya dengan mengutus dan maknanya ialah perihal mengutus. “Perutusan” menyangkut seluk beluk tugas yang dijalankan orang yang diutus, dalam petikan hari ini, tugas mewartakan kedatangan Kerajaan Allah yang sudah dekat itu, tugas mengabarkan sebentar lagi Yesus akan lewat di situ dalam perjalanannya ke Yerusalem. Bolehkah Gereja merasa mendapat pengutusan dari Yesus? Tentu saja. Seperti dilambangkan dengan 70 orang murid tadi, siapa saja menerima pengutusan, dari zaman Gereja Perdana yang diuraikan Lukas lebih lanjut dalam Kisah Para Rasul hingga masa kini. Manakah perutusan Gereja? Dari dulu hingga kini intinya sama, yakni bersama semua orang yang berkemauan baik, ikut menjauhkan pengaruh-pengaruh jahat dalam pelbagai bentuknya yang terus mengancam kehidupan. Dengan demikian Kerajaan Allah yang mengasalkan Gereja itu makin tepercaya dan makin menjadi ruang hidup yang leluasa.

Salam,
A. Gianto