InjMgBiasa XIII-C 30 Jun 2013(Luk 9:51-62)

InjMgBiasa XIII-C 30 Jun 2013(Luk 9:51-62)

Rekan-rekan yang baik!
Bacaan dari Luk 9:51-62 bagi hari Minggu Biasa XIII tahun C berawal dengan kalimat “Ketika sudah hampir tiba waktunya Yesus diangkat ke surga, ia mengarahkan pandangannya untuk pergi ke Yerusalem.” Dalam Injil Lukas perjalanan dari Galilea menuju ke Yerusalem melewati Samaria (Luk 9:51-19:28) mendapat perhatian istimewa dan membingkai pengajaran serta tindakan-tindakan Yesus selama perjalanan tadi. Banyak bahan dalam sepuluh bab ini hanya ditemukan dalam Injil Lukas. Marilah kita dekati beberapa gagasan khas dalam bagian itu.

KE YERUSALEM
Ungkapan “mengarahkan pandangan” di sini artinya “berkeputusan/bertekad”. Jadi ditegaskan Yesus bertekad pergi ke Yerusalem. Dalam Luk 9:51 kota itu dieja sebagai “Ierousaleem”. Ini cara Lukas membicarakan kota itu dalam hubungan dengan mereka yang menolak kedatangan Yesus. Bila ditulis sebagai “Hierosolyma”, kota itu tampil sebagai tempat yang bersedia menerimanya. Pada awal perjalanan ini kota itu disebut “Ierousaleem”, tapi nanti menjelang akhir perjalanan, Luk 19:28, kota itu ditulis sebagai “Hierosolyma”. Di sana Yesus menjumpai ke dua sisi kota itu. Para pemimpin menolaknya, tetapi di kota itu pula nanti ia diterima sepenuhnya oleh Bapanya.

Kedua sisi kota itu menyertainya di sepanjang perjalanannya. Dikatakan dalam Luk 13:22, Yesus mewartakan kebaikan Tuhan dengan mengajar dari kota ke kota dan dari desa ke desa dalam perjalanan menuju ke “Hierosolyma”. Tetapi dalam Luk 17:11-19 dari sepuluh orang kusta disembuhkannya hanya satu kembali memuliakan Tuhan. Ini diceritakan terjadi dalam perjalanan menuju ke “Ierousaleem”. Tidak semua orang yang memperoleh kebaikan dapat sungguh-sungguh menerimanya.

Disebutkan juga dalam Luk 9:51 bahwa hampir tiba waktunya ia “diangkat ke surga”. Dalam teks Yunaninya, pengertian ini diungkapkan dengan kata “analeempsis”, harfiahnya “pengangkatan ke atas”. Ini terjadi nanti setelah mengalami penderitaan, wafat, dan kebangkitan berkat kemurahan dan perhatian Yang Mahakuasa yang disebutnya Bapa dan yang diajarkannya kepada orang banyak. Gagasan “analeempsis” menjadi lebih jelas bila dijajarkan dengan “exodos”, yakni “tujuan perjalanan” yang disebut dalam Luk 9:31 dalam peristiwa penampakan kemuliaan di gunung Luk 9:28-36. Tujuan perjalanan yang dimaksud di situ ialah kota Yerusalem, ditulis dalam bentuk “Ierousaleem”, sama seperti Luk 9:51, yakni kota yang akhirnya kurang bersedia menerimanya. Namun demikian, ia malah diangkat ke atas, ke surga, justru ketika orang-orang yang didatanginya makin keras menolaknya! Inilah pokok pikiran yang hendak disampaikan Lukas kepada pembaca Injilnya.

Menuju Yerusalem yang tampil dengan dua sisi itu memberi arti lebih kepada semua kisah dan pengajaran yang disampaikan Lukas dalam Luk 9:51-19:28. Pembaca zaman kini sebaiknya memakai gagasan “menuju ke tempat ia ditolak orang-orangnya, tetapi diluhurkan Bapanya” itu sebagai makna dasar dari tiap kejadian dan pengajaran yang disampaikan sepanjang perjalanan tadi.

MENYAMPAIKAN “AJARAN YANG BENAR”?
Pada awal perjalanan tadi diceritakan Yesus mengutus beberapa murid mendahului ke sebuah desa di Samaria untuk mempersiapkan kedatangannya di situ. Lukas memakai motif tentang utusan mengabarkan kedatangan tokoh keramat atau Tuhan sendiri. Motif ini juga dijumpai dalam pengisahan Injil-Injil mengenai Yohanes Pembaptis yang datang mendahului Yesus. Pembaca dari zaman dulu yang masih peka akan motif ini langsung mengerti bahwa Yesus yang kedatangannya didahului pewartanya itu ialah seorang tokoh keramat. Nanti sebelum mengadakan perjamuan terakhir, Yesus mengutus dua orang muridnya untuk menyiapkan ruang perjamuan (Luk 22:8-13, lihat Mrk 14:13-16, Mat 26:18-20). Sekali lagi, pembaca diajak memahami peristiwa perjamuan malam itu sebagai peristiwa keramat.

Bagaimana dengan kedatangan Yesus ke sebuah desa di Samaria? Di situ orang Samaria tidak mau menerimanya. Mereka menolak. Dalam alam pikiran dulu, penolakan terhadap tokoh keramat serta-merta mendatangkan kutukan. Karena itu Yakobus dan Yohanes ingin berbuat seperti yang lazim dilakukan, yakni mengucapkan kutukan terhadap orang Samaria (ayat 54). Dalam pandangan umum orang Yahudi, orang Samaria memang patut dikutuk karena tidak lagi memeluk “ajaran yang benar”, maksudnya, ajaran agama Yahudi (entah yang di Galilea atau yang ada di Yudea/Yerusalem sendiri). Orang Samaria yang tinggal di antara kedua wilayah tadi dianggap murtad. Dalam Perjanjian Lama diceritakan orang Samaria memusuhi Nabi Elia sang utusan Tuhan dan oleh karenanya dua kali pasukan yang dikirim raja untuk menangkapnya hancur binasa kena kutukan api yang datang dari langit! (2 Raj 1:10 dan 12). Yakobus dan Yohanes berpikir dengan cara itu. Orang Samaria mereka anggap tak mau “menerima ajaran yang benar” yang dibawakan Guru mereka dan oleh karenanya patut dikutuk seperti dulu. Tetapi sikap intoleran ini tidak disetujui Yesus. Ia malah menegur mereka.

Berpikir dalam kerangka menyampaikan “ajaran yang benar” dengan sikap intoleran mengurung orang dalam angan-angan “mempertobatkan”, “mengancamkan kutukan”. Sering maksud baik berakhir dengan mengutuk orang yang tak berpendapat sama, terang-terangan atau secara tak langsung menjelek-jelekkan keyakinan orang lain. Dalam bacaan hari ini dikisahkan Yesus melepaskan ikatan-ikatan seperti itu. Ia mengajak orang mengikuti dia untuk mewartakan Kerajaan Allah. Ia mengajarkan Tuhan itu Maharahim. Oleh karenanya orang yang mau mengabarkan kehadiranNya tidak boleh mengancamkan hukuman, apalagi mengutuk orang atas namaNya.

MENGIKUTI PANGGILAN DENGAN HATI MENDUA?
Bagian kedua dari petikan hari ini (ayat 57-62) menceritakan tiga pembicaraan perihal mengikuti Yesus dan mengabarkan Kerajaan Allah. Rasa-rasanya mengikuti Kristus dan mengabarkan Kerajaan Allah itu menuntut penyerahan diri total sejak awal. Betulkah demikian?

Orang yang pertama dalam kisah itu memang menyatakan diri ingin mengikutinya. Yesus menegaskan, mengikutinya berarti bersedia berjaga terus-menerus tanpa mengharapkan istirahat. Suatu perkara yang melampaui kemampuan manusiawi? Nanti ketiga murid yang diajak menemaninya di Getsemani jatuh tertidur dan baru bangun ketika para penangkap datang. Memang mengikuti dia tak dapat dijalankan sebagai ikhtiar manusiawi belaka. Maka mengikutinya hanya dapat terjadi bila ada kekuatan dari atas sana dan yang bersangkutan membiarkan diri dibawa kekuatan ini. Yesus sendiri disertai Roh ketika berada di padang gurun ketika menghadapi pilihan hidup: ikut Tuhan atau mengabdi Iblis (Luk 4:1).

Orang yang kedua bersedia mengikuti, tetapi minta kelonggaran waktu karena ada kewajiban mendesak, yakni menguburkan ayahnya. Maksudnya masih ada kewajiban moral dan sosial yang sulit dielakkan. Orang ini mau mengikutinya tetapi nanti saja bila sudah bebas dari kewajiban yang tak dapat ditinggalkan begitu saja. Jawaban Yesus berupa pepatah, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati”. Apa arti pepatah ini? Orang mati kan tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi mengubur. Jadi dengan pepatah itu hendak dikatakan, “Nonsense! Jangan berpikir begitu! Kalau engkau menunggu, bisa-bisa kehilangan kesempatan dan malah ikut mati dan tidak bisa berbuat bagi orang yang sebetulnya mau kau perhatikan. Lakukan kewajibanmu dan buatlah itu sebagai cara mengikuti aku sehingga sekarang juga engkau bisa mulai. Demikian juga engkau dapat mengabarkan Kerajaan Allah!” Kewajiban manusiawi tidak dilepaskan, melainkan dijadikan bagian dalam mengikuti dia dan mewartakan Kerajaan Allah, yakni panggilan mewartakan iman bahwa Tuhan itu Maharahim.

Dua pembicaraan di atas terdapat juga dalam Injil Matius (Mat 8:19-22) dengan pengertian yang sama. Yang ketiga, Luk 9:61-62, hanya ada dalam Injil Lukas. Seperti halnya yang pertama, orang yang ketiga ini menyatakan diri mau mengikuti Yesus, tetapi ingin berpamitan terlebih dahulu dengan keluarganya. Sekali lagi jawaban Yesus berupa pepatah yang intinya mengatakan orang yang mendua perhatiannya tidak cocok bagi Kerajaan Allah. Bagaimana penjelasannya?

Perhatian mendua memang tidak membuat orang tenang, khususnya dalam mengikuti panggilan. Namun penyelesaiannya bukanlah dengan cara menyingkirkan salah satu. Memang untuk sementara waktu bila yang satu dilepas orang akan merasa dapat lebih memusatkan diri. Tetapi nanti akan muncul perkara lain yang lambat laun akan membelah perhatian. Penyelesaian yang diajarkan dalam dialog ini bukan ditujukan untuk menghilangkan perhatian yang sudah ada dan mengisi dengan kepedulian baru, dengan tekad mengikuti Yesus dan niatan mengabarkan Kerajaan Allah. Yang diajarkan ialah menyatukan perhatian dan kepedulian yang sudah ada dan membuatnya makin menjadi bentuk nyata mengikuti Yesus dan mengabarkan Kerajaan Allah. Kata orang sekarang, mengintegrasikan kehidupan dengan panggilan mengikuti Kristus dan wartanya tentang Kerajaan Allah.

Ikut mewartakan Kerajaan Allah berarti juga mulai belajar mengenali kerahiman Tuhan dari dalam, dari kenyataan sehari-hari yang ada dalam hidup ini dengan mengikuti jejak dia yang menjadi utusannya, langkah demi langkah. Dibaca dengan latar teguran Yesus kepada murid yang mau mengutuk orang Samaria, langkah pertama dalam mengikuti jejaknya ialah menjauh dari sikap dan perbuatan intoleran. Menjauhi sikap intoleran itu menghormati hak manusia untuk memperoleh ruang hidup yang leluasa. Juga menaruh orang lain pada kedudukan yang setara, bukan hanya memberi konsesi, bukan sekadar mentolerir perbedaan.

Salam hangat,
A. Gianto

InjMgBiasa XI C- 16 Jun 2013 (Luk 7:36-8:30)

InjMgBiasa XI C- 16 Jun 2013 (Luk 7:36-8:30)

Rekan-rekan yang baik!
Injil Minggu Biasa XI tahun C (Luk 7:36-8:30) menceritakan bagaimana Yesus datang ke perjamuan di rumah seorang Farisi yang bernama Simon. Di kota itu, seperti disebutkan dalam Injil, ada seorang perempuan yang dikenal sebagai pendosa. Ketika mendengar tentang Yesus, ia pun datang membawa botol pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pun datang membasahi kakinya dengan air matanya, menyekanya dengan rambutnya, lalu diciumnya kakinya dan diminyakinya Simon orang Farisi yang mengundang Yesus tadi berkata dalam hati, jika Yesus itu nabi pasti tahu bahwa perempuan itu seorang pendosa. Yesus mengetahui pikiran Simon. Mulailah sebuah pembicaraan antara tuan rumah itu dengan Yesus. Yesus menceritakan sebuah perumpamaan. Ada orang yang berhutang 50 dinar dan orang lain yang berhutang 500 dinar, jadi sepuluh kali lipat. Ketika jelas kedua-duanya tak bisa melunasinya, pemilik uang menghapus hutang mereka. Lalu Yesus menanyai Simon orang Farisi tadi: siapa yang bisa dikatakan “lebih mengasihi” dari antara keduanya? Tentu saja, jawab Simon, orang yang berhutang lebih besar. Jawaban ini dibenarkan Yesus dan dipakai untuk menjelaskan keadaan perempuan pendosa tadi. Ditegaskan oleh Yesus bahwa perempuan tadi telah diampuni dari dosanya yang banyak itu karena ia telah mengungkapkan kasih yang besar.

SIAPAKAH PEREMPUAN ITU?
Kisah seorang perempuan yang datang mengurapi Yesus dalam sebuah perjamuan ini mirip-mirip dengan yang diceritakan dalam Mrk 14:3-9, Mat 26:6-13, dan Yoh 12:1-7. Tetapi semakin disimak semakin kentara perbedaannya. Dalam Injil Lukas, peristiwa ini terjadi di sebuah kota di Galilea, di utara dan jauh-jauh hari sebelum Yesus datang di Yerusalem. Dalam ketiga Injil yang lain, peristiwa yang mirip itu terjadi di Betania, di dekat Yerusalem, menjelang hari-hari Yesus mengalami penolakan oleh para pemimpin dan disingkirkan oleh mereka.  Namun lebih penting lagi, tidak seperti dalam Injil Lukas, perempuan yang mendekat ke Yesus itu bukan seorang pendosa, melainkan seorang yang datang menghargai Yesus dengan mengurapinya dengan minyak yang mahal. Menurut Lukas perempuan tadi menangis lalu mengurapi kaki Yesus; tapi dalam Injil Markus dan Matius sang perempuan mengurapi kepala Yesus tanpa menangis. Injil Yohanes bahkan menyebutkan bahwa Maria mengurapi kaki dan kepala Yesus dan menyeka dengan rambutnya. Selain Lukas, ketiga Injil tadi menampilkan pernyataan Yesus menanggapi amatan orang bahwa perempuan itu boros belaka dengan menegaskan, yang dilakukan perempuan tadi ialah melembangkan pemakamannya nanti. Ia pun menambahkan bahwa peristiwa ini akan dikisahkan untuk mengenang sang perempuan tadi – maksudnya tindakannya memperlambangkan penguburannya nanti. Pernyataan ini tidak ada dalam Lukas. Selain itu semua, menurut Lukas, tuan rumah yang mengundang Yesus ialah seorang Farisi yang bernama Simon. Markus dan Matius memang menyebut tuan rumah yang bernama Simon, tetapi agaknya bukan orang yang sama. Dari perbandingan ini dapat disimpulkan, meskipun ada kemiripan di antara kisah-kisah itu, peristiwa yang ditampilkan dalam Injil Lukas bukanlah peristiwa yang diceritakan dalam ketiga Injil lainnya.

Baik dicatat bahwa perempuan pendosa yang diceritakan Lukas ini bukanlah Maria Magdalena yang memang disebut-sebut dalam bagian kedua petikan kali ini (Luk 8:2) dan jelas pula bukan Maria saudara Marta dan Lazarus (Yoh 12:3). Kisah perempuan ini tidak dapat dibaca dengan memancangkannya pada seorang tokoh yang dikenal pembaca dulu maupun kini. Justru karena tidak dapat dikenali lagi siapa dia maka kisah ini dapat lebih berarti bagi umum.

APA WARTANYA?
Semakin dibaca dan didalami, kisah ini tampil bukan sebagai kisah bertobatnya seorang perempuan pendosa, melainkan sebagai pengajaran untuk menumbuhkan kepekaan batin akan kebesaran sang Maharahim. Bagaimana penjelasannya?

Melihat ada perempuan pendosa yang dikenal di kota itu datang menangis dan mengurapi kaki Yesus, maka Simon, tuan rumah yang mengundang Yesus berpikir, kalau sungguh orang yang dihargai ini orang “pintar” – nabi – pasti tahu siapa dan apa yang terjadi! Maka lihat saja! Tentu saja tokoh Farisi ini orang terpandang di kota itu. Orang baik-baik. Orang saleh. Jauh dari kawanan orang dosa. Dan ia mau tahu apa nabi kita ini tahu siapa yang mendekatinya. Dalam hati kecil, pembaca zaman dulu dan zaman kini bisa jadi akan juga berpikir seperti Simon.

Ada ironi. Yesus bukan hanya saja tahu bahwa perempuan yang datang menangis dan mengurapi kakinya itu pendosa, tetapi juga mengetahui isi pikiran Simon yang ingin menjajaginya! Di sini jalan ceritanya beralih menjadi kisah pengajaran bagi Simon. Tentunya juga pengajaran bagi siapa saja yang berpikir dan bersikap sebagai Simon, bagi semua orang yang beranggapan sudah berada pada rel keselamatan, merasa aman, tak perlu meributkan diri dengan keadaan orang lain. Sebagaimana orang yang telah merasa yakin mendapat keselamatan dan serba beres, Simon juga merasa perlu menarik garis jelas yang memisahkan kaum saleh seperti dia dengan para pendosa seperti perempuan yang dikenal sebagai pendosa itu. Ia juga yakin bahwa semua orang baik-baik, bila betul saleh, akan menarik garis batas dengan para pendosa. Diharapkannya Yesus juga akan begitu.

Sebelum mendalami lebih jauh, baik diingat bahwa sepanjang  kisah ini Yesus tidak mencela Simon. Ia hanya diajak berpikir lewat sebuah perumpamaan mengenai dua orang yang sama-sama dihapus hutangnya, tapi yang satu berhutang sepuluh kali lipat dari yang lain (Luk 7:41-42). Simon ditanya siapa yang lebih mengasihi orang yang menghapus hutang tadi. Jawabnya tentu yang hutangnya lebih besar.

Perumpamaan yang diceritakan Yesus kepada Simon itu kerap diartikan sebagai ajaran bahwa orang yang berhutang lebih besar tadi seharusnya lebih berterima kasih bila hutangnya dihapus. Dengan kata lain, orang yang berdosa besar sepatutnyalah lebih mengasihi Tuhan bila dosanya diampuni. Tapi maksud perumpamaan itu lain. Kedua orang yang berhutang tadi sebenarnya berhubungan baik – mengasihi – pemilik uang. Katakan saja, ada dua orang yang memang dekat dengan Tuhan meski satu ketika mereka berbuat salah terhadapNya. Yang satu jauh lebih besar kesalahannya dari yang lain. Tapi kedua-duanya dihapus hutangnya. Besar kecilnya tak dihitung lagi. Bila Tuhan sama-sama mengampuni dua orang yang jauh berbeda kesalahannya, yang satu sepuluh kali lihat dari yang lain, maka apa yang dapat disimpulkan mengenai sikap kedua orang yang membuat mereka diampuni? Jawabnya tentu saja karena mereka masih tetap mengasihi Tuhan meski telah menyalahiNya. Tapi karena yang satu hutangnya – dosanya – sepuluh kali lipat dari yang lain, tentunya dia lebih merasa sedih telah menyalahi Tuhan jauh lebih dari yang lebih sedikit hutangnya.

Dalam kisah ini, “mengasihi” dapat dibaca kembali dengan menerapkannya pada kepekaan batin seorang pendosa yang merasa pilu telah melakukan kesalahan, telah mengurangi kebesaran Tuhan dengan perbuatan yang kurang baik. Dan inilah yang terjadi pada perempuan pendosa yang datang kepada Yesus di rumah Simon tadi. Inilah cara berpikir yang mendasari perumpamaan yang diceritakan untuk menajamkan batin Simon. Dan Simon pun akhirnya menangkapnya.

PENGAJARAN BAGI SEMUA
Pengajaran bagi Simon ini juga pengajaran bagi semua orang seperti dia. Tetapi untuk memperjelas Lukas juga menyampaikan perkataan Yesus yang menerangkan tindakan perempuan tadi (Luk 7:44-47). Sikap Simon diperhadapkan dengan sikap perempuan tadi. Perempuan pendosa tadi mengungkapkan kepiluan hatinya dengan menangis dan membasahi kaki Yesus dengan air matanya. Tapi Simon sang tuan rumah tidak memberi air pada Yesus untuk berbasuh kaki. Memang adat orang di sana dulu bila masuk rumah untuk dijamu, tetamu diberi air oleh pelayan untuk berbasuh kaki. Atau bila tamu amat dihormati maka tuan rumah sendiri akan memberikan kendi air tadi. Dalam kisah ini justru yang menyambut kedatangan Yesus ialah pendosa dan bukan hanya dengan air pembasuh, melainkan dengan air mata. Perempuan itu berkali-kali mencium kaki Yesus. Penghargaan sebesar ini tidak diungkapkan oleh Simon. Bahkan ungkapan keramah-tamahan yang lazim, yakni memeluk tamu yang datang (“mencium” cara orang di sana) tidak dilakukan Simon. Juga penghargaan khusus dengan mengurapi kepala tamu tidak terjadi. Tapi perempuan itu bahkan mengurapi kaki Yesus dengan minyak wangi. Perbandingan seperti ini dimaksud juga sebagai ajaran bagi orang banyak. Yesus hendak menunjukkan bahwa ada orang yang amat mengasihi Tuhan yang entah karena apa telah menyalahi Dia. Orang seperti ini akan merasa pilu dan sedih bila mendapati diri berdosa. Ia menyadari bahwa kesalahannya itu menyakitkan bagi Tuhan. Tetapi ada juga orang yang tak sepeka itu. Simon dan siapa saja yang seperti Simon. Dan kepada Simon ada ajakan untuk berkaca pada rekan yang lebih berkepekaan batin tadi. Itulah inti kisah ini.

Kebesaran Tuhan tersedia bagi siapa saja. Besar kecilnya dosa bukan ukuran bagi kerahimanNya. Lalu apa arti pengampunan? Injil Lukas justru memusatkan pada orang yang diampuni sendiri. Dosa itu menyakitkan, dan orang yang diajak untuk ikut merasakan betapa pedihnya dosa itu bagi Tuhan. Yesus dalam tampilan Injil Lukas ini amat berani. Diajarkannya, pengampunan itu terjadi ketika orang bisa dan mau ikut mengalami kepedihan Tuhan. Terlihat bagaimana Lukas menampilkan kekhasan pribadi Yesus dan pengajarannya.

Salam hangat,
A. Gianto

InjMgbiasa X- th C 9 Jun 2013 (Luk 7:11-17)

InjMgbiasa X- th C 9 Jun 2013 (Luk 7:11-17)

Rekan-rekan yang baik!

Petikan Injil Lukas kali ini (Luk7:11-17) mengisahkan bagaimana Yesus tergerak hatinya melihat penderitaan seorang ibu yang sudah janda yang kehilangan anak satu-satunya. Anak itu dibangkitkannya dan diberikannya kembali kepada ibunya. Bagaimana menarik hikmat dari kisah ini?

Di antara para penulis Injil, hanya Lukas-lah yang mengisahkan peristiwa ini. Tapi tentunya kejadian ini disaksikan murid-murid yang menyertai Yesus  berjalan dari kota ke kota. Bayangkan, selama perjalanan itu terjadi pelbagai peristiwa yang membuat orang-orang dan khususnya para murid terdekatnya semakin menyadari siapa sebenarnya Yesus ini. Ia sudah dikenal sebagai orang yang pengajarannya mengena di hati dan benak orang banyak, ia juga berlaku sebagai penyembuh, malah ia dikenal memiliki kekuatan mengeluarkan roh jahat dari orang yang kerasukan. Jadi bukan sebarang orang. Karena itu ia semakin diikuti.

Tetapi lebih penting lagi Yesus juga semakin dikenal sebagai orang yang direstui Yang Mahakuasa sendiri untuk mendatangi orang-orang yang membutuhkan bantuan. Ia semakin dikenali sebagai utusan dari atas sana untuk melepaskan orang-orang dari pelbagai kesulitan.

Lukas mengaitkannya peristiwa ini dengan kisah dari Perjanjian Lama yang sudah amat dikenal orang pada zaman itu, yakni kisah Elia menghidupkan kembali anak seorang janda di Sarfat seperti didapati dalam 1Raj 17:17-24 seperti terdapat dalam bacaan pertama Hari Minggu ini.  Setelah menghidupkan kembali anak janda dari Nain itu, Yesus pun “menyerahkannya kepada ibunya”. Tindakan ini persis sama dengan yang diceritakan mengenai Elia setelah menghidupkan kembali anak janda di Sarfat, lihat 1Raj 17:23. Pembaca awal Injil Lukas akan langsung mengerti bahwa Lukas hendak menjajarkan kedua peristiwa ini. Oleh karena itu dalam Luk 17:16 ditegaskan, orang-orang yang menyaksikan penghidupan kembali anak di Nain itu menyadari Yesus sebagai seorang besar yang tampil di tengah-tengah mereka. Jelas mereka memahami Yesus sebagai Elia, sang nabi besar yang kini hadir kembali.

Kisah Yesus menghidupkan kembali anak seorang janda di Nain ini disusun Lukas bukanlah semata-mata sebagai kisah mukjizat melainkan pula sebagai ungkapan simpati, belarasa Yesus terhadap ibu yang sudah janda itu. Lukas menceritakan seluk beluk yang biasanya tidak terekam dalam kisah mukjizat yang biasa. Terbaca “…anak tunggal ibunya yang sudah janda,…” (ayat 13a). Kemudian, “ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan.” (ayat 13b). Dan akhirnya, “..lalu Yesus menyerahkannya kepada ibunya.” (ayat 15) Pusat perhatian petikan ini pada perjumpaan Yesus dengan sang ibu tadi, bukan terutama pada penghidupan kembali anak yang mati itu.

Pembaca zaman kini sebaiknya berusaha mendekati warta petikan ini dengan menyadari dua hal berikut ini:

Pertama. Lukas menampikan Yesus sebagai utusan ilahi yang penuh kuasa. Kata-katanya cukup untuk memanggil kembali orang yang sudah mati: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” (ayat 14). Dan langsung terjadi demikian. Kematian pun tidak dapat menghalangi pendengaran anak muda itu. Pembaca zaman ini bisa pula mengingat kisah Yesus memanggil kembali Lazarus  (Yoh 11). Bahkan badan yang sudah mulai membusuk empat hari di dalam kubur pun (Yoh 11,17. 39) tidak menghalangi pendengaran kata-kata utusan ilahi. Orang yang sudah mati mendengar kata-katanya dan menaatinya. Lazarus keluar dari kubur. Dan dalam peristiwa di Nain, anak muda itu bangun dari kerandanya! Warta Injil jelas: kata-kata yang berasal dari Yang Mahakuasa yang disampaikan oleh utusan-Nya memiliki daya yang amat besar. Orang dihimbau untuk menyadari dan mempercayai kekuatan sabda ilahi.

Kedua, pembaca zaman sekarang akan menarik manfaat dari petikan Lukas kali ini bila mencoba mengenali bagaimana sang utusan ilahi itu ialah seorang manusia. Bisa ikut merasakan kesedihan, da tidak tahan melihat seorang sesama yang kehilangan satu-satunya harapan kehidupannya – anak tunggal sang janda tadi. Inilah tokoh yang diwartakan Injil sebagai yang diikuti orang banyak, dan kita juga di zaman lain, di tempat lain. Keilahian menjadi nyata. Bukan dalam sisi yang mengagetkan, yang menakjubkan, melainkan sisi yang amat manusiawi.

Ada satu seluk beluk lain yang menarik bagi tafsir. Peristiwa dalam Injil kali ini dikisahkan terjadi di kota yang bernama Nain (Luk 7,11) – lebih rinci lagi disebutkan “pintu gerbang kota” (ayat 12). Kota itu diketahui letaknya, yakni sekitar 10 km sebelah tenggara Nazaret. Jadi di wilayah tempat asal Yesus. Namun yang ditonjolkan bukannya wilayah geografi, melainkan wilayah rohani. Penjelasannya begini. Nama kota itu, Nain, artinya “menyenangkan”, “enak dipandang”, begitulah. Pembaca zaman itu akan segera menaruh kisah ini dalam latar ini. Kejadian yang disampaikan Lukas ini memberi kesenangan, enak diceritakan, didengar, semakin dikisahkan semakin mendatangkan nikmat. Mengapa? Karena kisah ini dengan mudah menjadi jalan untuk memandangi bagaimana Tuhan “tergerak hari-Nya oleh belas kasihan” dan menjalankan yang dapat dijalankannya: mendekati usungan, menyentuhnya, dan memanggil anak mudah yang sudah mati itu untuk bangun!

Disebutkan semua ini terjadi di “pintu gerbang kota”. Tempat yang biasa disebut demikian itu dalam Kitab Suci bukan hanya pintu atau gapura kota saja, melainkan pula pelataran, tempat terbuka yang ada di muka dan di belakangnya. Di tempat seperti itulah biasa orang-orang berkumpul dalam kesempatan penting. Dulu “pengadilan”, “pertikaian hukum” terjadi di “pintu gerbang” kota. Di situ sang penguasa kota duduk menyaksikan pembicaraan, pertikaian, mendengarkan protes dan permohonan. Di situ pula kebesaran dan kemampuan memimpin sang pembesar terlihat. Ini semua ikut disampaikan Lukas dengan menyebutkan kejadian itu terjadi di pintu gerbang. Yesus ditampilkan sebagai pemimpin yang hadir menyaksikan kejadian ini dan bertindak sebagaimana layaknya seorang yang wajib melindungi orang-orang yang mendekat padanya. Namun lebih dari itu. Dalam kisah ini Lukas amat cerdik. Sang pemimpin, Yesus, bukannya didatangi orang-orang, melainkan mendatangi yang membutuhkannya. Inilah yang ditonjolkan Injil kali ini.

Salam hangat,
A. Gianto